Poligami ‘Halal’ Kok

88

Diskriminasi agama dan menyudutkan seorang Muhammad serta Islam pada khusus-nya,jika mendengar kata Poligimi itu diucapkan, seakan Rasulullah dan Islam-lah yang menjadi sosok dibalik pelegalan menikah lebih dari satu orang istri. Inilah yang dihembuskan kaum orientalis, Yahudi dan Nasrani untuk terus menyudutkan umat Islam, seolah-olah agama Muhammad-lah yang mempopulerkan poligami.

Tanpa mau mengkaji sejarah dan tanpa mau menggali mencari tahu fakta yang sesungguhnya tentang polemik poligami yang selama ini menjadi konsumsi pribadi ‘mau enak-nya’ saja melakukan hal tersebut tanpa menulusuri hukum dan kebenaran tentang Poligami. Ketahuilah bahwa ;

a. Sebelum Rasulullah mencanangkan ‘ Empat Istri Saja Cukup’ justru orang-orang Nasrani-lah yang menjadi pelopor POLIGAMI tersebut. Sudah bukan rahasia lagi bagaimana prilaku Raja Qastanti dan putra mahkota-nya yang memiliki istri lebih dari satu.
b. Raja Falafius-lah yang melegal-kan suatu Undang-Undang tentang POLIGAMI dikalangan umat Nasrani.
c. Bangsa Romawi dengan Raja Saila-nya telah mengawini empat orang wanita dalam waktu dan masa yang sama, sedangkan kaisar Romawi sendiri mengawini empat orang wanita, ironisnya lagi perilaku ayah-nya diikuti sang putra mahkota-nya, Bumbay.
d. Dan Bangsa Ibrani pun telah melakukan Poligami dan kitab Talmud sendiri tidak membatasi jumlah wanita yang harus dinikahi, Nabi Sulaiman sendiri memiliki istri genap seratus orang.
e. Bangsa Mesir ( Diodur Ash-Shaqly ) dan para pembesar negara ini bukan saja ber-poligami melainkan bebas melakukan hubungan biologis dengan para budak wanita milik mereka.
f. Serta bangsa-bangsa lain yang serupa seperti Mabniyan, Babilonia dan India Kuno pun melakukan hal yang sama.

Jelas bukan? Bahwa sebelum Rasulullah memperbolehkan berpoligami, jauh sebelum hadir-nya Muhammad dan Agama Islam wanita tidak ada harganya, wanita terlahir hanya untuk menjadi pemuas nafsu dan perbudakan semata. Justru hadirnya Muhammad Ibnu Abdullah mengembalikan lagi derajat kaum hawa tersebut, mengingat tradisi bangsa Arab Jahiliyah memperbudak wanita dengan syahwat mereka masing-masing. Islam-lah yang memangkas habis kebiasaan bangsa-bangsa Arab jahiliyah dan bangsa lainnya yang memperlakukan wanita sebatas memenuhi hasrat dan nafsu syahwat mereka.

Setalah Islam datang, dalam Bani atau Kaum Tsaqif Rasulallah melihat ada beberapa anak laki-laki yang memiliki istri lebih dari lima, bahkan sepuluh wanita ada pada Kaum Tsaqif tersebut, diantara para penggiat wanita-wanita tersebut adalah Ghalian Bin Salamah, Sufyan Bin Abdullah, serta Mas’ud bin Amir. Setelah mereka memeluk Islam, maka mereka rela menceraikan keenam Istri-istrinya.

Dan yang sering sekali dijadikan dalil dalam hukum atau rujukan tentang poligami adalah surat Annisa ayat 3 yang sama-sama kita ketahui dan sama-sama kita pernah dengar, berbunyi :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Artinya :
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ( An-Nisa : 3 )
Dan dipertegas lagi oleh firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 129 ;

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa: 129]
Dua dalil tersebut-lah yang menjadi dasar dan syarat jika seorang suami ingin menikah lagi, dengan ketentuan sebagai berikut ;

a. Memperbolehkan Poligami dengan batas maksimal memiliki empat orang istri.
b. Sanggup berlaku Adil, dengan keadilan dalam men-suply kebutuhan pokok seperti menyediakan tempat tinggal, makan dan minum, pakaian, bermua’malah serta dalam menentukan ‘jam malam’ untuk masing-masing istri.
c. Dan sanggup menafkahi Anak-Istrinya kelak.
d. Persyaratan yang terakhir inilah agak sulit, bahwa keadilan dalam memberikan cinta dan kasih sayang, hal ini yang akan menjadi penghalang dan akan berdampak kepada ‘pembeda-bedaan’ istri dengan komposisi dan rasa cinta yang sama, ini tidak lah mudah, untuk membuat istri-istri tersebut saling akuur dahulu.

