BADAN NASIONAL PENAGGULANGAN BENCANA ( BNPB ) Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana SRC-PB PREFENTIF BENCANA SEJAK DINI


Di penghujung tahun, serangkaian bencana yang terjadi di negeri ini membuat hati kita miris dan menimbulkan kekhawatiran. Belum selesai pemulihan gempa berkekuatan 7.3 skala richter (SR) pada hari Rabu 2/9/2009 sekitar pukul 14.55 WIB di Tasikmalaya. Posisi gempa berada pada 8,24 Lintang Selatan – 107,32 Bujur Timur atau 142 km Barat Daya Tasikmalaya dengan kedalaman 30 km. Yang menelan korban lebih dari 100 orang. Padang pun menyusul, Gempabumi tektonik kembali terjadi di Indonesia, Rabu (30/9/2009), dengan kekuatan 7.6SR lokasi gempabumi berjarak lebih kurang 57 Km Barat Daya Pariaman-Sumbar dengan kedalaman 71 Km.
Banjir di Maindeling Natal, Sumatra Utara Selasa (15/9) pukul 06.00 WIB, merendam enam desa korban tewas bertambah menjadi 38 jiwa, 15 orang masih dinyatakan hilang. Data tersebut diperoleh dari Dinas Informasi Komunikasi Sumut.
serangakian musibah kemanusiaan lainnya seperti kebakaran, angin puting beliung yang melanda pekalongan ( 29/11 ) 161 rumah yang ada di Kelurahan Degayu, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan mengalami kerusakan. Selain itu paling sedikit ada dua orang yang mengalami luka parah akibat tertimpa reruntuhan. Seakan membuat kita bertanya, apakah ini ujian atau peringatan Tuhan untuk bangsa ini ?
Terlepas dari itu, serangkain musibah ini membuat Presiden SBY
Dalam keterangan pers di Bandara Halim Perdanakusuma sesaat sebelum bertolak ke Padang, Presiden mengatakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sesuai dengan amanat undang-undang bertugas untuk memegang komando tersebut sehingga semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana itu dapat terkoordinasi.
“Jadi satu komando saja, yang lain di BKO-kan. Sementara kendali operasi BNPB. Saya itu yang kita lakukan, ke depan nanti tidak perlu banyak rapat-rapat yang penting tanggap daruratnya. Sambil jalan saja rapat,” tegasnya.
Sesuai dengan Undang – Undang No 24 tahun 2007 Pasal 12 tentang tugas BNPB, atas dasar inilah BNPB membentuk sebuah satuan kerja yang melibatakan
aparatur negara seperti Lembaga / Intansi Pemerintah, TNI, POLRI, BASARNAS, DEPKES, DEPSOS, DEP PU, DEPKOMINFO, DESDM, DEPHAN, PMI dan sejumalah Lembaga tertinggi negara lainnya yang tergabung dalam Satuan Reaksi Cepat Penaggulangan Bencana ( SRC-PB ) yang usai gelar dan peresmian SRC-PB di Lapangan Udara Halim Perdana Kusama ( 7/12 ), acara yang diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kesra, Dr.H.R. Agung Laksono didampingi oleh Kepala Badan Penaggulangan Bencana DR. Syamsul Maarif M.Si serta dihadiri oleh perwakilan tamu dari dalam dan luar negeri, Pejabat 27 intansi terkait yang ikut pula hadir.
Satuan ini memiliki dua basis teritorial, Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma sebagai basis operasi wilayah barat dan Lapangan Udara Abdul Saleh untuk basis operasional wilayah timur. Masing – masing basis tersebut disiagakan 581 personel dan 75 base ops. Serta beberapa tambahan unit perlatan operasional 40 buah motor trial, Hidrolic Rescue Carter, Unit Mobile Rescue, Lighting Tower, serta beberapa unit pelengkap lainnya. Walau terbatas dengan unit yang tersedia, penambahan itu akan terus diupayakan seiring kebutuhannya nanti, ujar Menkokesra Dr.H.R. Agung Laksono dan selaras dengan ucapan Kepala BNPB DR Syamsul Maarif M.Si seusai mengikuti rangkaian acara tersebut.
” Tiga prinsip utama SRC-PB itu kepada kecepatan yang dituntut oleh masyarakat, Fleksibilitas, serta Akuntabilitas yang nantinya bisa dipertanggungjawabkan secara etika dan hukum,”ucap Menkokesra dalam pidatonya.
Dalam acara tersebut turut pula digelar stimulasi kecelakaan oleh lembaga / intansi yang terkait dalam penanggulangan bencana tersebut, tugas struktural sesuai dengan wewenang masing-masing dan bidangnya, seperti BAKORNAS dan PMI serta Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ) bersama – sama mengevakuasi korban, lalu unit TNI, DINKES dengan komponen medisnya bersiaga penuh mengupayakan pertolongan kepada korban yang masih hidup, dan Kepolisian menidentifikasi jenazah yang sudah tak bernyawa. Tiga kekuatan udara seperti Helikopter TNI AU disiapkan untuk keperluan mengangkut logistik dan SDM yang terlibat dalam evakuasi bencana dan korban.
Namun apa yang diupayakan oleh pemerintah secara struktural dan termangement dengan baik tidak lah seimbang dan sinergis tanpa keikut serta masyarakat dalam membantu menanggulangi kemungkinan bencana yang tidak kita harapkan itu terjadi. ( ALBANA )

Iklan