SYI’AH BUKAN MAZHAB KEMARIN SORE

SYI’AH BUKAN MAZHAB KEMARIN SORE
Oleh : HASAN AL BANA

Tragedi Sampang seakan menyentil telinga kita untuk lebih bijak menghargai kemajemukan dan toleransi antara sesama pemeluk agama, bukan saja dari satu golongan saja tetapi justru dengan pemeluk antar agama untuk memahami perbedaan yang dijadikan peruncing, hingga menyulut tragedi kemanusiaan dan mencoreng nilai-nilai kerukunan yang jelas menjadi identitas bangsa Indonesia.
Penyerangan terhadap minoritas Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Jawa Timur pada 26 Agustus 2012 telah menimbulkan korban 1 (satu) orang meninggal dunia, 1 (satu) orang dalam keadaan kritis, 5 (lima) orang luka berat dan puluhan luka ringan. Penyerangan itu juga telah menimbulkan puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal, harta benda, 50 rumah terbakar serta banyak anak-anak yang terancam kehilangan kesempatan belajar karena mereka harus hidup di tempat pengungsian Gedung Olahraga Sampang dalam keadan terancam.

Peristiwa Sampang bukan saja mengancam individu tetapi bisa membawa dampak kepada permasalahan bangsa yang cukup membuat awak istana negara harus turun tangan dalam menyelesaikannya. Bahkan bisa menyulut kepada permasalahan Internasional, bagaimana hubungan bilateral antara Indonesia dengan Iran, negara pemeluk mazhab Syi’ah terbesar, yang cukup dijadikan refrensi pada tahun 2011 Indonesia banyak impor dari Iran minyak mentah serta kacang-kacangan, sementara produk ekspor Indonesia ke Iran antara lain minyak kelapa sawit, benang, bahan baku tekstil, ban, suku cadang mobil, karet, bubuk coklat, kopi, karton dan kayu. Catatan KBRI Teheran, umumnya perdagangan kedua negara alami tren peningkatan dengan surplus di pihak Indonesia, tapi tahun 2009 turun akibat krisis ekonomi global ( kompas 30/8 ).
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh justru mengaku hubungan Indonesia dan Iran meningkat 100 persen saat Iran dijatuhkan sanksi. ”Insya Allah tidak ada masalah hubungan Indonesia dan Iran ke depannya. Dengan dukungan bangsa dan masyarakat Indonesia, hubungan akan terus berkembang,”kata Farazande didampingi Atase Pers Ali Pahlevani Rad di sela peringatan Hari Nasional Iran ke-33.

Pemerintah Indonesia, ujarnya, mendukung perluasan dan perkembangan hubungan di berbagai sisi dan segi. ”Terdapat lebih dari 1.000 komoditas dengan tarif tertentu yang diekspor ke Iran dari Indonesia. Ekonomi Indonesia dan ekonomi Iran adalah melengkapi satu dengan lainnya,” kata Farazandeh.
Iran juga dengan mudah dapat bekerja sama dengan Indonesia untuk menyuplai energi baik berupa listrik, gas dan berbagai bidang lainnya. “Kami siap untuk bekerja sama. Untuk diketahui, impor indonesia dari Iran kurang lebih 1,1 miliar dolar AS di luar minyak per tahunnya,”katanya. Jika kasus Sampang tidak diselesaikan dengan bijak dan menemui jalan buntu maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi krikil untuk hubungan kedua negara tersebut.

