HILANGNYA LAGU ANAK INDONESIA (DEKADE 10 )

MUNCULNYA  LAGU-LAGU DEWASA & SEMPITNYA MEDIA PUBLIC

SEHINGGA MEMPENGARUHI HILANGNYA

LAGU ANAK-ANAK

BAB      I

PENDAHULUAN

  1. I. LATAR BELAKANG

1.1 Alasan Pemilihan Judul

  1. Keperdulian akan masa anak-anak dewasa ini banyak terkontaminasi   dengan hal-hal yang tidak normatif  dengan munculnya beberapa transformasi informasi dikalangan mereka.
  2. Dunia anak yang tidak kita temukan lagi dan berbeda di masa kita tumbuh kembang dengan dunia yang profosional untuk kita, seperti permainan tradisional yang bergeser dengan permaian modern yang memiliki dampak negative. Lagu-lagu masa kecil dahulu yang hilang entah kemana kini keberadaanya.
  3. Memberikan rangsangan kepada Orang tua atau adik-adik kita akan dua draf alamiayah dalam hidup, ada malam  dan ada siang, ada baik dan ada yang buruk. Akan perkembangan dunia musik dan program televisi serta lagu orang dewasa yang layak  dan tidaknya untuk mereka konsumsi.
  4. Mengenal Psikologis dunia anak dan perkembangan akalnya dalam menghapal.

1.1 Latar Belakang Masalah

“ Ibu-ibu bapak-bapak. Siapa yang punya anak
Bilang aku aku yang tengah malu sama teman-temanku
Karna cuma diriku yang tak laku-laku,”

(  lagu Wali Band ,’Cari Jodoh’ ).

Lagu itu terdengar dialunkan sekelompok murid SD se- pulang sekolah, begitu riangnya.  Lalu timbul pertanyaan, kemana lagu Cicak-cicak di Dinding, Abang Tukang Bakso. Bintang Kecil, Aku Seorang Kapiten, Naik-Naik Ke Puncak Gunung, Aku Tukang Pos,  atau lagu ‘ Pergi Tamasya’.

Perkembangan musik tanah air ikut mewarnai dan mempengaruhi konsumtif masyarakat umumnya, penikmat musik baik mereka yang professional maupun hanya sekedar penikmat musik biasa saja. Bagi mereka yang memang menggeluti dunia entertainment atau menjadikan musik sebagai industrial dalam mengais rezeki.

Munculnya group-group band baru yang lebih kreatif membawa dampak kepada nilai jual dan promosi group tersebut dalam memasarkan materi lagu yang mereka produksi. Salah satu mediasi promo yang mereka tempuh, adalah televisi. Sehingga masayarakat dengan mudah menerima informasi lagu tersebut, yang hampir setiap saat diputar. Segmen audiens pun dikesampingkan, bahkan segala umur dapat menyaksikan dan mendengar materi lagu mereka. Terlebih maraknya penyiaran program televisi yang menyajikan program hiburan musik live, taruh saja seperti Inbox ( SCTV ) pelopor program tersebut, Dahsyat ( RCTI ), Dering                              ( Trans TV ),dan lain sebagainya. Belum lagi, program penunjang lainnya. Inti dari itu semua, dimana ada sela bagi mereka mempromosikan group dan materi lagunya di situ mereka memberikan performance dan materi lagu mereka.

Lirik atau materi lagu yang mereka ciptakan harus bisa diterima audiens, dan easy listening. Tak elak, kalangan anak-anak dapat menerima materi lagu mereka yang ringan dengan materi lagu sederhana, sehingga mudah dihapal. Yang sering terdengar seperti Wali ‘ Cari Jodoh’, ST 12’PUSPA’, Project Pop ‘BATAL KAWIN’, Ungu’HAMPA’,Atau materi lagu lainnya, dan satu kesuksesan musik dari si pembawa atau pelantun yakni nama group yang mudah dingat pula.

1.3. Rumusan Masalah Penelitian

Munculnya group Band dan Industri musik yang menjanjikan peluang bisnis, menjadi sebuah alasan para investor atau pemilik modal mengais laba yang melimpah. Begitu pula mereka para group band atau penyanyi solo berusaha dan berupaya menciptakan satu product musik yang dapat diterima pasaran atau audiens. Serta media promosi yang tidak ada batasan audiens. Dengan bermodal kreatifitas dalam menciptakan lagu serta aransement musik yang mudah diingat masyarakat dan konsep musik yang berbeda atau memanfaatkan moment peristiwa tertentu menjadi modal dasar bagi insan musik untuk meraup untung dari penjualan Ring Back Tone ( RBT ), Nada Sambung Pribadi ( NSP ), atau nilai kontrak yang cukup menggiurkan untuk setiap undangan acara komersial tertentu, hal ini yang memotifasi para pelaku musik untuk berupaya dan bahkan cendrung memaksakan melangkah ke industri musik.

Seiring dari itu semua, dengan munculnya group band atau single album di blantika musik Indonesia menjadi sebuah nilai komersial bagi setiap media publik untuk membuat sebuah program yang mampu menarik para sponsor memasang media promosi di stasiun televisi mereka, dengan tarif yang beraneka disetiap jedah pariwara atau program acara live musik yang mengundang audiens yang tidak sedikit, hingga akhirnya menaikan rating program dan stasiun televisi mereka, hingga pada akhirnya menjadi acara Favorit, dengan begitu harga jual media spot iklan menjadi mahal.

Dari sinilah semua berawal, peluang investasi yang menjanjikan serta nilai jual yang cukup mudah bagi setiap media publik, seperti Radio dan Televisi untuk membuat program komersial atau live musik, hingga akhirnya sekmen media publik untuk anak-anak menjadi amat terbatas, dan program acara yang diketengahkan oleh stasiun televisi memaksa anak-anak nasional tidak menganal dunia mereka sendiri.

Walau pun ada program musik anak atau ajang kompetisi untuk mereka menjadi Publik Figur di salah satu stasiun televisi swasta, jauh dari nilai ideal untuk anak-anak itu sendiri, mereka dipaksa untuk mengenal lagu-lagu dewasa dan penuh nuansa cinta, yang mereka pun awam tentang makna dari materi lagu itu sendiri. Program tersebut secara komersial perlu diacungi jempol, dari polling SMS yang mereka sediakan dengan tarif dukungan bagi mereka para audiens di seluruh tanah air yang mendukung calon artis pilihannya, mereka yang memperoleh polling sms terbanyak, itulah yang menjadi calon artis cilik pendatang baru, penilaian untuk mereka para calon artis cilik pun tidak objektif, hanya dilandasi nilai pencapaian tarif polling sms tersbut. Belum lagi pemasangan iklan,  tetapi dari sudut akademis jauh dari target

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian tersebut, adalah  ;

  1. Mengetahui lebih dalam lagi dan pencarian informasi lagu-lagu anak tempo dahulu sebagai refrensi dan memori atau nuansa-nuansa itu yang hilang saat ini.
  2. Membuka wacana kita akan nilai negative dan positif dari penayangan program televisi bagi semua, khusunya anak-anak agar tidak mudah terkontaminasi dengan sesuatu hal yang mereka belum sampai pengatehuannya tentang itu.
  3. Menjadikan refrensi tersebut sebagai mediasi untuk mereka insan musik, baik industri maupun pelaku musik itu sendiri, memahami arti sebuah filter dan transfer informasi yang tidak bisa mereka kesampingkan, bahwa di negara ini ada generasi muda yang perlu mendapatkan hak mereka sebagai anak nasional yang serat dan masih terlalu dini untuk memilih dan memilah materi dan program acara apa yang pantas untuk mereka.
  4. Berupaya menjelaskan atau memberikan rangsangan ( impuls ) kepada para pencipta lagu anak-anak untuk berupaya kembali dan bersemangat dalam menciptakan lagu anak-anak kembali.
  5. Membuka wacana Publik akan Program Televisi yang dibuat semata demi keuntungan yang melimpah, dan egoisentris dari program tersebut.

1.5. Manfaat Penelitian

1.         Akademik

a. Sebagai  Pencapaian tahap penyusunan tugas penelitian dalam memenuhi  syarat tugas kuliah dan juga pengembangan ilmu komunikasi.

b.Memberikan informasi dan masukan terhadap bidang komunikasi serta masayarakat umum akan fungsinya filter dalam transfer komunikasi dan program acara televisi yang berbobot nilai akademis.

2.      Praktis:
a. Bagi Masyarakat:
Penelitian ini menghubungkan penulis dengan masyarakat         pemilih dalam pemilihan umum. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan mampu memberikan masukan yang berguna bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesadaran dalam mendampingi putra-putrinya untuk menerima materi lagu yang layak untuk dikonsumsi mereka.

b. Bagi Pembaca:
Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta bernostalgia kembali akan nuansa masa kecil mereka dahulu.

c.  Bagi Penulis:
Untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan penulis dalam    mengindentifikasi suatu masalah serta menerapkan konsep-konsep ilmu komunikasi dalam bidang pemasaran yang selama ini didapat.

