Noda Hitam Di Masjdil Haram

Wajah

Pertanyaan ringan, ketika masih duduk di bangku Madrasah Tasanwiyah ( MTs ) pernah saya tanyakan kepada kakek yang baru saja pulang menunaikan ibadah haji, “ Apa ada Pelacur di Tanah Suci Kong?” ( Engkong ( Betawi / Kakek ) Jawaban yang keluar cukup membuat saya yang saat merasa miris mendengarnya. Pertanyaan lugu itu tidak mudah keluar begitu saja, bagi saya itu adalah pertanyaan tabu dari seorang pelajar agama ditambah lagi orang yang saya tanyakan itu adalah Kakek, orang yang begitu dihormati. Dikarena sifat keingintahuan yang begitu tinggi, maka apa salahnya sekaligus melepas rasa penasaran, untuk itu saya beranikan diri bertanya hal yang pada saat itu saya anggap ‘tabu’ dan tidak santun.

Jawaban Kakek saya anggap kabar angin lalu saja tanpa refrensi, kasarnya tidak dapat dipertanggung jawabkan. Seiring perkembangan arus teknologi, maka tidak ada kata sulit untuk menggali lebih dalam kabar-kabur semasa MTS dahulu. Semakin mencari tahu, maka semakin membuat hati ini miris, seakan-akan tempat suci yang menjadi kota dan negara impian bagi seorang muslim, ternyata menyimpan ‘rahasia umum’. Yang lebih Ironisnya lagi justru Indonesia-lah ikut ambil bagian sebagai penyedia tenaga ‘jasa kehangatan’ dengan berkedok TKW.

Berikut ini beberapa artikel berita mengenai aktifitas pelacuran di tanah haram ;

A. Modus Kawin Kontrak

Selain bermodus sebagai tenaga kerja, pelacuran di Arab Saudi juga memiliki taktik sama seperti terjadi di daerah Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kawin kontrak merupakan salah satu strategi baru prostitusi bagi para tenaga kerja Indonesia di negara itu.

Ketatnya peraturan di sana terkait melakukan hubungan intim bukan muhrim dengan hukum rajam sampai mati tidak menyurutkan para pemburu lendir untuk bebas melakukan kegiatan haram. “Modusnya dengan kawin kontrak,” kata Ujang, 30 tahun, pekerja asal Indonesia di Kota Jeddah, Saudi, saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya pekan lalu.

Ujang mengatakan banyak buruh migran perempuan asal Indonesia melakukan kawin kontrak di Saudi. Mereka menikah di bawah tangan dengan lelaki Pakistan atau Bengali. Imbalannya 10 ribu riyal sekali nikah.

Pernikahan itu hanya berlangsung sesuai kontrak antara sebulan sampai tiga bulan. “Nikahnya bawah tangan. Maharnya misalnya 10 ribu Riyal,” ujarnya. Selain dengan cara itu, ada juga modus lain kawin kontrak dengan cara digaji seribu riyal saban bulan. Sehabis kontrak, pernikahan itu selesai.

Nasir, warga Indonesia juga bekerja di Jeddah, mengiyakan pengakuan Ujang. Dia bilang biasanya TKW menjadi istri kawin kontrak dibayar seribu riyal per bulan. “Memang ada biasanya berpisah karena dideportasi. Ya, karena surat-suratnya tidak lengkap,” tuturnya.

Jadi jangan kaget para TKW pelacur itu pulang menggendong bayi atau menggandeng anak berparas Timur Tengah. Padahal saat berangkat mereka sendiri.

Sedangkan untuk pelacuran berkedok TKW asal Indonesia, Nasir mengatakan tarifnya beragam. Tarif ditentukan sesuai negosiasi dengan mucikari. Sekali main biasanya mulai 150 riyal hingga 250 riyal.

Namun pelacur TKW punya harga spesial untuk pelanggan asal Indonesia. Tarifnya jauh lebih murah ketimbang saat melayani lelaki Pakistan, India, atau Bangladesh. “Harganya 70 riyal. Ada juga yang gratis karena suka sama suka,” kata Nasir.

