Sisi Lain Seorang Ibu, Ia Robot Berhati Malaikat

Selamat Jalan Mamah

Lewat tengah malam, disaat jutaan manusia membahana di alam imajinasi dan mimpi, disaat ratusan malaikat berjaga dari kejahatan jin dan manusia yang mengancam mereka yang mengikrarkan diri, Amantu Biillah. Pasrah! Menyerahkan diri hidup dan mati hanya kerena Allah, ia istirahatkan sejenak syaraf dan tubuh yang sedari pagi letih beraktifitas.

Dibalik rambut yang kian memutih dan kulit yang rapuh, titik air mata yang jatuh terselip di antara kelopak mata, cermin bukti perjuangan yang ikhlas dan bibir yang senantiasa basah dengan do’a, “ Ya Allah, jika aku salah mendidik putra-putriku tuntunlah dan bimbinglah mereka dengan kasih sayang-Mu, tegur-lah mereka dengan Rahman-Mu, bukan murkah-Mu. Ya Rabb, tak banyak yang hamba pinta cukup-lah senyum syukur mengiringi kepergian hamba-Mu kelak, karena sudah purna tugasku sebagai pembawa amanah-Mu.” Sebait do’a yang selalu ku dengar disetiap do’a sang Ibu panjatkan disetiap sholat-nya.

Ibu

Di celah malam, sering kali saya merenung sambil memperhatikan perut Ibu. Terselip pertanyaan, “ andai nafasnya terhenti,” pikiran ini melambung jauh ke masa-masa saat kecil dulu, benar-benar menyusahkan, mulai dari dalam kandungan yang beliau harus sabar menahan mual dan sakitnya pinggang saat mengandung dulu, cerita ini yang masih saya ingat disaat kita sering berkelakar dan bergurau.
Perhatian saya tidak lepas disitu saja, iseng-iseng saya catat kegiatan beliau satu hari-an penuh. Mulai terbangun dari tidur, jam empat pagi sampai ia kembali memejamkan mata, sekitar jam sepuluh malam, belum lagi jika terbangun di sepertiga malam. Benar-benar melelahkan, beliau pandai menyembunyikan kelemahannya. Jika dikalkulasikan mengikuti jam kerja karyawan, dengan pertimbangan dan acuan jam kerja yang dikeluarkan MENAKERTRANS, efektif kerja itu tujuh jam. Mulailah berhitung dan bandingkan dengan jam kerja seorang Ibu.
Berapa gaji pokok atau upah yang pantas untuknya?! Dan adakah ia menuntut hak yang lebih dari suami dan anak-anak-nya?

Bercermin dari seorang ibu, hakikatnya sama juga memandang sisi lain wanita. Tanpa disadari dan faktanya wanita memiliki nilai lebih dari kaum pria, coba perhatikan ada hari Ibu dan tidak pernah ada hari Ayah, Ibu kota menyimpan bagian terpenting dari satu negara maka asset yang dikandungnya lebih diutamakan dan mendapat perhatian lebih bila dibandingkan wilayah lainnya, tidak ada sejarahnya tertulis dalam catatan ketatanegaraan sekalipun, bapak kota. Rasulullah sendiri memiliki pesan khusus tatkala beliau dalam genggaman sakrotul maut, “annisa…annisa, annisa ‘ittaqun nisa…” Beliau tidak ucapkan, “arrijal…arrijal…’ittaqurrijal…” dan petuah abadi juga sering kita dengar,”syurga di bawah telapak kaki ibu,” tidak pernah terdengar ada syurga di bawah telapak kaki ayah bukan?
Sejarah mencatat bagaimana hawa diciptakan bukan hanya menemani sang Adam, dunia pun tak bisa bungkam tentang sosok Khadijah yang senantiasa menopang perjuangan dan perjalanan Rasulullah menegakkan lahfadz ‘Laa Illa Ha Ilallah…” Serta bagaimana tabah-nya seorang Fatimah Azzahra menemani kepedihan hidup khalifah ke empat yang sekaligus menantu Rasulullah, Ali Bin Abu Thalib. Dan masih banyak lagi, nama-nama wanita hebat yang tercacat dalam sejarah peradaban manusia. Mungkin telinga kita tidak asing mendengar siapa itu Maryam Binti Imran atau yang popular dengan sebutan lainnya, Bunda Maria dari rahimnyalah seorang Isa A.S terlahir , Asiah Binti Mahazim istri Fir’aun yang membesarkan nabiullah Musa A.S, Siti Hajar Ibu dari nabi Ismail A.S dan Fatimah Azzahra darinya lahirlah Hasan dan Husein. Merekalah yang mewakili sosok seorang ibu ( wanita ) yang melahirkan generasi Rabbani, inilah cerminan bahwa dari rahim wanita-lah para tokoh dunia itu dilahirkan.

Mengenang 40 Hari Ibunda Tercinta pergi
“Rabbi, hanya Engkau yang mampu membalas KEBAIKANNYA, sungguh baktiku tak seberapa”