TUHAN NO. 2

“Terkadang nama-Nya hanya terbesit disaat kita terhimpit dalam tekanan jiwa dan permasalahan yang kita hadapi. Namun disaat anugrah nikmat itu hadir ditengah-tengah kehidupan, kehadiran-Nya seakan tidak kita rasakan.”

Hampir setiap kali saya membuka akun jejaring sosial baik sengaja atau pun tidak disengaja, betapa banyaknya yang meng-update status tentang kegelisahan hati mengadapi pasangan hidupnya, baik yang resmi maupun yang belum diresmikan. Seakan-akan masalah cinta yang dihadapinya begitu beratnya. Hingga rasanya perlu dikatahui seluruh dunia tentang apa yang ia rasakan. Cacian, hinaan dan cibiran hingga mengharuskannya menuliskan do’a untuk orang yang menyakiti dan meninggalkannya. Kalau pun perlu lirik lagu tentang kepiluan itu dituangkan, semata-mata hanya ingin menunjukan,”Ini loooh, yang gue alami sekarang. Perih gelaa…!!” Saya hanya mengelus dada membacanya.
Tindakan seperti ini bukanlah tidak boleh, tetapi kembali lagi kita berpikir. Apakah dengan cara merengek, menjerit, mengeluarkan segala unek-unek dan keperihan hidup dapat mengembalikan orang yang sudah pergi?! Sementara dia yang meninggalkan kita begitu asyik gonta-ganti pasangan, sedangkan kita? Tersudut dalam kesendirian, meratapi, memikirkan dan menangisi orang yang memang tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan dan alami saat itu. Na’udzubillah min dzalik, sungguh kerugian yang amat besar atas tindakan kita yang menyia-nyiakan waktu.
Senyum yang semestinya menjadi ibadah, kini hilang sudah seiring kepergiannya. Akal sehat yang seharusnya menjadi buah dari tindakan yang bermanfaat bagi orang lain, kini harus terisolasi lantaran ditinggal orang yang belum tentu untuk kita. Waktu, pikiran dan tenaga terkuras habis bersama kisah cinta yang berujung pada perpisahan. Saat-saat seperti ini, barulah kita mengeluh dan menyadari akan kealpaannya kepada Allah. Nama-Nya baru terselip dicelah kekecewaan yang menderu.” Ya Allah, kok dia tega?!” Untuk mengingat asma-Nya begitu sulit lidah ini berucap, yang ada di benak ini hanyalah nama si dia, bukan Dia. Lalu apakah Allah cemburu dengan tindakan kita yang menghamba selain kepadaNya?Murkah kah Dia disaat nama kekasih lebih dominan kita sebut dibandingkan namaNya yang agung?! Jawabannya, tidak.


Justru Ia menghampiri kita dengan penuh kasih dan sayang, baik sadar atau pun tidak sadar nikmat itu masih diberikan untuk kita. Tidaklah mungkin lantaran kita lebih sering berkunjung ke rumah kekasih kita dibandingkan melangkahkan kaki ke rumah-Nya dengan begitu Allah menghentikan subsidi oksigen yang kita hirup ini?Marahkan Ia? Disaat begitu ringannya tangan ini mengeluarkan uang puluhan bakhkan ratusan ribu hanya untuk sekedar makan malam dengan si dia, tetapi disaat terlintas dihadapan kita seorang pengemis, kotak amal dan sumbangan anak yatim justru yang kita berikan hanyalah uang yang tersisa sehabis belanja dengannya. Betapa senangnya hati ini dan segera menjawab panggilan telepon atau SMS masuk dari sang pujaan, walau kondisi bagaimana pun juga, entah sedang mengendarai kendaraan atau begitu pulasnya tertidur tetapi itu bukanlah satu halangan untuk tidak mejawab panggilan tersebut. Lain halnya disaat suara adzan memanggil, seruan hendak menegakan sholat dan perintah Tuhan, berpura-pura dan mengabaikan seruan-seruan itu. Apakah Allah membenci kita?