B. Rute Jalur ‘Haram’

Merdeka.com – Bukan cerita baru jika banyak pembantu rumah tangga asal Indonesia di Arab Saudi kerap menjadi korban kebiadaban nafsu majikan. Maklum, lelaki Arab paling malu jika jajan sembarangan.

“Lelaki Arab Saudi jarang pakai pelacur, makanya di sini banyak TKI menjadi korban pelecehan seksual majikan,” kata Nasir, pekerja pabrik swasta internasional di Jeddah, saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya pekan kemarin. Nasir merupakan warga Indonesia dan sudah beberapa tahun menetap di Jeddah.

Sebab itu, kata dia, jangan kaget jika cerita pelecehan seksual dialami pembantu asal Indonesia menjadi buah bibir sesama para TKI di Saudi. “(Lelaki Saudi) jarang sekali main dengan pelacur karena dia malu dan lebih memilih menjaga marganya,” ujarnya.

Nasir memperkirakan 2,5 persen dari jumlah TKW di Jeddah bekerja sebagai pelacur. Jeddah memang menjadi kota terbesar buat pelacuran lantaran lebih bebas ketimbang kota-kota lain di Saudi. Mirisnya, pelacur Indonesia juga banyak beroperasi di Makkah dan Madinah. “Nomor satu Jeddah, nomor dua Makkah, nomor tiga Madinah,” tuturnya.

Memang enak melacur di Saudi. Selain tarifnya lumayan mahal, peminatnya banyak. Karena itu, banyak TKW asal Indonesia menjadi pelacur di Negeri Dua Kota Suci itu.

TKW asal Indonesia memang mendominasi pelacuran di Saudi. Saking terkenalnya, jangan kaget jika orang Pakistan, India, dan Bangladesh menyamaratakan semua TKI di sana sebagai pelacur.

“Bagi orang India dan Pakistan, orang Indonesia itu syarmuth (pelacur),” kata nasir. Namun penyebutan itu tidak berlaku bagi orang Arab Saudi. Mereka masih memandang orang Indonesia bukan pelacur.

Dihubungi terpisah, Ujang, pegawai perusahaan swasta di Jeddah punya cerita lain soal itu. Dia mengatakan pelacur TKW asal Indonesia juga beroperasi di areal pelacuran kelas atas di Kota Jeddah. Lokasinya di Jalan Syarif Madinah.

Di sana tarif pelacur buat sekali kencan paling murah 600 riyal. “Ada yang 600 riyal sampai 700 riyal,” ujarnya. Di pelacuran berkelas ini jarang orang Indonesia singgah untuk mencicipi layanan ranjang dari negeri sendiri.

C. Job Sampingan TKW Indonesia

Merdeka.com – Beginilah penampilan temannya Yun. Dia kini lebih trendi. Tidak kelihatan seperti pembantu rumah tangga. Giginya berkawat dan satu anting menggantung di lubang hidungnya. Sepatu bot ala koboi menambah gayanya.

Dua tahun lalu adalah kali pertama Yun menjadi pembantu rumah tangga di sebuah negara Timur Tengah. Dia menjalani pelatihan dan ditampung di Balai Latihan Kerja (BLK) di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Temannya itu terang-terangan menawari Yun menjadi simpanan majikan lelaki di Kota Jeddah, Arab Saudi. Dia dijanjikan fulus lumayan besar saban kali melayani nafsu bejat majikannya atau dibayar per tahun. “Jadi sudah ada perjanjian sama majikan lelakinya. Kalau majikan wanita sedang tidak di rumah, kita wajib melayani yang laki-laki,” kata Yun saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya kemarin.

Temannya asal Indramayu, Jawa Barat, itu sudah mempunyai jam terbang tinggi dan memiliki jaringan prostitusi terselubung antar majikan lelaki. Sebab dia sudah lebih dari sekali berangkat bekerja ke luar negeri.

