“SAYA SUDAH IBADAH TAPI MASIH SUSAH” APA-KAH SAYA HARUS MURTAD???

Kok si A yang suka ke diskotik, gonta-ganti pasangan dan jarang terlihat ibadah dzohir kok begitu mudahnya memperoleh rezeki. Sedangkan saya yang sudah duduk lebih dahulu di masjid sebelum masuk waktu sholat, mengapa terasa begitu sulitnya hidup yang saya hadapi dan cobaan silih berganti?

Jelaslah betapa ibadah hanya dijadikan ajang spekulasi hidup tak ada bedanya dengan seorang petaruh bisnis dengan modal yang ia miliki, mencoba membangun dunia usaha atau tak hayal seorang pedagang yang kekeuh dengan prinsip ekonominya, mengharapkan untung lebih dengan modal sekecil-kicilnya.

Lagi-lagi cara pandang kita yang harus dirubah dalam menghadapi atau menyikapi segala sesuatu yang Tuhan berikan, jangan kita berfikir orang yang banyak hartanya merasa tentram dan orang yang memiliki pangkat yang tinggi dalam intasi mana pun ia bisa duduk tenang di meja tugas. Si hartawan harus rela menghabiskan waktunya untuk terus berusaha bagaiamana ia harus mempertahankan bahkan kalau bisa harta yang dimilikinya sekarang semakin bertambah dan terus bertambah. Begitu juga dengan mereka yang diamanahkan jabatan, mereka harus mampu menciptakan progress dan gagasan demi keberlangsungan aktifitas perniagaan bagi pelaku bisnis dan tidak berbeda jauh dengan intansi mana pun juga yang menjadi motor ( penggerak ) aktifitas termasuk sosial sekalipun, jika tidak mampu maka bersiaplah digantikan oleh tenaga ahli yang memiliki kelebihan dibandingkan kita. Tak elak, jabatan itu sama hal nya dengan harga diri walau hanya bersifat sementara. Saat kita tidak menjabat, apakah masih ada penghargaan yang orang lain berikan untuk kita? Lalu apa yang mesti kita banggakan lagi, jabatan atau harta kah yang semua itu tidak lah kekal?!!

Lalu mengapa Allah memberikan cobaan dan pederitaan disaat kita tak lepas dari ibadah kepada-Nya? Pertanyaan ini sama saja dengan, “untuk apa seorang guru atau dosen memberikan ujian kepada para mahasiswanya? Tak lain untuk mengetahui kualitas dan kuantitas muridnya, untuk apa? Layak dan tidaknya si murid menempati jenjang starata pendidikan yang lebih tinggi. Begitu pun juga dengan cobaan yang Allah berikan untuk hambanya, tak lain kebaikan yang diberikan demi satu jenjang keinsanan agar membentuk karakter la’alakum tataqun.

Disamping itu, Allah memberikan apa yang menjadi kebutuhan hidup, bukan keinginan hamba-Nya semata. Logikanya, tidak mungkin anak bayi yang baru lahir diberi makan nasi. Sama artinya ketika karunia rizki yang Allah peruntukan untuk hamba-Nya berarti memang ia layak untuk memperolehnya dikarnakan kesiapan diri, baik kualitas dan kuantitas si penerima amanat tersebut. Namun kekayaan itu bukanlah arti dan tujuan hidup, materi bukanlah identitas diri melainkan mereka yang di hatinya mampu bersyukur itulah nilai kekayaan tak ternilai harganya. ( Hasan Al Bana )

Iklan