25 Desember 2011

Kali Pasar Baru begitu jernih, tak seperti biasa. Walau langit sedikit terselip gemawan hitam, bukan bertanda akan turun hujan kan?

Gadis Chines dengan rambut kriting ozon itu keluar dari Gereja.
Dan duduk di sisi ku yang sedari tadi mata ini tak putus memandang Gedung warisan Belanda yang kini dijadikan Balai Pertunjukan Seni.

“Yank, aku mau ngobrol serius!”
“Tentang?” Sekali aku isap asap roko dalam-dalam, pudar pemandangan indah yang aku nikmati, selagi menunggu Alphany yang baru saja selesai kebaktian.

“Tentang hubungan kita.”

Kami pun beradu pandang, tatapan mata ini dingin memandang wajah gadis itu. Ada yang aneh!

“Yank, aku…aku mau menikah!”
“Baguslah. Lagi pula hubungan kita sudah cukup lama dan ini saat yang tepat untuk kita akhiri di pelaminan.”

Aku lihat mata gadis itu berkaca-kaca. Mungkin ia senang dengan niat baik ku untuk menikah dengannya.

“Akuuu….aku menikah dengan yang se-iman, bukan dengan kamu yaaank…Perbedaan keyakinanlah yang membuat aku terpaksa harus memilih. Kamu muslim yang ta’at dan aku sendiri pelayan gereja.”

“Jaaaadiiiii!!!! Kamu sudah mendapatkan calon suami mu selain aku. Kenapa sekian lama kita berhubungan baru hari ini, kamu bilang kita beda keyakinan.
Mengapa di hari kelahiran sang juru selamat mu itu kamu nodai dengan pernyataan seperti ini, aku yakin Jesus pun tak ingin memiliki umat yang menyakiti sesamanya.”

“Keyakinan ku sudah kekeuh dan tidak mungkin kita menikah beda keyakinan.”

“Ingat Thea! Cinta itu fitrah…..cinta itu bicara bahasa Tuhan bukan pembahasan agama sepihak…!!!”

View on Path