Jika mendapati majikan tidak sesuai keinginan, Yun bisa langsung menghubungi temannya itu di wilayah Arab Saudi. “Kita dibilangin kalau nggak betah suruh kabur dan dikasih nomer telepon area sana,” ujar perempuan 26 tahun itu. “Biar nanti ditampung lagi sama madamnya.”

Menurut dia, di penampungan BLK, gahab, sebutan pelacur menyambi sebagai TKI, sering menawarkan kepada calon lainnya. Di Jeddah terdapat lokasi prostitusi terselubung khusus menyediakan pembantu-pembantu dari Indonesia buat memuaskan syahwat.

Apalagi di Ibu Kota Doha (Qatar) dan Ibu Kota Abu Dhabi (Uni Emirat Arab) terbilang lebih bebas dibanding negara lain di Timur Tengah. Tempat hiburan malam sudah bisa diakses secara umum. Di sana banyak pelacur asal Indonesia berkedok pembantu rumah menjajakan diri.

Bayarannya cukup menggiurkan. Sekali bercinta dengan majikan, pelacur Indonesia bisa memperoleh sekitar Rp 1 juta atau Rp 20 juta dalam melayani nafsu bejat setahun.

Namun tidak sedikit pelacur berkedok pembantu ini tertipu diusir majikan perempuan karena tertangkap basah bersetubuh dengan suaminya. “Banyak juga ditipu, dikasih cek kosong sama majikan pas mau balik ke Indonesia. Ada juga sampai terlunta-lunta jadi gelandangan,” tutur Yun.

Yun menolak ajakan temannya. Dia memilih jalan lurus dibanding menjalani pekerjaan haram itu. Usai lebaran Yun kembali mendaftarkan diri untuk bekerja di Abu Dhabi.
Beruntung dia mendapatkan majikan baik tanpa harus melayani nafsu bejat majikan lelakinya. “Banyak kok teman-teman lain begitu jadi pembantu sekaligus simpanan. Saya sendiri tidak mau.”

D. Yang Melatar Belakangi

Merdeka.com – “Saya dibuang oleh majikan saya. Dia telah mencabuli saya,” kenang S, 26 tahun, buruh migran asal Cianjur, Jawa Barat, di Arab Saudi saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya pekan lalu.

S masih ingat betul jejak kelam tiga tahun lalu saat dia pertama kali menjadi pembantu rumah tangga di Negeri Petro Dolar itu. Janda beranak satu ini harus menjadi korban kebiadaban majikannya. Selain diperkosa, gajinya selama bekerja tidak dibayar. Lantas S dibuang di sebuah pasar di Kota Jeddah.

Beruntung, pekerja dari Indonesia menemukan dia. S kemudian diajak ke penampungan TKI ilegal di Jeddah. Tanpa fulus sepeser pun, S berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Nyaris putus asa, dia terpaksa menerima tawaran sebagai pelacur (syarmuth dalam bahasa Arab). “Pagi-pagi saya ditelepon buat melayani lelaki Pakistan,” ujar S. “Sore saya dipanggil lagi, 2-3 jam saya di luar lalu kembali ke penampungan.”

Sejak saat itu S hampir saban hari menerima panggilan lewat telepon seluler dari seorang mucikari untuk menjadi pemuas syahwat pria Bengali. Tarifnya sekali main bervariasi, mulai 200 riyal hingga 500 riyal.

Pelacuran di Saudi memang terselubung dan dijalankan melalui jaringan pertemanan. Maklum saja, sebagai negara menerapkan syariat Islam, Saudi bakal menghukum mati lelaki dan perempuan berzina.

Tapi sudah menjadi rahasia umum banyak tenaga kerja wanita dari Indonesia di Negeri Dua Kota Suci itu menjadi pelacur. Mucikarinya pun sesama TKI. Biasanya mereka mengontak TKI dengan sampingan sebagai pelacur.

Ujang, 30 tahun, seorang pekerja swasta di Jeddah membenarkan ada TKI merangkap pelacur di Saudi. Dia mengatakan para TKI itu disebut dengan kosongan alias ilegal tanpa dokumen resmi. Namun dia juga menyebut jika banyak TKI resmi justru beralih menjadi syarmuth saat datang ke Arab Saudi.