BAB II

KERANGKA TEORITIK DAN RUMUSAN HIPOTESIS

II.1      Batasan  Istilah

Penggunaan bahasa dalam pembuatan makalah ini berdasarkan   penelitian, refrensi dan beberapa hasil survey. Sehingga penggunaan tata bahasa berdasarkan tema yang kami usung, untuk khalayak umumnya istilah dan bahasa tersebut sebagai acuan memacu untuk mengetahui tema apa yang kami angkat, dikarenakan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi serta dunia musik memacu kita untuk mengikuti perkembangannya serta kritis dalam menyikapi hal tersebut bagi putra-putri atau adik-adik kita yang masih duduk di bangku sekolah menengah.

II.2      Narasitas penyampaian makalah

Sudut bahasan yang kami coba ketengahkan merujuk pada beberapa sisi sosial dan Psikologi anak-anak khususnya dan masyarakat pada umumnya, sehingga apa yang kami ketengahkan merupakan issue terkini dari permasalahan  yang ada, disertai refrensi.

II.3      Hipotesis

Dengan berkembanganya dunia musik dewasa ini, disamping membawa satu nilai kreatifitas yang cukup baik bagi insane dan industri musik khusunya serta masyarakat pencinta musik tanah air pada umumnya. berkembangnya dunia musik yang mempengaruhi psikis dikalangan anak-anak serta dampak secara langsung atau tidak langsung menghapus nuansa masa anak-anak yang hilang.

BAB III

PEMBAHASAN

MUNCULNYA  LAGU-LAGU DEWASA & SEMPITNYA MEDIA PUBLIK MEMPENGARUHI HILANGNYA

LAGU ANAK-ANAK.

Kemanakah Lagu  Anak-Anak Sekarang ?

III.1        Mengenal Psikologis Anak dan Perkembangan Otaknya.

Setiap anak dilahirkan dengan 10 Milyar neuron (sel saraf di otaknya). Tiga  tahun pertama merupakan periode dimana milyaran sel glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel saraf ini membentuk ribuan sambungan antarneuron yang disebut denrite yang mirip sarang laba-laba, dan axon yang berbentuk memanjang.

Pada usia 6-7 tahun, otak anak besarnya dua pertiga otak orang dewasa, tapi memiliki 5-7 kali lebih banyak sambungan antarneuron daripada otak anak usia 18 bulan atau orang dewasa. Otak mereka memang punya kemampuan besar untuk menyusun ribuan sambungan antarneuron. Namun, kemampuan itu berhenti pada umur 10-11 tahun jika tidak dikembangkan atau digunakan. Saat itu enzim tertentu dilepaskan dalam otak dan melarutkan semua jalur atau “urat” syaraf (pathways) yang tidak termielinasi dengan baik (mielinasi adalah proses pembungkusan jalur syaraf dengan myelin yang berujud protein-lemak).

Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, yaitu :
1. otak primitif (action brain)
2. otak limbik (feeling brain)
3. otak pikir (thought brain)

Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik kita untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindera.

Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi “hadapi atau lari” (fight or flight response) bagi tubuh. Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, di saat lain otak pikir dapat “dikunci” untuk tidak melayani otak limbik dan primitif selama keadaan darurat, yang nyata maupun yang tidak.

Sedangkan otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk image, dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan.

Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur syaraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls syaraf atau perjalanan sinyal sepanjang “urat” syaraf. Karena itu, anak yang sedang tumbuh dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan perkembangannya.

Di samping itu, anak juga membutuhkan pengalaman yang merangsang pancaindera. Namun, indera mereka perlu dilindungi dari rangsangan yang berlebihan karena anak-anak itu ibarat spon. “Mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan disentuh dari lingkungan mereka. Kemampuan otak mereka untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa yang tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang.

Rangsangan dan perkembangan indera itu pada gilirannya akan mengembangkan bagian tertentu dari otak primitif yang disebut reticular activating system (RAS). RAS ini pintu masuk di mana kesan yang ditangkap setiap indera saling berkoordinasi sebelum diteruskan ke otak pikir. RAS merupakan wilayah di otak yang membuat kita mampu memusatkan perhatian. Kurangnya stimulasi, atau sebaliknya stimulasi yang berlebihan, ditambah lagi dengan gerakan motorik kasar dan halus yang tidak berkembang secara baik, bisa menyebabkan rusaknya perhatian terhadap lingkungan.

Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak limbik sudah 80% termielinasi. Setelah umur 6-7 tahun mielinasi bergeser ke otak pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara lain bertugas merespon citra visual.

Ketika menonton TV dan mendengar musik belahan otak kanan inilah yang paling dominan kerjanya.Sedangkan ketika membaca, menulis, dan berbicara, belahan otak kiri yang dominan. Tugas utama otak kiri ialah berpikir secara analitis dan menyusun argumen logis langkah demi langkah. Ia menganalisis suara dan makna bahasa (misalnya, kemampuan mencocokkan suara dengan alfabet), juga mengelola keterampilan otot halus.

Pengaruh media merupakan faktor terbesar yang membuat anak bertingkah laku serta berpikir layaknya orang dewasa, karena beragam tayangan televisi, radio maupun media cetak membuat daya pikir mereka cepat berkembang.

Menurut pendapat Psikolog Fisip USU Medan, Emil mengatakan, dari sisi psikologi dinilai kondisi seperti itu sangat tidak baik bagi kelanjutan hidup anak, karena hal-hal yang bersifat dewasa apabila diketahui sejak dini si anak akan meniru apa yang telah diterimanya.
“Apapun yang dibaca, didengar atau ditonton oleh si anak, diharuskan bagi orangtua untuk mendampinginya, sebab apabila tidak anak tersebut akan beranalogi dengan persepsi pikirannya sendiri,” katanya.
Contoh kasus tentang anak dewasa sebelum waktunya, yakni ketika dia menonton tayangan video klip beberapa Penyanyi seksi baik Pop atau Dangdut pada umumnya yang berbau perilaku seksual tanpa didampingi oleh orang tuanya.
Tayangan yang dilihatnya tersebut akan berpengaruh sangat tidak baik terhadap dirinya dikarenakan bisa saja dia melakukan perbuatan tersebut tanpa mengetahui apa yang akan terjadi ketika meniru gerakan erotis mereka.
Contoh kasus lainnya, salah satu group Band yang cukup populer di tanah air sempat membuat lyrik yang cukup tidak normative, dan sudah sempat beredar, begini cuplikan lirik lagu tersebut,

“ Kamu mau apa lagi, kamu mau yang bagaimana lagi….emang dasa-emang dasa. Eh dasar kamu, Baxxxxxn,” tanpa kita sadari hal ini berdampak kepada draft negative seperti anak-anak yang duduk di sekolah dasar dan tingkatan pada khusunya, lebih  ringan menyebut nama temannya dengan istilah tersebut, yang walau sebeumnya kata-kata tersebut adalah kata yang kurang normative.

III.2      Proporsi Lagu Anak-anak Beberapa Dekade

SYAIR lagu Nyiur Hijau, membawa imajinasi anak-anak khsusunya diajak berlayar berkeliling ke bumi Indonesia yang indah agung. Pepohonan hijau melambaikan kedamaian. Sawah luas menghamparkan berlaksa-laksa harapan. Dan laut biru menyimpan berjuta-juta kemakmuran. Menciptakan nuansa  kekagum dengan pencipta lagunya yang telah menyusun deretan melodi meliuk-liuk indah, memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Syair dengan kedalaman maknanya pun mampu ‘menyihir’ pikiran. Bagi anak-anak menanamkan nilai  kebanggaan terhadap negeri Indonesia.

Selain Nyiur Hijau lagu seperti Ibu Pertiwi, Tidurlah Intan, Indonesia Pusaka, dan Pahlawan Merdeka. Lagu yang populer pada era 70 sampai dengan 80-an, setiap pekan TVRI menayangkan acara Ayo Menyanyi. Para penampil diambilkan dari artis cilik yang sedang tenar, atau dari sanggar-sanggar berprestasi. Meski durasinya hanya 30 menit dan bukan siaran langsung, karena TVRI selalu menayangkan penuh kesetiaan, acara tersebut benar-benar ditunggu oleh anak-anak. Ya, melalui televisi hitam putih berukuran 14 inchi yang gambarnya kadang lebih mirip koloni semut perang begitu menikmati penampilan Adi Bing Slamet, Cicha Koeswoyo, Diana Papilaya, Dina Mariana, Vien Isharyanto, atau Yoan Tanamal.

Hingga dekade 90-an silam, saat Joshua Suherman, Sherina, Tasya, Trio Kwek-kwek, dan Agnes Monica masih berjaya sebagai penyanyi cilik, anak-anak seusia para penyanyi itu masih dimanjakan oleh lagu-lagu manis. Setiap pagi RCTI dan SCTV masih ‘sudi’ menayangkan lagu-lagu anak-anak. Dan, Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi, mantan ketua Komnas Anak) dengan lagunya Si Komo, atau AT Mahmud dengan lagunya Libur Telah Tiba merupakan pencipta lagu yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan dunia anak-anak.

