PINTA MALAIKAT KECILKU

Posted on Januari 30, 2012

0


PINTA MALAIKAT KECIL

”Mama-papa terimakasih untuk kadonya.” Begitu lantang suara yang keluar dari bibir kecil nan mungil dengan ekspresi wajah polos tak berdosa. Gambaran seperti inilah yang diterima setiap anak di saat hari istimewanya itu datang. Menanti kejutan yang tak ternilai di malam ulang tahunnya, pesta kecil itu pun dimulai. Beribu kecupan hangat dan senyum lepas dari bibir orang-orang yang menyayangi dan mencintainya seiring dengan iringan musik dan gempita lagu happy birthday’s serempak dinyanyikan bersama. Begitu senangnya, seakan kenangan itu tak akan hilang dalam memori sang anak. Bagaimana orang tua meraka begitu hangat memeluk dan melepas kecupan hangat di keningnya.

Nampak ada yang berbeda di hari istimewa bocah kecil pemilik nama Azka sedikit berbeda dengan anak-anak kecil seumurannya. Ia tahu hari ini hari yang dinanti, hari di saat ia terima kado kecil dan kecupan hangat dari ayah dan bundanya. Waktu begitu lama bergeser, detik jam di dinding kamarnya ia perhatikan seakan terseok, menit berganti lama rasanya. Sesekali ia perhatikan matahari di balik jendela kamar mungilnya.
“ Matahari cepeet doong terbenam. Oooh bulan cepatlah datang. Azka capeee niih nunggunya.” Mata polos melirik di celah jendela menatap jauh ke matahari yang berangsur bergeser dan semakin panjang bayangan yang jatuh, bertanda sebentar lagi malam tiba.

Secepat mungkin bocah itu berlari, diambilnya handuk yang tergantung di depan kamar mandi.
“Happy birthday’s to you….Happy birthday’s to you…Happybirthday’s…Happy ….Birthday’s…..Happy birthday’s Aaaaazkaaa…” Sambil bernyanyi riang, suaranya terdengar menembus daun pintu kamar mandi.
Akhirnya bulan yang dinantinya pun datang, terlihat senyumnya mengembang. MAsih menunggu di balik jendela kamar, telinganya begitu peka mendengar suara mobil yang lalu-lalang di depan rumahnya, seakan ia hapal benar suara deru mobil milik ayahnya. Lagi-lagi ia kecewa, ternyata suara di luar sana bukan mobil milik sang ayah. Dengan penuh kegelisahan ia tetap sabar menunggu.
“Tuhan, semoga tak terjadi apa-apa dengan ayah Azka. Kok lama yaa sampenya Yaaa?Azka jadi kuatiiir…”Suaranya mulai melemah di balik wajah yang terlihat jenuh.
Mata Azka kecil mulai sayup, perlahan bola mata tertutup kelopak matanya yang mengatup. Pelaan…Pelan…hingga akhirnya ia tertidur pulas.

***

Usang baju yang ia kenakan, rambutnya yang sudah hilang kilaunya seiring dengan harapan dalam penantian yang kini terganti dengan fantasi mimpi panjangnya. Tak lama, sang Bunda begitu hati-hatinya membuka pintu kamar. Takut suara ayunan pintu mengusik lelap tidurnya. Di tangan wanita pengusaha butik dan galeri ini terhimpit kotak besar yang begitu apik disampul kertas kado berwarna hijau dengan motif super hero, sebagai pemanis pita putih merekat di atas-nya. Di meja makan, kue ulang tahun dan lima lilin merah memenuhi permukaan, bertanda ini ulang tahun Azka yang ke-5.
“Biar esok pagi saja lilin-lilin ini kita nyalakan ya Yaah?” Saran Bunda ditemani suaminya yang juga memiliki aktifitas serupa dengan sang istri.

***

Tak disangka Azka terbangun dari tidur, di atas meja kamar sudah terlihat kado. Ia pun tahu kado itu pemberian dari kedua orang tuanya. Bukannya menghampiri kotak itu, justru Azka mengambil secarik kertas dan pensil berwarna dari tas sekolahnya. Begitu terbata-bata ia menulis satu persatu kata, sesekali jemarinya terhenti, ia menggigit pinsil berwarna. Nampak ia sedang berpikir dan terlihat tak ada lagi kata yang harus ia ukir.
“Sudah cukup. Azka bingung harus nulis apa lagi”
Tanpa berpikir lama, ia angkat kado pemberian kedua orang tuanya. Tepat di depan pintu kamar Ayah-Bunda ia letakan kado itu dan secarik kertas yang ia lipat rapih.
***
Sinar mentari membias di balik kaca jendela. Seakan sinarnya menjalar dan menjilat di setiap celah fentilasi. Hingga membangunkan sepasang suami-istri yang beruntung diamanatkan tuhan anak yang tampan dan lucu, kulitnya putih dengan rambut tipis kemerah-merahan.
Mereka begitu tergesa-gesa terbangun dari tidur, seakan menghitung mundur dinamit yang akan meledak, keduanya begitu lelap tertidur, keduanya nampak begitu lelahnya seharian berjibaku dengan aktifitas bisnis yang mereka geluti.
Tanpa disadari ujung jemari kaki tersandung benda keras di depan kamar.
“Aduuuh, siapa yang menaruh kotak di depan kamar siiih??!!”
Selembar kertas terjatuh bersamaan dengan bergesernya kotak, dengan rasa penasaran Bunda mengambilnya.
“Ayaaah…Aaaaayaaah..!!!” Lantang ia memanggil sang suami yang masih tertidur.
“Apaa ndaaaa??!!Ayah masih ngantuk..”
Terpaksa ia menghampiri suara lantang yang memecah pagi. Sayup mata yang masih kantuk melihat tulisan yang memang tak begitu rapih tetapi cukup mengjutkan mereka.

“Ayaah…Bunda…Azka ucapin terimkasih atas kadonya. Azka seneng setiap saat Ayah dan Bunda berikan Azka maenan. Sampe-sampe Azka nggak tau lagi, siapa yang mau nemenin Azka maen dengan segudang robot-robotan dan mobil-mobilan yang Ayah dan Bunda kasih untuk Azka.Tapi bukan itu yang Azka mau.
Ayaaaah…Bundaa
Boleh Azka minta waktu sedikit saja. Azka punya tabungan sedikit yang Azka kumpulin dari uang jajan. Azka iklas kalo uang yang Azka kumpulin ini sebagai pengganti waktu Ayah dan Bunda yang begitu sibuknya sampe lupa kalo Ayah…Bunda masih punya Azka.
Ayah…Bunda…
Terimakasih kadonya.

Cium sayang dari DEDE AZKA.

Ditandai:
Posted in: CERPEN