“Ada yang berangkat pakai dokumen resmi, sampai sini di rayu untuk menjadi syarmuth karena uangnya besar,” kata Ujang saat dihubungi melalui telepon selulernya pekan kemarin.

Awalnya Ujang memang tidak percaya ada TKI menjadi pelacur di Arab Saudi. “Memang terselubung, sekilas seperti tidak ada. Tapi ini benar-benar ada,” ujar Ujang sudah tujuh tahun menetap di Jeddah sejak dikirim dari perusahaannya di Cikampek, Jawa Barat.

E. Custoumer Care, Dari Buruh Sampai Melayani Raja-Raja Arab

Perilaku Lelaki Arab

Bagi kebanyakan orang, hidup di Arab Saudi memang tidak adil. Ketika polisi syariah ketat berpatroli buat menjaga ketertiban moral, para pangeran di Negeri Dua Kota Suci itu malah tenggelam dalam lautan dosa.

Situs pembocor WikiLeaks menggelontorkan bocoran sangat mengejutkan sekaligus miris. Para pangeran keluarga kerajaan Saudi kerap menggelar pesta, berjejal dengan pelacur, minuman beralkohol, dan narkotik.

Sejumlah pejabat Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jeddah, Saudi, menceritakan soal pesta Halloween, Oktober 2009 digelar di rumah seorang pangeran dari keluarga Al-Thunayan di kota itu. Acara hura-hura itu jauh dari sifat halal. Minuman beralkohol dan para pelacur melimpah di vila-vila dijaga ketat di kompleks rumah sang pangeran.

lebih dari 150 lelaki dan perempuan Saudi hadir dengan kostum khas pesta Halloween. Kebanyakan berumur 20-an dan 30-an. Tidak sembarang orang bisa datang. Hanya yang namanya tertulis di meja pendaftaran bisa melewati penjagaan di luar rumah sang pangeran. Tempat pesta dirancang seperti klub malam. Ada bar penuh minuman keras dan pemandu musik.

“Minuman beralkohol sangat dilarang oleh hukum Saudi banyak tersedia di bar,” tulis WikiLeaks, seperti dilansir surat kabar the Guardian, Desember 2010. Tentu saja hanya tersedia minuman berkelas, seperti vodka Smirnoff seharga Rp 3,8 juta sebotol. Tetamu menikmati koktail disajikan para pelayan asal Filipina. Mereka juga bergumul dengan perempuan-perempuan pemuas syahwat. Pokoknya surga dunia.

Seorang penggila pesta asal Amerika, Martin Quinn, mengungkapkan kehidupan para pangeran Saudi memang sudah terbiasa hidup bebas seperti di dunia Barat. “Mereka akrab memakai kokain dan mengisap ganja,” ujarnya.

Menurut sejumlah diplomat, para pengawal pangeran Saudi kebanyakan lelaki Nigeria atau dari negara-negara Afrika lainnya. Mereka sudah bekerja sejak pangeran masih kecil dan biasanya seumuran sehingga kesetiaan mereka tidak perlu diragukan.

Seorang pemuda Saudi mengatakan pesta-pesta besar sudah menjadi kecenderungan di Saudi. Bahkan, sejak beberapa tahun lalu, hura-hura itu digelar saban akhir pekan di rumah orang-orang super kaya. “Karena masyarakat kami makin konservatif, pola interaksi telah pindah ke dalam rumah,” ujar seorang lelaki Saudi dari kalangan papan atas.

Terjawab sudah apa yang mengganjal di pikiran ini semasa duduk di bangku MTS dan sama-sama kita ketahui, hukuman bagi para pezinah di Arab Saudi itu Rajam sampai mati, anehnya justru yang menjadi pelaku sekaligus penikmat itu adalah pangeran-pangeran Arab Saudi itu sendiri. Hukuman berat ternyata tidak menjadi jaminan untuk mengurangi angka prostitusi di Tanah Suci. Apa lagi negara yang tidak memiliki Peraturan serta ketegasan hukum? Entah jadinya seperti apa…….
( Dari berbagai sumber )