Namun apa yang terjadi pada masa sekarang? Hanya terpaut sekitar 10 tahun saja, blantika musik anak-anak sudah mengalami lompatan cukup jauh. Televisi dan radio dipenuhi lagu-lagu orang dewasa. Dari genre pop, lagu-lagu semacam Kekasih Gelapku (Ungu), Ketahuan (Matta), Teman Tapi Mesra (Ratu) mengajak anak-anak berpikir layaknya orang dewasa.. Simak saja reffrain lagu Ketahuan berikut ini: O oh kamu ketahuan pacaran lagi/dengan si dia teman baikku.

Sementara dari genre dangdut ada Kucing Garong, Cucakrawa, Bokong Gatel, Prapatan Celeng, atau Putri Panggung. Dalam setiap penampilan, baik di layar kaca maupun di tengah publik, selalu menonjolkan goyangan penyanyinya yang seronok, menantang syahwat. Hiburan yang semestinya hanya boleh dikonsumsi oleh kalangan usia dewasa, itu menjadi menu sehari-hari yang juga ‘disantap’ oleh anak-anak.

Kita tidak menampik, di antara hiruk-pikuk peredaran lagu seronok dan bertema percintaan (perselingkuhan) yang membahayakan bagi perkembangan anak, terselip pula lagu cukup mendidik seperti yang dirilis Ada Band (duet bersama Gita Gutawa) berjudul Yang Terbaik Bagimu atau Melly Goeslaw dengan lagunya Bunda dan Kupu-kupu.

Namun akan muncul pertanyaan, apakah tiga lagu tersebut sanggup menghadapi kepungan si Kucing Garong, Bokong Gatel, Putri Panggung, Prapatan Celeng, Cucakrawa, Ketahuan, dan Kekasih Gelapku? Dengan amat berat hati saya tidak berani memasang taruhan kemenangan, apalagi ‘filter’ anak-anak zaman sekarang sudah bocor. Tanpa bimbingan orang tua, mereka lebih tertarik pada goyangan penyanyi daripada mengapresiasi kualitas melodi dan syair lagu.

Memang, arus globalisasi tak dapat kita bendung. Agar tidak ketinggalan zaman, kita perlu mengikuti lompatan modernitas. Maraknya sajian hiburan di televisi atau mudahnya akses internet yang menyediakan beragam informasi tak disangkal merupakan bagian dari denyut kehidupan abad ini. Namun jika tidak dibarengi dengan pemantauan ketat terhadap anak-anak, tidak menutup kemungkinan dapat berakibat buruk bagi kehidupan mereka kelak. Di sinilah peran orang tua dipertaruhkan. Seperti kita tahu, regulasi dari pemerintah perihal jenis acara yang ditayangkan belum sepenuhnya memenuhi kriteria dan diindahkan oleh pemirsa televisi. Semisal program yang bertanda “boleh dilihat oleh semua usia”, nyata-nyata isinya masih rawan ditonton oleh anak-anak.

Sementara dari genre dangdut ada Kucing Garong, Cucakrawa, Bokong Gatel, Prapatan Celeng, atau Putri Panggung. Dalam setiap penampilan, baik di layar kaca maupun di tengah publik, selalu menonjolkan goyangan penyanyinya yang seronok, menantang syahwat. Hiburan yang semestinya hanya boleh dikonsumsi oleh kalangan usia dewasa, itu menjadi menu sehari-hari yang juga ‘disantap’ oleh anak-anak.

Kita tidak menampik, di antara hiruk-pikuk peredaran lagu seronok dan bertema percintaan (perselingkuhan) yang membahayakan bagi perkembangan anak, terselip pula lagu cukup mendidik seperti yang dirilis Ada Band (duet bersama Gita Gutawa) berjudul Yang Terbaik Bagimu atau Melly Goeslaw dengan lagunya Bunda dan Kupu-kupu.

Namun akan muncul pertanyaan, apakah tiga lagu tersebut sanggup menghadapi kepungan si Kucing Garong, Bokong Gatel, Putri Panggung, Prapatan Celeng, Cucakrawa, Ketahuan, dan Kekasih Gelapku? Dengan amat berat hati saya tidak berani memasang taruhan kemenangan, apalagi ‘filter’ anak-anak zaman sekarang sudah bocor. Tanpa bimbingan orang tua, mereka lebih tertarik pada goyangan penyanyi daripada mengapresiasi kualitas melodi dan syair lagu.

Melesunya blantika musik anak-anak akibat tenggelamnya gairah para pencipta lagu menghasilkan lagu anak-anak dewasa ini sebenarnya ditangkap oleh beberapa stasiun televisi dalam bentuk kompetisi seperti AFI Junior (Indosiar, kini sudah tidak tayang) atau Idola Cilik (RCTI). Acara itu dipandang bermanfaat untuk mencari dan memandu bakat menyanyi bagi anak-anak. Namun sayangnya, kemasan yang disajikan masih saja ‘memaksa’ anak-anak untuk menjadi dewasa, bukan apa adanya sesuai perkembangan pikiran mereka. Hal tersebut dapat ditengarai dari jenis lagu yang dibawakan para penampil, hampir semuanya lagu orang dewasa. Akhirnya, kita tidak dapat melihat letak itikad baik stasiun televisi, melainkan eksploitasi anak-anak demi mengejar rating acara yang ujung-ujungnya keuntungan. Hari gini mana ada televisi yang mau rugi?

Selama orang tua tidak berperan sebagai ‘Badan Sensor Televisi’ bagi anak-anak, dan stasiun televisi hanya mencari keuntungan semata-mata, ancaman hilangnya lagu anak-anak sudah di depan mata.

III.3                 Sekilas Nama Penyanyi Cilik di Eranya

Angkatan 70an, Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Ira Maya  Sopha,
angkatan 80an akhir, Melissa, Eza Yayang, Puput Melati , Enno Lerian, Bondan Prakoso, Ria Enes & Susan, Agnes Monica, Tiga Anak Manis, dll
Angkatan 90an awal, Joshua, Trio Kwek Kwek, Chikita Meidy, Maisy, Saskia & Geovani,dll
Angkatan 90 pertengahan, Sherina, Tasya, Cindy Cenora, Kiki, Aan, Cicio.

III.4    LAGU ANAK POPULER


1. Adi Bing Slamet
Adi Bing Slamet Mak Inem Tukang Latah, Adi Bing Slamet – Adikku, Adi Bing Slamet – Papa
Adi Bing Slamet & Chicha Koeswoyo, Mau Kemana, Pergi Ke Sekolah, Si Kancil, Sudah Kukatakan, Tepuk Tangan
Adi Bing Slamet & Iyut Bing Slamet, Adik Manis, Sama-sama Pingin Maju, Siapa Yang Punya, Jangan Usil, Aduh Aduh Mana Tahan. O Te O, Alam Pusaka, Si Dogol, Bilang-Bilang Dulu, Kami, Tepi Pantai, Dusun Kecil

  1. Chicha Koeswoyo
    Helli, Taman Mini, Teringat Bunda, Takbiran, Jangan Berdusta, Bunyi Lonceng, Selamat Berjumpa (live), Nusantara Indah
  2. Sari Yok Koeswoyo, Album Sari Yok Koeswoyo4.
  3. Ira Maya Sopha, Ira Maya Sopha – Sepatu Kaca, Ira Maya Sopha – Kisah   Cinderella, Ira Maya Sopha – Pengumuman Penting4

5. Diana Papilaya, Doa Seorang Anak

6.   Liza Tanzil, Kisah Pinokio,

7.  Yoan Tanamal, Sayang (Kududuk Sendiri), Mandi Pagi, Si    Kodok, Yoan Tanamal – Goyang, Joan Tanamal – Mari Kawan

8.    Bobby Alatas, Papa Mama Sayang Bobby, Hujan Lagi, Perkenalan , Tokek, Adik Ngompol

9.    Debby Irama, Idih Papa Genit

10.  Julius Sitanggang, Balada Anak Nelayan , Buka Pintu, Danau Toba, Dengar Tuhan, Dia & Dia, Dirimu Satu, Elegi Kedamaian, Hari Libur, Lisna, Julius Sitang, Maria

11.  Janter Simorangkir, Katakan Mama

12. Melisa, Abang Tukang Bakso, Semut-Semut Kecil, Si Komo (Macet Lagi).

13. Bayu Bersaudara, Kring Kring Goes Goes

14. Pandu Papra, Laura Dacosta

15. Puput Melati, Puput Melati – Si Jago Mogok

16. 3 Anak Manis, Soleram, Semua Mencium, Si Monyet Pintar, Serba Salah, Tiga Anak Manis, Jangan Suka Berbohong

