KETIKA JANDA BICARA DIHADAPAN TUHAN

KETIKA JANDA BICARA DIHADAPAN TUHAN

Apa yang terbesit dibenak anda ketika bicara tentang janda? Wanita yang ditinggal suami, kalau itu sudah menjadi estimologi umum yang memang sudah dipahami secara harfiah yang mendasar, bahwa janda ialah predikat bagi seorang istri yang tak lagi bersuami atau ditinggal cerai atau mati oleh pasangan pernikahannya. Lain penafsiran secara estimologi lain pula penafsiran atau predikat JANDA memiliki arti yang berbeda di dalam masyarakat kita, baik dikalangan pengemis maupun selebritis. Bahwa janda memiliki pergeseran arti. Janda identik dengan wanita usil, kesepian dan pribadi yang rentan menurut pandangan masyarakat pada umumnya. Ketika bicara JANDA, image yang timbul dan didiskriminasikan sebagai wanita yang cendrung dengan pandangan negative.
Aib rasanya bagi orang tua yang memiliki anak yang menyandang gelar JANDA, satu ujian hidup yang berat bagi si wanita yang menjalani pribadi tersebut. Ruang gerak menjadi terbatas ketika predikat janda disempatkannya. Kalau pun boleh jujur, siapa sih yang ingin menjanda? Disetiap gerak-geriknya menjadi buah bibir. Bagi wanita lajang, ketika satu kancingnya lepas, bukanlah hal yang aneh dan cukup sebatas mengusik pandangan mata lelaki normal. Lain halnya ketika kancing baju janda yang lepas, ramai orang sekelurahan membicarakan KANCING JANDA.

Di mata sebagian lelaki, asumsi seorang janda merupakan pribadi yang rapuh dan begitu mudah untuk dijadikan sasaran tembak yang empuk untuk menawarkan angin syurga dan mahligai rumah tangga yang semu, ini yang selalu ditawarkan mereka. Ujung-ujungnya kekecewaan yang dirasakan hingga akhirnya menjadi trouma sampai kepada kebencian yang mendalam. Rasanya alergi mendengar nama lelaki, semua lelaki dipandang sama, ujung-ujungnya hanya sebatas pengesahan aktifitas ranjang saja yang diinginkan. Wajar, hal ini dirasakan seorang janda dan menjadi luka baru sebelum luka lama itu belum terobati.
Belum lagi ketika ia dihadapkan seorang calon mertua dari lelaki pengganti, penolakan itu pasti ada dan dijadikan satu pertimbangan dan dilematis bila berkomitmen untuk menapak bahtera rumah tangga yang baru jika memiliki calon istri seorang janda, kalo ada yang single, mengapa harus memilih status ganda, kan masih banyak wanita yang perawan. Kalau boleh meminjam jenis rasa yang tertera ketika kita membeli roti. Beraneka rasa yang bisa kita pilih, demikian juga disaat bicara tentang wanita dengan barometer keperawanan yang berkembang di masyarakat modern dan terkait dengan predikat janda.
• Ada perawan yang memang benar-benar rasa perawan
• Ada janda rasa perawan, dan
• Ada perawan rasa janda.
Nilai keperawanan itu yang juga menjadi asumsi bahwa identifikasi gelar atau setatus janda hanya sebatas ( maaf ) selaput kewanitaan saja.

