Siapa yang tidak kenal dengan Haji Masykur ? Seorang pengusahan terkenal, lagi dermawan. Usaha yang digelutinya berpuluh-puluh tahun sebagai saudagar alat berat dan barang bekas. Meskipun perjalanan hidupnya semasa remaja tidak seperti remaja pada umumnya, yang hampir seperempat waktu dihabiskan hanya untuk berkelakar dan bersendaugurau. Masykur muda mengawali karir sebagai pengumpul plastik. Begitu apik ia bersihkan kantung-kantung tersebut, setelah terkumpul barulah ia jual kepada tengkulak, uang lebih dari usahanya ia sisihkan untuk modal awal membeli besi tua. Dari sinilah mata air, sumber usahanya tumbuh berkembang. Kemitraan yang ia jalani, ikut membantu membesarkan namanya.
Berbagai panca roba dalam dunia bisnis menjadi satu protein dan pengalaman hidup yang teramat berharga. Berlahan dengan penuh kontinyunitas dan konsistensinya lumbung penuh dengan padi, beras pun terisi karungnya pengibaratan atas karir dan puncak materi seperti inilah sekiranya pantas ia sandang. Hampir setahun dua kali shadaqah, zakat mal dan aktifitas keagaamaan ia tunaikan sebagai wujud kewajibannya sebagai seorang muslim yang diberikan kelebihan rezeki.
“Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, selama kita berusaha pasti tuhan tunjukan jalan,”keyakinan itu yang melekat dan menjadi kunci keberhasilan usaha yang ia tanamkan, alhasil ditahun ke lima ia mampu melebarkan sayap untuk mengembangkan usaha lain. Restaurant, kolektif pasar tradisional sampai ia mampu membangun masjid besar dan sekolah bertaraf internasional dengan anggaran uang pribadi.
Tahun pun berganti, usia rentah sudahlah takdir yang tidak dielakan. Sehat manusia akan berujung pada sakitnya. Tapi detik tidak akan kembali, usia manusia sudah tercatat kapan berakhirnya di-lauhul mahfudz. Waktu pun sudah menjelang, senja bertanda tertutupnya hari. Tak mampu lagi tangan mengepal, tak sanggup lagi kaki untuk melangkah, ketentuan rabbul azzali menjadi ketentuan untuknya. Nama yang agung kini terukir di atas prasasti nisan yang tak ada harganya dibandingkan nominal rupiah di buku tabungan yang ia miliki.
Bila Idzra’il datang memanggil
Badan terbujur dipembaringan,
seluruh tubuh akan menggigil sekujur badan kan kedinginan.
Walau harta melimpah ruah semua itu tiada berharga.
Harta yang dicinta, bukan milikmu
Inilah untuk kekasih yang baru.
Begitu syahdu terdengar sholawat seolah menjadi instrument sakral pengiring kepergian Haji Masykur. Kini tak ada lagi istri yang begitu setia menemani dari mulai terbangun dari tidur sampai malam menjelang, rumah yang megah, kendaraan yang mewah, kasur nan lembut berselimut sutra tak ada harganya lagi. Sanggupkah harta yang melimpah, mewakili ajalnya?Menunda kematiaannya?Tidak. Hanya lubang liang lahat gelap gulita, dan bunga setaman menjadi persematan terakhir dan salam penutup bakti handai dan taulan. SELAMAT JALAN HAJI MASYKUR, ayahanda, suaminda tercinta. Semoga amal ibadah menyertai mu.
***
Di depan pintu neraka ia protes. Mengapa kedermawanannya tidak mampu menghantarkan ia kepintu syurga.
“Wahai malaikat, hamba Tuhanku yang paling ta’at. Apa yang menjadi penyebab hamba di masukan ke dalam api neraka?” Wajahnya begitu muram, seakan sia-sia kedermawanan ia selama ini.
Dengan keteduhan sang malaikat yang sedikit toleransi karena kebaikannya selama di dunia menjawab,” Taukah kamu?Apa yang menjadi alasan yang mengantarkan kamu ke pintu neraka?”Senyum menghiasi bibir sang Malikat.
“Maafkan aku sekirannya keterbatasan ilmu yang hamba miliki. Jika diperkenankan, tampakan kesalahanku wahai makhluk Allah yang ta’at.”
“Ingatkah disaat membangun sekolah megah yang kau dirikan dengan keangkuhan uang yang kau miliki? Tembok yang menjulang tinggi hingga memakan jalan tetanggamu. Tau kah kamu siapa yang menjadi tetanggamu itu? Mereka yang keluarganya dipenuhi pancaran keilmuan dan membesarkan anaknya bukan dengan materi melainkan ket’atan dan keilmuannya. Mereka bingung untuk mencari jalan keluar hanya sekedar memenuhi kewajibannya menuntut ilmu.”
Secepat mungkin ia mengucapkan,
“Rabbighfirli Warhamni Waa tub’allayya.”

Posted on Januari 30, 2012
0