17. Indah Pratiwi, Si Alibaba

18. Abiem Ngesti, Pangeran Dangdut

19. Enno Lerian, Si Nyamuk Nakal, Enno ,Si Dakocan, Dudidam

20. Bondan Prakoso, Si Lumba-Lumba

21. Errin & Karlin, Mbok Jamu

22. Fadly,Anak Jalanan, Selamat Tinggal Lampu Merah

23. Susan & Ria Enes, Si Kodok, Susan Punya Cita-Cita, Susan Masuk Sekolah

24. Agnes Monica & Eza Yayang, YESS!, Si Gajah, Kulihat Bintang, Bala bala

25. Joshua, Cit Cit Cuit , Air, Kapal Terbang, Lonjak Lonjak

26. Trio Kwek Kwek, Jangan Marah, Tanteku, Katanya, Trio, Bis Sekolah,

27. Dhea Ananda, Baju Baru

28. Trio Laris, Ular Putih, Rumahku

29. Kenny, Kenny – Lagu Cinta Untuk Mama

30. Lenong Bocah, Malem Mingguan

31. Okky Lukman, Aduh Gile

32. Marshanda, Bidadari, Album Marshanda – Bidadari

33. Maissy, Si Kuman Nakal, Idola Cilik, Ci Luk Ba!, Abang Becak, Secercah Cahaya, Prahu Laju Anganku Serta

34. Tina Toon, Bolo Bolo

35. Ciccio, Kebelet Pipis

36. Saskia & Geofanny, Aku Suka Musik, Album Saskia & Geofanny

37. Sherina, (Album Andai Aku Besar Nanti), Petualangan Sherina, Bintang-Bintang, Lihatlah Lebih Dekat, Jagoan (Petualangan Sherina), Persahabatan

38. Tasya, Jangan Takut Gelap, Libur telah Tiba, Paman Datang, Aku Anak Gembala, Bintang Kejora, Ambilkan Bukan Bu, Di Stasiun Kereta Apiku

39. AFI Junior, Aku Bisa, Albert  AFI Jr feat. Glenn Fredly – Salam Bagi Sahabat.

40. Fellicia Johan ( Cha-Cha ), Bawang Merah-Bawang Putih, Nina Bobo, Cita-cita ku, Mentari Pagi, Tidak Boleh Bohong, Nama- Nama Binatang,  Mama ku Sayang, Putri cantik, Pinokio, Do-Re-Mi.

Demikian refrensi beberapa nama artis dan lagu yang pernah mereka bawakan, dan bahkan menghantarakan mereka kesebuah cita-cita dan  popularitas atau lenyap sekalipun, tetapi suara mereka dapat mengungkit kembali memori masa kecil kita dahulu serta kenangan manis yang menertainya, hingga akhirnya kita tertawa sendiri mengenang lugunya kita saat itu, bagi yang pernah mengalaminya.

III.5        TOKOH PENCIPTA LAGU ANAK, Kemana Mereka Kini ?

Kalau mendengar atau melihat dalam satu lagu yang di bawakan oleh seorang penyanyi, terkadang tercantum dalam teks atau album lagu tertulis Cipt. Mungkin dewasa ini sering kita melihat dalam lagu atau lirik tertulis sederet nama populer sebagai pencipta lagu yakni, Melly Goeslaw, Erwin Gutawa, Badai’Krispati’, Andhika’Kangen Band’, Apoy’Wali’, Carli’ST 12’. Dan lain sebagainya, nama-nama tersebut, mereka yang memiliki integrate dan kreatifitas yang tinggi untuk kalangannya. Tetapi tak satu pun yang dapat kita dengar Pencipta lagu anak-anak sekarang ini.

Selain nama yang akan dijelaskan di bawah ini, ada beberapa tokoh lainnya yang mengawali karir dari dunia anak-anak, catat saja seperti Kak Seto Mulyadi, Papa T Bob, dlsb. Namun inspirasi yang begitu fenomenal muncul di bawah ini nama tokoh yang eksistensinya tetap dinilai konsisten, walau entah bagaimana kini keadaan mereka, tetapi mudah-mudahan refrensi ini membuat kita termotofasi untuk menghidupkan kembali Industri Musik Anak-anak yang hilang.