Ada Dosa Dalam Kesendirian

Bukan hanya pria, wanita pun ingin merasakan sentuhan hangat, keharmonisan dan ketentaraman dalam berumah tangga. Pernikahan itu cukup satu kali seumur hidup. Jika kegagalan dalam berumah tangga itu terjadi, bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab tuhan. Pada hakikatnya apa yang Tuhan ciptakan dan berikan itu semuanya baik, hanya makhluknya dalam hal ini manusianya yang memilih jalan yang sedikit menyimpang dari ketentuan yang sudah digariskan, namun tak perlu kita membahas lebih jauh yang menjadi dapur tuhan. Kesendirian itu menjadi beban yang tidaklah sama antara wanita single dengan wanita yang menyandang predikat janda. Cobaan dalam kesendirian yang dirasakan pun berbeda, kembali lagi ke ruang gerak yang terbatas.
Dahulu berbicara dengan lawan jenis bukanlah sesuatu yang teramat penting di masyarakat, tetapi setelah predikat janda itu melekat pada individu seorang wanita. Pandangan itu bergeser jauh dari status sosial sebelumnya. Mungkin ketika single, gunjingan ringan saja yang terdengar, tetapi ketika status janda itu melekat berbagai pembicaraan seakan tak putus-putusnya menjadi buah bibir, berita yang tak pernah habis. Begitu juga dalam berpenampilan, ada yang terbuka sedikit saja seakan menjadi pemberitaan yang begitu besar. Janda lagi..Janda lagi.

Ketika Janda Bicara Dihadapan Tuhan
Simak curahan hati seorang wanita yang ditinggal suaminya berikut ini ;
Bukan aku menyalahkan takdir, bukan pula aku menghujat tuhan tentang kemalangan yang kini aku rasakan. Tetapi engkau tahu aku hanyalah wanita biasa, wanita yang masih belajar tentang arti hidup, belajar bersyukur atas ujian yang tuhan berikan. Entah ujian, entah cobaan hidup yang begitu berat aku rasakan.
Aku hanya wanita biasa…
Yang rindu akan keharmonisan, kehangatan rumah tangga yang dahulu aku rasakan begitu indah. Aku rindu suara, canda dan tawa yang memenuhi seisi ruang dan relung jiwaku. Dan pelukanmu yang menenangkan batinku, kecupan hangat yang masih membekas di dahiku. Aku rindu, ketika hidung dan bibirku mencium kulit tanganmu seusai sholat. Kini tak ada lagi ku temukan…

Aku hanya wanita biasa…
Yang rindukan seorang imam dalam sholat dan hidupku. Namun apa yang harus aku jawab ketika tuhan mempertanyakan janji sehidup semati yang kita ikrarkan disaat Ijab dan Kabul dahulu. Kamu harus tahu, cintaku bukan symbol dari merpati yang katanya tak ingkar janji, justru merpati yang mudah pergi dan lupa tuk kembali ke sangkarnya. Di sini, aku tunaikan janji ku kepadamu. Bukan semata-mata selepas kepergianmu aku merasa bebas dari belenggu rumah tangga yang berpuluh-puluh tahun kita jalani. Sungguh mudah bagiku untuk mencari penggantimu, lagi-lagi bukan karena itu. Hanya karena aku malu jawaban apa yang akan ku beri ketika tuhan mempertanyakan kesetiaanku kelak. Terlebih tak ada lelaki lain yang mampu sepertimu, lelaki yang mengingatkanku disaat aku khilaf dan alfa. Lelaki yang mencintai aku bukan karena kelebihan yang aku miliki. Justru karena kekurangan itulah yang menjadi alasanmu untuk menikahiku.

Suamiku…
Percayalah. Sampai detik ini aku masih merawat cinta yang kau tinggalkan. Tetap kusirami dengan do’a yang ku panjatkan. Penantian yang begitu panjang hingga nafas ini tak ada lagi di jiwaku. Tak ada yang aku tuntut untuk mu kelak. Cukup rasanya engkau menjadi imamku di dunia dan di akherat nantinya, itulah cita-cita terakhirku sebagai wanita yang kau tinggalkan.

Tuhan…
Bila nanti kau pertanyakan tentang kesetian cinta kami, jangan menjadi satu alasan untuk kami bisa bertemu lagi di syurga yang kau janjikan bagi wanita-wanita yang menjaga cintanya.

Tuhan,
Cukuplah diriMu yang menjadi penenang dan tempatku menyandarkan diri. Wahai pemilik jiwa-jiwa yang rapuh, pimpinlah hati untuk senantiasa menyadari diri ini hanyalah seorang yang penuh dengan noda dosa yang racunnya sudah mengalir dikujur tubuh atas kenistaan dan kenaifan diri.