Tapak Tilas Syi’ah di Indonesia

Terdapat tiga pendapat tentang kapan awal masuknya aliran Syi’ah ke Indonesia. Pertama, sebagian ahli sejarah berpandangan ia dimulai semenjak Islam diperkenalkan pertama kali ke tanah air (Nusantara), yaitu pada sekitar abad ke-4 Hijriah. Hal ini terbukti dengan banyaknya prasasti dan makam para pendatang Muslim yang terletak di kawasan pulau Sumatera pada masa itu.
Kedua, pandangan yang mengatakan bahwa awal masuknya ajaran Syi’ah ke Nusantara yaitu pada masa Dinasti Abbasiah; atau sekitar abad ke-3 Hijriyah. Sebagaimana yang telah dicatat oleh sejarah, bahwa pada masa ini, para pengikut ahlul bait selalu menjadi sasaran target kezaliman dan tekanan yang luar biasa dari para penguasa yang akhirnya memaksa mereka memilih eksodus ke wilayah-wilayah yang jauh dari jangkauan kekuasaan Abbasiah tersebut. Di antara mereka adalah para pengikut dan cucu Imam Ali bin Ja’far Shadiq yang merupakan salah seorang dari duabelas Imam Syi’ah. Dari salah satu cucunya ini, ada yang bernama Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Imam Ja’far Shadiq yang laqabnya lebih dikenal dengan sebutan “Al-Muhajir”. Melalui beliau dan keturunannyalah yang kemudian menetap dan beranak-pinak di Nusantara.
“Al-Muhajir” beserta para sahabatnya menempati kepulauan Nusantara diperkirakan pada tahun 313 H. Sebelumnya ia tinggal di Bagdad (Ibu Kota pemerintahan Islam ketika itu). Sebelum sampai ke Nusantara yang dahulu meliputi (Malaka,Indonesiadan Philipina) mereka singgah terlebih dahulu diIndiauntuk transit dan sekaligus juga melakukan dakwah disana.
Ketiga, pandangan yang mengatakan bahwa masuknya ajaran Syi’ah ke Indonesia bertepatan dengan kali pertama masuknya Islam ke Nusantara; yaitu di saat Rasulullah masih hidup. Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Di perkampungan- perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan- perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).
Dari kronologis sejarah masuknya mazhab syi’ah di Indonesia menjadi satu bertanda bahwa mazhab ini bukan produk baru dalam perabadan Islam di Nusantara. Ironis jika tragedi Sampang merusak catatan sejarah kerukunan umat beragama.

SYI’AH dan FATWA SESAT MUI JATIM

Badan Silaturahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA) menginginkan keselarasan fatwa haram yang dikeluarkan Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur dengan MUI pusat untuk mengelurkan fatwa serupa dengan MUI Jatim yang menyesatkan mazhab syi’ah tersebut. Namun belum sempat melanjutkan konflik akhirnya terlanjur pecah sebelum ulama BASSRA menemui Pemkab Sampang. Konflik itu, dipicu oleh anak-anak Syiah yang dipondokkan di YAPI Bangil dan Pekalongan. Para anak-anak Syiah itu, hendak berliburan lebaran di kampung halamannya.Tetapi, tiba-tiba bus yang hendak menjemput mereka dihadang oleh masyarakat. Karena tidak terima, kaum Syiah kemudian menyerang dengan bom molotov dan terjadilah bentrokan. Lalu, kaum Sunni dari luar desa pun berdatangan. Karena banyaknya massa aparat kepolisian tidak dapat mencegah bentrokan tersebut.

Amat naif jika fatwa haram dengan mudahnya dikelurkan tanpa harus mengkaji serta meneliti titik sesatnya syi’ah yang selalu digembar-gemborkan. Kalau dikatakan sesat, seberapa kadar kesasatannya? Nyata bahwa mazhab ini sama bertuhankan Allah dan mengakui dengan penuh keyakinan bahwa tak ada nabi setelah Muhammad.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai aliran Islam Syiah secara umum bukan merupakan aliran sesat. “Tidak sesat, hanya berbeda dengan kita,” kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, di kantor kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012 ( Tempo ). Letak perbedaan yang selalu ditonjolkan adalah tentang khilafah dan ibadah syar’i nya saja yang mungkin sebagian masyarakat kurang memahami perbedaan tersebut. ( Dari berbagai sumber )

Iklan