  1. 1. AT MAHMUD, Abdullah Totong Mahmud

Pencipta lagu anak-anak Abdullah Totong Mahmud yang dikenal dengan nama AT Mahmud ini menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Ia dinilai berjasa dalam mengembangkan dan meningkatkan sumber daya bangsa dalam menciptakan lagu untuk anak-anak yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
Penerima Piagam hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini memang telah menciptakan sekitar 500 judul lagu anak-anak. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Ameia, Cicak, Pelangi, Bintang Kejora, dan Ambilkan Bulan, sangat terkenal dan baik untuk anak-anak. Semua lagu ciptaannya mengandung unsur edukasi yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian anak-anak.
Maka melihat perkembangan lagu anak-anak sekarang ini, ia sangat prihatin. Keprihatinan ini dikemukakannya saat wawancara dengan Wartawan TokohIndonesia DotCom di rumah kediamannya, Jalan Tebet Barat II Jakarta, Senin 8 September 2003.
Menurutnya, banyak sekali lagu yang dinyanyikan anak-anak bukan lagu anak melainkan lagu orang dewasa dengan pikiran dan kemauan orang dewasa. Anak-anak hanya menyanyikan saja. Tanpa pemahaman dan penghayatan akan isi lagu. AT Mahmud mencontohkan dua lagu yaitu “Aku Cinta Rupiah” dan “Mister Bush”.“Anak kecil mana tahu nilai rupiah atau dolar atau ringgit dan mata uang lainnya. Mereka juga tidak begitu kenal dan hirau dengan George Bush Junior yang melakukan invasi ke Iraq. Mereka belum memikirkan hal itu. Semua itu adalah pikiran dan kemauan orang dewasa yang dipaksa disuarakan anak-anak,” paparnya.
Menurut Mahmud, lagu anak-anak hendaknya mengungkapkan kegembiraan, kasih sayang, dan memiliki nilai pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak. Bahasa dalam lagu anak pun harus menggunakan kosakata yang akrab di telinga anak.
Siapa sebenarnya AT Mahmud? Apakah dia sejak muda mempersiapkan diri menjadi pencipta lagu anak dan melulu mengurusi soal lagu anak?
AT Mahmud lahir di Palembang, Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, 3 Februari 1930. Ia anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ibu bernama Masayu Aisyah, ayah bernama Masagus Mahmud. Ia diberi nama Abdullah dan sehari-hari dipanggil “Dola”. Namun, sebutan nama Abdullah atau Dola kemudian “menghilang”. Nama pemberian orang tua tercatat terakhir pada ijazah yang dimilikinya pada sekolah Sjoeritsoe Mizoeho Gakoe-en (sekolah Jepang) tahun 1945. Pada ijazah itu nama lengkapnya tertulis: Mgs (Masagus) Abdu’llah Mahmoed. Di rumah, kampung, dan teman sekolah, ia lebih dikenal dengan nama Totong. Pada surat ijazah Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (setingkat SLTP) tahun 1950, namanya tertulis Totong Machmud. Konon menurut cerita ibunya, ketika dirinya masih bayi ada keluarga Sunda, tetangganya, sering menggendong dan menimangnya sambil berucap, “… tong! …otong!” Sang Ibu mendengarnya seperti bunyi “totong”. Sejak itu, entah mengapa, ibunya memanggilnya dengan “Totong”. Nama ini diterima di lingkungan keluarga dan kerabat. Nama lengkapnya kemudian menjadi Abdullah Totong Mahmud, disingkat A. T. Mahmud.
Mahmud masuk Sekolah Rakyat (SD) ketika tinggal di Sembilan Ilir. Setahun kemudian, setelah berumur 7 tahun, ia dipindahkan ke Hollandse Indische School (HIS) 24 Ilir. Ada kenangan yang tak dapat dilupakannya kepada guru HIS yang mengajarkan musik, khususnya membaca notasi angka. Cara guru mengajarkannya sangat menarik. Guru memperkenalkan urutan nada do rendah sampai do tinggi dengan kata-kata do-dol-ga-rut-e-nak-ni-an. Kemudian, urutan nada dinyanyikan kebalikannya, dari nada tinggi turun ke nada rendah masih dengan kata-kata kocak e-nak-ni-an-do-dol-ga-rut. Setelah murid menguasai tinggi urutan nada dengan baik, naik dan turun, melalui latihan dengan kata-kata, guru mengganti kata-kata dengan notasi.
Setelah itu, diberikan latihan lanjut membaca notasi angka, seperti menyanyikan bermacam-macam jarak nada (interval), bentuk dan nilai not. Sesudah itu barulah murid-murid diberi nyanyian baru secara lengkap untuk dipelajari. Cara mempelajari nyanyian demikian sungguh menyenangkan.
Pada tahun 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah pada bala tentara Jepang. Saat itu ia duduk di kelas V HIS. Dalam keadaan peralihan kekuasaan pemerintahan itu, ia pindah ke Muaraenim. Di sana, ia dimasukkan ke sekolah eks HIS, yang telah berganti nama menjadi Kanzen Syogakko. Di sinilah ia mulai bermain sandiwara dan mengenal musik. Sandiwara yang pernah ia ikuti adalah ketika sekolah mengadakan pertunjukan pada akhir tahun ajaran bertempat di gedung bioskop. Cerita yang ditampilkan legenda dari Sumatra Barat, berjudul Sabai Nan Aluih dan ia berperan sebagai Mangkutak Alam.
Di kota ini pula ia berkenalan dengan Ishak Mahmuddin, seorang anggota orkes musik Ming yang terkenal di kota Muaraenim. Ming adalah nama pemimpin orkes. Alat yang dikuasai Ishak adalah alat musik tiup saksofon, selain beberapa alat musik lain. Ishak kemudian mengajarinya bermain gitar. Selain itu, Ishak yang pandai mengarang lagu itu turut membimbingnya mengarang lagu. Melihat kemampuan Mahmud yang terus meningkat, Ishak pun mengajaknya bergabung dengan Orkes Ming umtuk memainkan alat musik, dan kadang-kadang ukulele serta bas.
Masa revolusi 1945-1949 membuatnya tidak dapat bersekolah dengan baik. Ia ikut masuk kancah perjuangan dengan menjadi anggota Tentara Pelajar. Selama masa itu, kehidupannya berubah. Ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, bahkan keluar masuk hutan. Syukurlah, ia dapat melewati masa itu dengan selamat, meskipun ada rkan-rekannya yang meninggal.
Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, Mahmud pun keluar dari kesatuan Tentara Pelajar. Ia kemudian melanjutkan sekolah dan dinyatakan lulus dari SMU bagian Pertama (SLTP) setelah mengikuti ujian akhir pada tanggal 11-16 Agustus 1950. Ketiadaan biaya membuatnya tidak dapat segera melanjutkan pendidikan. Pamannya, Masagus Alwi mengajaknya bekerja di salah satu bank milik Belanda yang masih beroperasi. Ajakan tersebut diterima. Di tempatnya bekerja, ia dapat melihat langsung keramaian lalu-lintas, lalu-lalang kendaraan, pejalan kaki, juga para siswa membawa buku sekolahnya. Pikiran dan perasaannya mulai gelisah. Ia ingin kembali ke sekolah.
Kebetulan di Palembang sedang dibuka Sekolah Guru bagian A (SGA) yang memberi tunjangan belajar bagi siswanya selama tiga tahun, dengan syarat setelah tamat bersedia ditempatkan di mana saja sebagai guru. Ia pun berhenti bekerja di bank dan segera mendaftar sebagai siswa baru di SGA. Selama tiga tahun (1951-1953) ia belajar di SGA, dari tahun 1951 sampai dengan 1953. Selama pendidikan di SGA, ia pernah mengarang nyanyian untuk ibu. Kata-katanya bila disimpulkan, berbunyi: betapa dalam laut, betapa tinggi gunung, tidak dapat melebihi dalam dan tingginya kasih Ibu. Sayang, teks nyanyian ini tidak dimilikinya lagi, hilang.
Setelah lulus SGA, ia ditempatkan di Tanjungpinang, Riau, menjadi guru SGB di kota itu. Ia berangkat ke Tanjungpinang dengan pesawat terbang Catalina yang mampu mendarat di permukaan laut. Di dermaga, Kepala SGB menyambut kedatangannya. Ia dibawa ke sebuah hotel tempat tinggalnya selama bertugas di Tanjungpinang. Di luar dugaannya, gaji pegawai di Tanjungpinang dibayar dengan mata uang dolar, bukan rupiah. Dengan gaji dolar, hidup guru dan pegawai PNS pada umumnya lebih dari cukup.
Di kota inilah ia berkenalan dengan Mulyani Sumarman, guru Bahasa Inggris SMP Negeri. Hubungan pun makin lama makin erat. Menjelang tahun ketiga berada di Tanjungpinang, ia merasa sudah waktunya pindah. Ia ingin ke Jakarta. Ia ingin melanjutkan pendidikan di B I Jurusan Bahasa Inggris dan membangun rumah tangga dengan Mulyani. Ia mengajukan permohonan pindah, dan dikabulkan. Mulyani akan menyusul.
Pada tahun 1956, ia pindah ke Jakarta diangkat menjadi guru di SGB V Kebayoran Baru. Kemudian, mendaftarkan diri pada B I Jurusan Bahasa Inggris. Tanggal 2 Februari 1958 ia menikah dengan Mulyani. Kemudian Mulyani diboyong ke Jakarta setelah mengajukan permohonan pindah mengajar.
Mulyani ditempatkan di SMP 11 Kebayoran Baru yang tepat berhadapan dengan sekolahnya mengajar. Mulyani pun mendaftar diri kembali pada B I Jurusan Bahasa Inggris. Dengan demikian, mereka dapat pergi dan pulang dari mengajar, atau pun kuliah di BI bersama-sama dengan mengendarai sepeda motor. Dari perkawinan ini mereka dikarunia tiga orang anak, seorang laki-laki, dua orang perempuan, yaitu Ruri Mahmud, Rika Vitrina, dan Revina Ayu.
Setelah menyelesaikan B I Jurusan Bahasa Inggris tahun 1959, Mahmud dipindahkan mengajar pada SGA Jalan Setiabudi, Jakarta Selatan. SGA mendididik calon guru Sekolah Dasar. Di sini ia berkenalan dengan Bu Fat dan Bu Meinar, guru Seni Suara.
Awal tahun 1962, dengan biaya Colombo Plan, ia ditugaskan kuliah di University of Sydney, Australia, guna memperoleh sertifikat mata kuliah The Teaching Of English As A Foreign Language selama satu tahun. Januari 1963 ia mendaftarkan diri pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta untuk melanjutkan pendidikan sampai sarjana. Pada tahun yang sama ia dipindahtugaskan ke Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) di Jalan Halimun, Jakarta Selatan.Di SGTK seolah ia menemukan lahan subur untuk mengembangkan bakat musiknya, khususnya mencipta lagu anak-anak. Ia pun meninggalkan kuliah bahasa Inggris, keluar dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, dan menekuni musik.
SGTK memiliki suasana yang mendorongnya untuk menekuni dunia musik. Pimpinan sekolah sendiri senang akan musik. Guru Seni Musik pandai bermain piano dan mengarang lagu. Siswa SGTK turut memberikan dorongan baginya untuk mengarang lagu anak-anak. Tiap kali siswa SGTK melakukan latihan praktik mengajar, ada yang memerlukan lagu dengan tema tertentu menurut tugasnya. Pada masa itu, mencari lagu anak-anak yang sesuai dengan anak-anak agak sulit. Siswa yang memerlukan lagu baru datang kepadanya meminta dibuatkan lagu. Ia pun mencoba. Lagu yang telah dibuat, diajarkan pada anak-anak TK saat praktik mengajar. Ternyata, lagu itu disukai. Hal ini membesarkan hatinya dan membuatnya makin tekun mengarang lagu anak-anak.

Di rumah pada waktu senggang, ia mencoba mengarang lagu anak-anak sambil memetik gitar miliknya. Lagu anak-anak tentu berbeda dengan lagu untuk orang dewasa. Di mana bedanya? Pada pikiran, perasaan, dan perilaku anak itu sendiri. Ia pun mempelajari lagu anak-anak yang telah ada, seperti lagu-lagu Ibu Sud, Pak Dal, dan pencipta lagu anak-anak yang lain.
Saat tinggal di Kebayoran Baru, Mahmud sering mengajak anaknya bermain ke Taman Puring. Di sana ada ayunan, jungkat-jungkit, dan lapangan yang cukup luas sehingga anak-anak dapat melakukan permainan lain, seperti main lempar bola atau kejar-kejaran. Roike yang saat itu baru berumur 5 tahun senang sekali bermain ayunan. Ia begitu menikmati permainan itu dan menjaga agar anaknya tidak sampai mengalami kecelakaan. Perasaan Roike dan pesan agar hati-hati sehingga tidak mengalami itu ia tuangkan ke dalam lagu “Main Ayunan”.
Inspirasi lagu “Pelangi” hadir ketika ia mengantar anaknya, Rika, yang masih berusia lima tahun sekolah di TK. Di tengah perjalanan, Rika berteriak, “Pelangi!” sambil menunjuk ke arah langit. Ia mulai menyanyikan pelangi, mencari kata-kata yang tepat yang menjadi pikiran anak kecil, selanjutnya ketika tiba di rumah, ia iringi dengan gitar dan jadilah sebuah lagu.
Lahirnya lagu “Ambilkan Bulan” terjadi ketika anaknya Roike tengah bermain di beranda rumah. Saat itulah ia melihat ke langit dan melihat bula. Segera ia berlari dan menggandeng lengan ayahnya diajak ke luar. Tiba-tiba si anak berkata, “Pa, ambilkan bulan.” Jelas saja AT Mahmud bingung. Awalnya kejadian itu berlalu begitu saja. Namun, permintaan si anak terus terngiang di telinganya. Minta bulan, untuk apa? Dengan mencoba menerawang dunia dan bahasa anak, AT Mahmud pun menuliskan permintaan itu dalam bait-bait lagu. Tadinya “ambilkan bulan pa” diubah menjadi “ambilkan bulan bu” sehingga terkesan lebih lembut.
Lain lagi dengan lagu “Amelia”. Amelia adalah nama seorang anak kecil yang riang, sering bertanya, tidak bisa diam, lincah, dan ingin tahu banyak hal. Amelia adalah anak dari Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pada masa Orde Baru. Emil Salim tak lain adalah sahabat waktu kecil Mahmud ketika sama-sama sekolah di Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (SMU, setingkat SLTP), di Palembang. A.T. Mahmud melukiskan sifat Amelia dalam lagunya sebagai gadis cilik lincah nian, tak pernah sedih, riang selalu sepanjang hari.

