MARI TAMASYA KE RUMAH SAKIT

“Mari Tamasya Ke Rumah Sakit”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.”
(HR. Muslim)

Siapa yang mau ditimpah sakit? Dan siapa yang ingin dirawat di dalam rumah sakit? Sudah pasti tidak ada satu orang pun yang mau mengalami hal itu. Rasa was-was yang begitu tinggi, keresahan, kekhawatiran yang timbul di dalam hati. Tak ada seorang pun yang akan tenang apabila berurusan dengan yang namanya rumah sakit, di tempat inilah “ uang tak bernomor seri”, di tempat ini juga seseorang tidak memiliki keberdayaan untuk merubah segala sesuatu yang menjadi garisan hidup, dokter ahli hanya mampu berkata,”semua kita serahkan kepada yang maha kuasa.” Dan orang-orang disekeliling kita sekalipun hanya bisa berucap,”sabar” walau sifatnya memberikan spirit tetapi kata-kata itu menjadi vitamin untuk tetap mencoba tabah menghadapi ini semua.

Sebelum bicara jauh, mari kita mengintip keadaan rumah sakit agar kita memahami setiap bagiannya memiliki hikmah tersendiri bagi kita. Ruang pertama Unit Gawat Darurat, disinilah ruangan awal jiwa-jiwa yang resah dipompa keimanan, karena di ruangan inilah titik kesadaran keimanan itu muncul, betapa lemah-nya kita sebagai manusia, sekian lama merintis usaha, menyisihkan sebagian rezeki harus kandas seketika hanya karena sakit yang diberikan.
Di ruangan ini, tubuh yang semula tampak kekar, kokoh dan nyaris jauh dari yang namanya penyakit. Kini terbujur tak berdaya, nafas pun tersengkal, sakit begitu terasa menjadi-jadi, hati begitu resah dan kesal. Apa yang kita sombongkan selama sehat, tak ada artinya. Harta yang kita miliki sebentar lagi berkurang, untuk membiayai berobat yang belum terdiagnosis dan menunggu hasil dari laboratorium serta analisa dokter.

Yang ditunggu membawa kabar, penyakit pun sudah dapat disimpulkan, para dokter angkat bicara. Ruang rawat inap yang menjadi tamasya kita kedua, di ruangan ini coba tengok kanan dan kiri ( jika memang anda tidak cukup biaya sekiranya kamar kelas tiga atau kelas ekonomi menengah ke bawah, lain hal kalau kita masuk ke ruangan VIP) bukan hanya kita yang mengalami kesakitan, masih banyak yang lain dan bahkan lebih parah dari apa yang dirasakan.

Berbotol-botol infus disuplai ke tubuh, tabung oksigen sebagai alat bantu nafas. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk dua alat tersebut ? Misalkan, harga infus itu mencapai dua puluh ribu per botolnya, dan satu hari kita membutuhkan sepuluh saja, maka uang sebesar dua ratus ribu yang harus kita keluarkan, belum lagi harga tabung oksigen. Di sinilah kita pun diajak merenung, andai saja tuhan menarifkan oksigen seharga infus dan tabung gas tersebut, berapa yang harus kita berikan untuk-Nya? Sedangkan dipinta untuk bersedekah saja kita enggan mengeluarkan darma dan zakat ( tak banyak 2,5 persen ) bila dibandingkan dengan nominal oksigen yang kita pakai seumur hidup kita ? Adakah Tuhan menarik oksigen dan membiarkan kita tak bernafas lantaran karena kesalahan serta dosa yang kita perbuat? Berkat kasih dan sayang-Nya yang lebih awal dibandingkan murkah-Nya. “Maka nikmat Allah yang mana, yang kita ingkari ?”

Iklan