SINDROM pra NIKAH “Siapa Takut!!”

SINDROM pra NIKAH
“Siapa Takut!!”

Sebagaian pria dan wanita dewasa yang berstatus ‘single’, secara materi, umur, serta kemampuan yang memang dinyatakan pantas untuk melangsungkan pernikahan dan layak untuk melepas status lajang yang selama ini melekat di identitas kependudukan atau Kartu Tanda Penduduk ( KTP ), terkadang memilih menunda pernikahan dengan alasan yang begitu variatif. Asumsi yang sering muncul dan memandang pernikahan itu ritual yang benar-benar sakral, inilah ikrar sehidup-semati ini harus lantang terucap disaat ijab dan kabul. Teramat sakralnya sampai-sampai suasana menjadi haru-biru disaat mempelai pria mampu berucap ijab, “ saya nikahkan…….” dan mempelai wanita pun meng-qabul-kan dengan suka-cita. Sungguh menjadi satu keberkahan tersendiri tatkala do’a dilantunkan, sholawat dikumandangkan serta ucapan pengharapan diterima kedua mempelai. Indah bukan? Dan bagaimana kita rasakan atmosfer khidmat dalam acara tersebut.

Tetapi ironisnya, masih banyak yang menunda pernikahan dan menganggap bahwa pernikahan itu tirani bagi kebebasan, pernikahan itu diilustrasikan seperti monster yang siap melahap hak dan kewajiban satu sama lain. Berbagi segalanya, entah suka atau pun duka. Belum lagi disaat punya anak, pembagian tugas dalam rumah tangga mulai menghadapi fase ‘open identity’ dimana terlepasnya topeng yang melekat pada semasa penjajakan dan romantisme malam pengantin.
Memilih cara lain sebagai sarana pendekatan, alih-alih mengenal kekurangan masing-masing, dari apa yang disukai dan tidak disukai sampai kepada melakukan sesuatu pembuktian, ‘yang sama-sama suka’ sebagai bentuk komitmen semu. Inikah yang disebut penjajakan dengan mengorbankan keremajaan ? Atau inikah cara terkini yang memang lagi trend, kalau tidak mengikuti budaya seperti ini berarti disebut tidak modern atau kampungan?!

Menikah diusia dini dianggap budaya kuno yang hanya ada di zaman oma dan opa saja. Ta’aruf dan konsep pra nikah berganti menjadi ajang mengumbar janji palsu dan menyampingkan nilai-nilai yang sudah menjadi budaya bangsa ini berangsur berputar seratus delapan puluh derajat. Mungkin di era enam puluhan, wanita dan pria yang bukan muhrimnya jika duduk berdua-duaan dianggaplah satu pemandangan yang begitu tabu, jalan berdua merupakan aib bagi keluarga. Aah, itu kan zaman dulu, tidak mungkin budaya itu masih berlaku di zaman sekarang dengan arus informasi yang begitu pesat dan tanpa batasan, itu kuno!!! Lucu yah? Memilih dinodai dibandingkan dipinang dengan halal, padahal tak lain tujuannya hanya menyelamatkan dan menjunjung kehormatan baik bagi si pria maupun wanita.

“ Dan laki-laki yang menjaga kemaluan mereka dan wanita-wanita yang menjaga kemaluan mereka, laki-laki dan para wanita yang banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala , Allah Ta’ala menjanjikan bagi mereka pengampunan dan pahala yang besar ( Al-Ahzab : 35 ).

Ayat inilah yang menjadi attention untuk manusia khususnya pria dan wanita memahami, betapa Allah mengingatkan kita untuk menjaga kemaluan karena jika tak mampu menjaganya maka akan membawa dampak penyesalan. Pengalaman, cerita dan hikmah yang pernah kita lihat, gara-gara tidak mampu menjaga kemaluan banyak yang kehilangan jabatan, karir yang dirintis bertahun-tahun harus hancur begitu saja, usaha yang dibangun dengan peluh harus runtuh seketika itu juga dan bahkan rumah tangga terancam hancur. Tatkala manusia sudah mampu menjaga kemaluan, maka Allah akan menjanjikan pengampunan dan pahala bagi nya.

Dalam haditsnya, Rasulullah memberikan solusi bagi mereka yang tidak mampu menjaga kemaluannya.

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah! Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa) karena shaum itu dapat memben-tengi dirinya.”

Bagi seorang lajang, menikah merupakan cara untuk menjaga kemaluan. Lalu yang aneh, mengapa takut untuk menikah? Wajar menikah diusia dini ketakutan-ketakutan itu muncul karena ketidak yakinan kita, bahwa Allah-lah yang akan menjamin rezeki bagi hambanya yang melangsungkan pernikahannya atas dasar menjaga kesucian dan menghidar diri dari fitnah.

“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)”
(HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

Dan Allah akan memberikan pertolongan bagi mereka yang melangsungkan pernikahan, semata-mata menjaga kesucian dan kehormatannya, inilah janji-Nya ;

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang ditolong oleh Allah, yaitu orang yang menikah untuk memelihara dirinya dan pandangannya, orang yang berjihad di jalan Allah, dan seorang budak yang ingin melunasi hutangnya (menebus dirinya) agar merdeka (tidak menjadi budak lagi).

Dan yang paling berbahaya adalah mereka yang melakukan zina, selain Allah akan tutup pintu rezekinya dan pelaku pun akan merasakan kedahagaan yang teramat dahsyat hingga akhirnya menjadi candu bagi dirinya sendiri, belum lagi siksa api neraka yang siap menyambut kedatangan penguni-nya. Na’udzubillah min Dzalik.
Sahabat, yakinlah Allah akan membuka-kan jalan bagi mereka yang memang ingin menyegerakan pernikahan bukan karena tergesa-gesa tetapi lantaran takut berdosa, menjaga kehormatan dan kesucian serta mencegah fitnah. Janganlah takut miskin jika memang itu yang menjadi penghalang diri untuk menikah.

Bagi yang memang belum Allah berikan pendamping hidup, bersabarlah dalam sholat dan do’a. Pahamilah, “ wanita baik hanya untuk lelaki yang baik pula.” Untuk itulah mari menjemput jodoh itu dengan sama-sama memperbaiki diri agar kelak Allah berikan pendamping yang baik. Wallahu’alam…

20 Ramadhan 1433 H
Hasan Al Bana, @akualbana

Iklan