Dorongan untuk membuat lagu datang pula dari guru-guru. Salah satunya adalah Ibu Rosna Nahar. Para siswa pun senang dengan lagu-lagu ciptaannya. Ia kemudian membentuk kelompok paduan suara siswa SPG. Lagu ciptaannya terus bertambah, dan mulai tersebar di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar terdekat, kemudian melebar di sekolah-sekolah lain. Radio Repulik Indonesia (RRI) memintanya membantu mengisi acara anak-anak pada sore hari, dengan memperkenalkan lagu lama maupun baru. Kesempatan ini ia pergunakan untuk memperkenalkan lagu ciptaannya sendiri.
Pelan tapi mantap, lagu-lagunya mulai dikenal di kalangan anak-anak, guru sekolah, dan orang tua. Tahun 1968, Televisi Republik Indonesia (TVRI) mengundangnya. Salah seorang pejabat di sana menjelaskan bahwa TVRI ingin menyelenggarakan sebuah acara baru, yaitu musik anak-anak tingkat SD. Ia diminta untuk mengoordinasi acara ini. Akhirnya jadilah sebuah acara bertajuk “Ayo Menyanyi” yang mulai mengudara tanggal 3 Juni 1968.
Sumber lagu umumnya diambil dari lagu-lagu ciptaan, antara lain: Ibu Sud, Pak Dal, Pak Tono, S.M. Moechtar, Kasim St. M. Syah, A.E. Wairata, S. Anjar Sumyana, C. Tuwuh, Martono, Andana Kusuma, Angkama Setiadipradja, Pak Sut, Pak Rat, Kusbini, Daeng Soetigna, Hs. Mutahar, L. Manik, M.P. Siagian, A. Simanjuntak, R.C. Hardjosubrata, Sancaya HR, dan Mus K. Wirya.
Dari lagu-lagu yang dikirimkan, dan masih dikenal, antara lain: “Terima Kasihku” oleh Sri Widodo dari Yogyakarta, “Bunga Nusa Indah” oleh Djoko Sutrisno, dan ‘Anugerah” oleh Indra Budi (putra Bu Meinar). Ayo Menyanyi telah menjadi salah satu wadah bagi mereka yang berminat untuk membuat lagu anak-anak, pendidikan musik anak-anak khususnya. Bertanggal April 1968, ia menerima sebuah lagu dari Mochtar Embut, berjudul “Ibu Guru Kami”, yang kemudian disiarkan di TVRI.
Atas usul AT Mahmud, tahun 1969 TVRI menambah acara lagu anak yaitu “Lagu Pilihanku”. Jika “Ayo Menyanyi” berbentuk pelajaran untuk menyanyikan lagu baru, maka “Lagu Pilihanku” bersifat lomba. Jumlah peserta 5 (lima) orang yang dipilih melalui tes. Untuk testing, calon peserta harus melapor diri pada Kepala Sub Bagian Pendidikan, yang kemudian akan memperoleh Surat Peserta Testing. Testing dilakukan oleh dua orang yang ditunjuk koordinator acara, berlangsung di studio TVRI. Acara ini ditayangkan dua kali sebulan, bergantian setiap seminggu sekali dengan Ayo Menyanyi.
Setelah kedua acara di atas berlanjut dan berkesinambungan selama 20 tahun, pada tahun 1988, atas suatu kebijaksanaan pimpinan TVRI, seluruh tim diminta mundur dari kedua acara tersebut. Untuk beberapa saat acara Ayo Menyanyi dengan nama lain dilanjutkan dengan pembawa acara seorang artis, yang berlangsung tidak lama. Kemudian, pembawa acara digantikan seorang artis lain. Itu pun hanya bertahan sebentar, kemudian untuk seterusnya menghilang sama sekali dari tayangan di layar TVRI.
Kehadiran acara Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku, ternyata telah menarik minat kalangan perusahaan rekaman untuk merekam lagu anak-anak pada piringan hitam. Tercatat nama perusahaan rekaman, seperti: Remaco, Elshinta, Bali, Canary Records, Fornada, J & B Records. Lagu-lagu ciptaan AT Mahmud pun mendapat perhatian. Di samping lagu-lagu ciptaan pencipta lainnya, ada sekitar 40-an lagu A. T. Mahmud tersebar pada 7 (tujuh) piringan hitam antara tahun 1969, 1972, dan tahun-tahun sesudah itu, yakni Citaria, Musim Panen. Jangkrik, Gelatikku. Layang-Layangku, Ade Irma Suryani, Kereta Apiku, Jakarta Berulang Tahun, Pemandangan, Timang Adik Timang, Pulang Memancing, Hadiah untuk Adik, Tidurlah Sayang, Mendaki Gunung, Sekuntum Mawar, Tepuk Tangan, Kincir Air, Dua Ekor Anak Kucing, Bulan Sabit, Lagu Tor-Tor, Tupai, Burung Nuri, Di Pantai, Senam, Bintang Kejora, Aku Anak Indonesia, Aku Anak Gembala, Kunang-Kunang, Naik Kelas, dan Awan Putih.
Waktu terus berjalan. Akhirnya, salah satu lembaga pendidikan Islami meminta AT Mahmud untuk memberikan penataran sejenis pada sekolahnya untuk guru-guru TK. Ia berpendapat, alangkah baiknya jika contoh lagu yang ia berikan, juga bernapaskan Islami. Yang Islami itu yang mana? Karena hal ini merupakan sesuatu yang baru baginya. Mahmud mencari tahu apa yang dimaksudkan dengan lagu islami, seni islami pada umumnya. Di satu sisi, tentu ada yang sama, yaitu sasarannya tetap anak-anak juga. Akan tetapi, di sisi lain, tentu ada bedanya dengan lagu anak-anak yang umum. Bedanya paling tidak pada pesan yang akan disampaikan, pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai.
Mulailah ia mencari buku-buku referensi. Dari beberapa buku Islami yang dibaca, ia mulai mempelajari tentang seni Islam, musik Islami, atau lagu Islami. Ia menemukan jawaban pada buku yang ditulis M. Quraish Shihab “Wasasan Al-Quran”, bagian keempat: “Wawasan Al-Quran tentang Aspek-Aspek Kegiatan Manusia” subbab “Seni” halaman 398.                    “… seni Islam adalah ekspresi tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantarkan menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan …menggambarkan hubungan …dengan hakikat mutlak, yaitu Allah swt. …dengan tujuan memperhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia, menggambarkan akibat baik dan buruk dari suatu pengamalan …”
Pengertian ini dianggapnya sejalan dengan rumusan yang dikutip dari bacaan lain, berbunyi: ” (musik islami) bermaksud dan bertujuan untuk meningkatkan daya pikir dan rasa dalam kaitan gagasan dan pendidikan akhlak, dengan cakupan dua aspek, yaitu a) akhlak terhadap Allah, dan b) akhlak terhadap sesama manusla.
Dalam pengertian inilah kemudian ia menciptakan lagu-lagu Islami, dengan cara menerjemahkannya menurut dan sesuai dengan karakteristik anak yang sedang tumbuh dan berkembang menuju kedewasaannya.
AT Mahmud pun memikirkan untuk menghimpun semua lagu yang diciptakan dalam bentuk buku. Ia pernah mencetak sendiri, dengan biaya sendiri, dan penyebaran sendiri melalui sekolah langsung, yang menghasilkan dua buku kumpulan lagu yaitu “Lagu Anak-Anak Kami Menyanyi” (44 lagu) disusun pada tahun 1969 dan “Lagu Anak-Anak Main Ayunan” (30 lagu) pada tahun 1970.
Penerbit PT Sinar Bandung mencetak lagu-lagunya berjudul “Nyanyianku” (30 lagu yang pada umumnya berbeda dengan lagu pada “Main Ayunan”, tahun penerbitan tidak ada. Tahun 1976, I. Elisa dari Bandung menerbitkan sendiri 8 lagu cipaannya dalam gubahan untuk iringan piano, dengan judul “Lagu Anak-Anak”. Penerbit Yudhistira Jakarta menerbitkan tiga kumpulan lagu berturut-turut, masing-masing dengan judul “Merdu Berlagu” dalam 4 jilid (tahun penerbitan tidak tercantum).
Ternyata, penerbit besar pun ikut tertarik menerbitkan buku lagu-lagu anak. Di antara penerbit yang menerbitkan buku kumpulan lagu-lagu adalah Balai Pustaka, Tiga Serangkai Solo, Gramedia, Grasindo. Grasindo pun menerbitkan nyanyian Islami berjudul “Mustiqa Dzikir Nyanyian Islami Berdasarkan Hadis Rasulullah”.
Selain menciptakanlagu, AT Mahmud pun sempat menulis beberapa buku, terutama sebagai anggota tim. Hal itu terjadi ketika menjadi anggota tim penulis untuk buku musik SPG pada Proyek Penyedian Buku Sekolah Guru Tahun ke-5 Pembangunan Lima Tahun I 1973/1974. Sejumlah buku yang ditugaskan pada timnya adalah Buku Musik 1, 2, 3, dan 4 untuk SPG. Selanjutnya, ia bersama Bu Fat menulis buku pelajaran musik “Musik di Sekolah Kami Belajar Seni Musik Aktif dan Kreatif untuk Sekolah Dasar” yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1994. Tahun 1995 ia menulis buku “Musik dan Anak” atas permintaan Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan 1994/1995 Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sekitar bulan Oktober 1999, Seli (Seli Theorupun Pontoh) dari Sony Music bertamu ke rumahnya. Dia datang bersama Dian Hadipranowo yang ternyata pernah menjadi guru piano cucunya, Sasti. Seli menjelaskan maksud kedatangan mereka, pertama ingin berkenalan dengan A. T. Mahmud, kedua, Sony Music bermaksud meluncurkan album perdana lagu anak-anak dengan label Sony Wonder.