Dan seperti ini-lah Rasulullah menikahi istri-istrinya yang tidak semua pria mampu mengikuti untuk berlaku baik, beliau memiliki alasan mengapa menikahi istri-istri beliau, yakni ;

a. Rasulullah menikahi wanita-wanita yang sebagaian besar janda-janda tua yang suhada dalam pertempuran bersama beliau. Jika ia tidak nikahi, Rasulullah tidak mau menimbulkan fitnah ketika ia berbuat baik kepada janda-janda tua tersebut, sehingga menimbulkan persepsi yang buruk jika Rasulullah ingin memberikan sesuatu kepada anak dan istri dari sahabat-nya yang gugur.

b. Pernikahan beliau semata-mata berdasarkan atas faktor agama bukan nafsu dan kepentingan dunia semata, terkadang menjadi mediasi untuk saling mengakrab-kan satu dan lainnya sebagai cara rasulullah berdakwah dan menyebarkan syi’ar islam.

c. Poligami yang Rasulullah SAW lakukan sebagai bentuk penghargaan kepada para janda tua yang ditinggal wafat suami-nya untuk tidak berkecil hati dalam menafkahi janda rentah dan anak-anaknya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dan inilah nama-nama istri beliau beserta usia-nya :

a. Khadijah Binti Khuwailid ( Usia 40 tahun, Janda dua kali )
b. Saudah Binti Zam’ah ( Usia 70 tahun )
c. Aisyah Binti Abu Bakar Shidiq ( Dinikahi Rasul diusia 19 Tahun ) sebagai langkah meluluhkan hati Abu Bakar untuk beriman serta hikmah sebagai petunjuk dari Allah SWT, bahwa kelak Aisyah-lah yang akan mewariskan hadits-haditsnya mengingat Aisyah itu cerdas dan mudah menghafal )
d. Hafsah Binti Umar ( Usia 37 Tahun )
e. Ummu Salamah ( Usia 62 tahun )
f. Zainab Binti Khuzaimah ( Usia 50 Tahun )
g. Juwairiyah ( Usia 65 tahun )
h. Umi Habibah ( Usia 47 Tahun )
i. Zainab Binti Jahsy ( 45 Tahun )
j. Shafiyah ( Usia, 53 tahun Janda 2 kali )
k. Maimunah Binti Al-Harits ( Usia 63 tahun )
l. Mariah Al-Qibthiyah ( Usia 25 Tahun, dinikahi karena memerdekakan dirinya dari perbudakan dan menguatkan keimanannya )

Itu-lah beberapa alasan dan keterangan mengenai sunah Rasulullah yakni Poligami, sebagai jawaban atas pikiran dan opini yang salah tentang dirinya dan identitas sosial yang selalu dipojokan dengan Poligami oleh para pemikir dan misionaris demi memojokan Rasulullah serta agama yang diamanahkannya yakni Islam.

Serta menepis persepsi yang SALAH mengenai POLIGAMI, dipolitisir demi kepentingan SYAHWAT semata dan ulah oknum Islam sendiri untuk menjelek-jelekan agama Allah. Jika anda ingin ber-poligami, sanggupkah menikah dengan Janda berumur 70 tahun seperti Saudah Binti Zam’ah ???

Baca Artikel Lainnya :

Karyawan Magang Gaji 89 Jt Hanya Di Sini!

WOW!!!Dalam Waktu Satu Hari Penghasilan Wanita ini 663 Miliar

Dahsyatnya!!Penghasilan Anak Supir Truk Triliunan Rupiah

Terbongkar, Keaslian Injil

Israel Panik Muhammad Lahir di Tanah Yahudi

POLIANDRI DIBOLEHKAN

SISI LAIN SEORANG IBU, DIA ROBOT….

ADOLF HITLER, ISLAM dan ALQUR’AN

FAKTA KERJAAN DAN PANGERAN ARAB