Saat itu dirasakan bahwa lagu anak-anak yang ada di pasaran pada umumnya lagu-lagu yang agak “lain”, berbeda dengan lagu anak-anak yang pernah diciptakan seperti oleh A. T. Mahmud, Ibu Sud, atau Pak Kasur. Sony Music ingin memunculkan kembali lagu anak-anak yang dahulu akrab di telinga anak-anak Indonesia. Mereka yakin, di kalangan orang tua pada umumnya ada rasa kerinduan akan lagu-lagu semacam itu.
AT Mahmud terkejut dengan apa yang disampaikan. Ia sangat senang lagu-lagu karyanya diperhatikan. Segera ia serahkan sejumlah koleksi lagu-lagu yang kebetulan telah difotokopi dari naskah asli. Menjelang bulan Mei 2000, Sony Music telah memilih 15 (lima belas) lagu dengan penyanyi Tasya (Shafa Tasya Kamila), dan penata musik Dian Hadipranowo.
Pada 4 Mei 2000 lagu-lagu yang terpilih dengan label Sony Wonder berjudul “Libur Telah Tiba” dengan subjudul “Karya Abadi A. T. Mahmud” diedarkan. Atas keberhasilan album ini, selalu ia katakan pada diri sendiri, keberhasilan album itu bukanlah semata karena lagu A. T. Mahmud. Setidaknya ada tiga unsur yang terlibat, saling mendukung, yaitu, lagu, Tasya sebagai penyanyi anak, dan tatanan musik Dian, dalam kesatuan utuh. Tak kalah penting adalah “keberanian” Sony Music memunculkan kembali lagu-lagu lama yang sudah puluhan tahun umurnya dalam satu kaset.
Setahun kemudian tanggal 5 Juni 2001 Sony Wonder mengedarkan album kedua dengan semua lagu ciptaannya berjudul “Gembira Berkumpul”. Kembali sambutan masyarakat akan album ini tidak mengecewakan. Kemudian 18 Oktober 2001, menjelang bulan Ramadan 1422 H, Sony Wonder meluncurkan album “Ketupat Lebaran” yang memuat 11 (sebelas) lagu Islami. Tiga di antara lagu itu, liriknya ditulis oleh Ni Luh Dewi Chandrawati, yakni “Ketupat Lebaran”, “Sahur Telah Tiba”, dan “Tanganku Ada Dua”. Dua lagu diambil dari lagu lama yang tidak dikenal nama penciptanya.

Atas prestasinya di bidang musik, AT Mahmud telah banyak menerima penghargaan. Empat penghargaan terakhir adalah bulan Oktober 1999, menerima Hadiah Seni dari Pemerintah, yang diserahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Juwono Sudarsono. Inilah hadiah seni pertama yang diterimanya dari Pemerintah dalam suatu upacara resmi.
Februari tahun 2001, pada saat peluncuran film Visi Anak Bangsa karya Garin Nugroho, bertempat di gedung Teater Indonesia TMII, menerima penghargaan dalam bentuk lontar yang diserahkan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. Di atas lontar tertulis: Untuk yang mencipta melintasi keberagaman budaya memberi keindahan dan kemuliaan keberagaman hidup
Mei 2001 bertempat di Golden Room Hotel Hilton, diprakarsai dan melalui Yayasan Genta Sriwijaya, ia menerima penghargaan berupa trofi dari masyarakat Sumatra bagian Selatan, bersama-sama dengan tiga orang tokoh yang lain.Pada Agustus 2003, ia pun menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah RI (Keppres No.052 /TK/Tahun 2003 Tanggal 12 Agustus 2003).
Satu bulan kemudian, Anugerah Musik Indonesia (AMI) memberikan penghargaan berupa Lifetime Achievement Award kepadanya atas sumbangsihnya terhadap dunia musik.
Namun, di samping penghargaan formal itu, ada bentuk penghargaan lain yang informal, tetapi sangat menyentuh hati, menimbulkan rasa haru yang mendalam, yaitu penghargaan dari guru, berbentuk lagu. Lagu pertama, pada tahun 1982, ketika terlibat pada proyek peningkatan mutu guru SPG tingkat Nasional yang diselenggarakan di Puncak. Bertepatan pada hari ulang tahunnya, tanggal 3 Februari 1982, Siti Romlah, salah seorang peserta dari Yogyakarta, menghadiahkan sebuah lagu ciptaannya sendiri, berjudul “Di Hari Ulang Tahunmu, Papa”.
Lagu kedua ketika menjadi salah seorang penatar pada Pendidikan dan Pelatihan Instruktur Tingkat Dasar Guru Taman Kanak-Kanak Atraktif, Pusat Pengembangan Penataran Guru Keguruan Jakarta yang diselenggarakan di Parung, Bogor, bertempat di gedung PPPG Bahasa tahun 1999, dengan peserta para guru pembina Taman Kanak-Kanak se-Indonesia. Pada saat minta diri, para peserta memintanya untuk mendengarkan sebuah lagu yang telah diciptakan sebagai kenang-kenangan. Lagu dibuat oleh Renni Kusnaeni dari TK Pembina Subang, Jawa Barat, dan syair oleh Munifah dari TK Pembina Lamongan, Jawa Timur. Naskah lagu ini bertanggal 23 Juli 1999. Seluruh peserta yang sudah dilatih malam sebelumnya bernyanyi bersama.  Setiap kali mendengar lagu ciptaannya dinyanyikan, yang pertama-tama terbayang adalah peristiwa atau cerita bagaimana lagu itu tercipta dalam ruang, waktu, dan pelaku yang melatari. Atas dasar itu pulalah dikatakan bahwa lagu ciptaannya bersumber pada tiga hal, yang berdiri sendiri atau saling mempengaruhi. Pertama: bersumber pada perilaku anak itu sendiri. Kedua: pada pengalaman masa kecilnya. Ketiga: pesan pendidikan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak.

  1. 2. IBU SUD

Ibu Soed, bernama lengkap Saridjah Niung Bintang Soedibio, kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 26 Maret 1908, seorang pencipta lagu anak-anak legendaris. Dia mencipta 200 lebih lagu anak-anak. Tokoh musik tiga jaman (Belanda, Jepang, Indonesia), ini pertama kali mengumandangkan suaranya di radio NIROM Jakarta 1927.
Ibu Sud juga mahir mengalunkan biola. Sebagai pemusik biola, dia ikut mengiringi lagu Indonesia Raya ketika pertama kali didengungkan di Gedung Pemuda 28 Oktober 1928.
Ibu Soed bernama asli Saridjah, bungsu dari dua belas orang bersaudara, putri Mohamad Niung, seorang pelaut berdarah Bugis yang kemudian menetap di Sukabumi, Jawa Barat menjadi pengawal Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, seorang indo-Belanda — beribukan keturunan Jawa ningrat. Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, pensiunan Vice President Hoogerechtshof (Kejaksaan Tinggi) di Jakarta, yang waktu itu menetap di Sukabumi mengangkat Saridjah sebagai anak.Bakat musiknya terasah sejak kecil oleh ayah angkat yang mengasuhnya Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer. Di bawah pengasuhan sang ayah angkat, Saridjah mendapat pendidikan seni suara, seni musik dan belajar menggesek biola.
Setelah menamatkan pendidikan di Kweekschool, Bandung, Saridjah mengajar di HIS HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna (1925-1941). Di sini dia mulai mengajar anak-anak menyanyi. Dia prihatin melihat anak-anak Indonesia yang tampak kurang berbahagia. Lalu dia berpikir untuk menyenangkan anak-anak itu dengan menyanyi.  Dia pun berpikir sebaiknya anak-anak Indonesia itu dapat menyanyi dalam bahasa Indonesia. Tentu akan lebih menyenangkan daripada harus mengajarkan lagu berbahasa Belanda kepada murid-murid Indonesia. Maka, dia pun mulai mencipta lagu untuk anak-anak Indonesia.
Lagu-lagu ciptaannya, tidak hanya memberi kegembiraan kepada anak-anak, tetapi juga mendorong mereka berkhayal, berimajinasi menjadi anak bangsa yang kelak berbakti dan mencipta untuk kejayaan bangsanya. Selain menciptakan sejumlah lagu kanak-kanak berirama ceria, antara lain Hai Becak, Ketilang, Kupu-kupu, dan Bila Aku Besar, juga lagu ceria patriotik seperti Tanah Airku dan Berkibarlah Benderaku.
Berkibarlah Benderaku diciptakan setelah dia melihat kegigihan Yusuf Ronodipuro, seorang pimpinan RRI pada tahun-tahun pertama Indonesia merdeka. Yusuf menolak menurunkan Sang Saka Merah Putih yang sedang berkibar di kantornya, walaupun dalam ancaman senjata api.
Semangat cinta tanah air juga terukir dalam lirik lagu Tanah Airku: Tanah airku tidak kulupakan/ Kan terkenang selama hidupku/ Biarpun saya pergi jauh/ Tidak kan hilang dari kalbu/ Tanah ku yang kucintai/ Engkau kuhargai. Walaupun banyak negri kujalani/ Yang masyhur permai dikata orang/ Tetapi kampung dan rumahku/ Di sanalah kurasa senang/ Tanahku tak kulupakan/ Engkau kubanggakan.
Lebih dari 200 lagu telah dia ciptakan. Tapi sayang, hanya separuh yang bisa terselamatkan. Di tengah kesibukannya mengajar dan mencipta lagu, ia juga pernah menulis naskah sandiwara dan sekaligus mementaskannya. Yakni Operette Ballet Kanak-kanak Sumi di Gedung Kesenian, Jakarta, 1955. Ia mementaskannya bersama Ny. Nani Loebis Gondosapoetro sebagai penata tari dan RAJ Soedjasmin sebagai penata musik.
Selain itu, saat aktif sebagai anggota organisasi Indonesia Muda tahun 1926, ia juga membentuk grup Tonil Amatir. Tonil itu mereka pentaskan untuk memperoleh sejumlah uang membiayai penginapan mahasiswa Club Indonesia. Hasilnya, lebih dari cukup. Selain aktivitasnya tidak hanya menonjol sebagai guru dan aktivis organisasi pemuda, tetapi juga berperan dalam berbagai siaran radio sebagai pengasuh siaran anak-anak (1927-1962). Bahkan, ia juga piawai membatik. Atas karya pengabdiannya, dia menerima Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah.
Dia menikah dengan Bintang Soedibio, dikaruniai tiga orang putri. Sejak menikah namanya lebih dikenal dengan Ibu Soed. Suaminya meninggal tahun 1954 dalam suatu musibah kecelakaan pesawat BOAC di Singapura

BAB  IV

PENUTUP

IV.1                    KESIMPULAN

Munculnya group Band dan Industri musik yang menjanjikan peluang bisnis, menjadi sebuah alasan para investor atau pemilik modal mengais laba yang melimpah. Begitu pula mereka para group band atau penyanyi solo berusaha dan berupaya menciptakan satu product musik yang dapat diterima pasaran atau audiens. Serta media promosi yang tidak ada batasan audiens. Dengan bermodal kreatifitas dalam menciptakan lagu serta aransement musik yang mudah diingat masyarakat dan konsep musik yang berbeda atau memanfaatkan moment peristiwa tertentu menjadi modal dasar bagi insan musik untuk meraup untung dari penjualan Ring Back Tone      ( RBT ), Nada Sambung Pribadi ( NSP ), atau nilai kontrak yang cukup menggiurkan untuk setiap undangan acara komersial tertentu, hal ini yang memotifasi para pelaku musik untuk berupaya dan bahkan cendrung memaksakan melangkah ke industri musik.

Pengaruh media merupakan faktor terbesar yang membuat anak bertingkah laku serta berpikir layaknya orang dewasa, karena beragam tayangan televisi, radio maupun media cetak membuat daya pikir mereka cepat be Contoh kasus tentang anak dewasa sebelum waktunya, yakni ketika dia menonton tayangan video klip beberapa Penyanyi seksi baik Pop atau Dangdut pada umumnya yang berbau perilaku seksual tanpa didampingi oleh orang tuanya, membawa dampaknya mereka cendrung mengikuti gerak exotic yang para penyanyi tersebut tujukan.

Dari sinilah semua berawal, peluang investasi yang menjanjikan serta nilai jual yang cukup mudah bagi setiap media publik, seperti Radio dan Televisi untuk membuat program komersial atau live musik, hingga akhirnya sekmen media publik untuk anak-anak menjadi amat terbatas, dan program acara yang diketengahkan oleh stasiun televisi memaksa anak-anak nasional tidak menganal dunia mereka sendiri.

Walau pun ada program musik anak atau ajang kompetisi untuk mereka menjadi Publik Figur di salah satu stasiun televisi swasta, jauh dari nilai ideal untuk anak-anak itu sendiri, mereka dipaksa untuk mengenal lagu-lagu dewasa dan penuh nuansa cinta, yang mereka pun awam tentang makna dari materi lagu itu sendiri. Program tersebut secara komersial perlu diacungi jempol, dari polling SMS yang mereka sediakan dengan tarif dukungan bagi mereka para audiens di seluruh tanah air yang mendukung calon artis pilihannya, mereka yang memperoleh polling sms terbanyak, itulah yang menjadi calon artis cilik pendatang baru, penilaian untuk mereka para calon artis cilik pun tidak objektif, hanya dilandasi nilai pencapaian tarif polling sms tersbut. Belum lagi pemasangan iklan,  tetapi dari sudut akademis jauh dari target

Lagu-lagu anak pun berangsur hilang, tak ada lagi generasi yang menyerupai Adi Bing Slamet, Cicha Koeswoyo, Diana Papilaya, Dina Mariana, Vien Isharyanto, atau Yoan Tanamal. Atau juga, kemana Agnes Monica, Bondan Prakoso, Sheirina, Joshua baru, yang mampu mengembalikan kembali Dunia Hiburan Anak-anak yang hilang itu.

IV.2                 SARAN

Arus globalisasi tak dapat kita bendung. Agar tidak ketinggalan zaman, kita perlu mengikuti lompatan modernitas. Maraknya sajian hiburan di televisi atau mudahnya akses internet yang menyediakan beragam informasi tak disangkal merupakan bagian dari denyut kehidupan abad ini. Namun jika tidak dibarengi dengan pemantauan ketat terhadap anak-anak, tidak menutup kemungkinan dapat berakibat buruk bagi kehidupan mereka kelak. Di sinilah peran orang tua dipertaruhkan. Seperti kita tahu, regulasi dari pemerintah perihal jenis acara yang ditayangkan belum sepenuhnya memenuhi kriteria dan diindahkan oleh pemirsa televisi. Semisal program yang bertanda “boleh dilihat oleh semua usia”, nyata-nyata isinya masih rawan ditonton oleh anak-anak.

Kreatifitas para pencipta lagu hendaknya diberikan satu wadah atau mediasi untuk mereka kembali berkespresi, tidak menutup kemungkin pemerintah pun memiliki peranan penting untuk kemajuan atau mengembalikan kembali eksistensi Dunia Hiburan anak, atau memberikan stimulus bagi insan media, ikut serta mengembangkan lagu  anak-anak kembali.

Bagi Investor media atau Industri musik cobalah mencari bibit kreasi baru untuk pengembangan lagu anak-anak yang lebih fresh dengan memperhatikan normatif dan proporsi anak-anak, sehingga Psikologis dan dunia mereka berjalan selayaknya anak-anak pada umumnya. Berikan mereka ruang publik agar bisa kembali lagu anak-anak seperti dulu. Yach, 10 tahun yang lalu saat populeritas lagu anak-anak itu ada.

Lalu Muncul Pertanyaan Baru,

KINI, DIMANA LAGU ANAK-ANAK ITU BERADA  ?

Suara-suara polos dari lagu anak-anak seperti Abang Tukang Bakso, Naik-Naik Ke Puncak Gunung, Bintang Kecil, dan lain sebagainya itu masih bisa kita dengar di salah satu media Hiburan Anak-anak di Pinggir kota, mungkin sebagian dari kita tahu ODONG-ODONG, kreasi alat atau sepeda yang dimodifikasi menjadi sarana hiburan yang lebih dikhususkan kepada anak-anak Balita, bentuknya menyerupai aneka permainan di  yang ada di sarana hiburan berkelas, hanya memberikan uang Rp. 1000,-. Kita dapat mendengar lagu-lagu itu di putar, seiring lagu habis, habis pula kesempatan anak-anak untuk menikmati sarana hiburan Odong-odong tersebut.