Hai Wanita, Siapakah yang Lebih Hina?!!

Selepas Sholat Subuh, belum juga fajar Shodiq terlihat di ufuk Timur, seperti biasa aktifitas saya mengamati recent update yang mondar-mandir di contact BB dan akun facebook. Bukan karena KEPO, tapi bagi saya pribadi ini adalah kesempatan saya untuk mengamati dan mempelajari sikologis seseorang dan apa yang tengah mereka hadapi, untuk dijadikan bahan saya menulis artikel. Diantara status yang memenuhi wall akun facebook, saya temukan status, “Alhamdulilah kalo kamu udah dapet yg terbaik dari aku,,, semoga kamu bersama dia langgeng Trs ,, dan semoga perempuan itu tidak seperti aku ,,,” status ini saya temukan dari akun bernama, Sushi Nurhalimah.

Belum lagi curhatan seorang mitra kerja, yang sudah sekian lama pacaran, harus kandas lantaran egois masing-masing…Emmmm…atau jangan-jangan si Pria sudah memiliki pasangan baru? Sekalipun, taruh saja namanya Rani. Dia gadis yang cantik, supel dan mudah baginya untuk mencari pasangan lain. Tapi aneh, kenapa seorang Rani tak mau mencari pengganti?! Mungkin karena kekecewaannya yang sudah tidak bisa ia bendung, harapan dan impian tuk menjalin hubungan sampai ke pelaminan hanyalah mimpi disiang hari.

Lebih ironis nasib Laela, gadis yang baru saja masuk ke dunia kerja, ia harus dirawat secara intensif di ruang ICU, lantaran berusaha ‘bunuh diri’ dengan memotong urat nadinya. Nau’dzubillah min Dzalik…Penyebabnya tak lain, kekecewaan yang teramat dalam dengan seorang lelaki yang sudah satu tahun sembilan bulan mereka jalani hubungan seperti muda-mudi pada umumnya. Kandas, hanya diduga sang pacar memiliki WIL. Hingga apa yang seharusnya tak seorang Laela berikan sebagai wanita yang menjunjung kehormatannya,yah, memberikan apa yang tak seharusnya ia berikan dan belum tentu sang pacar akan menjadi pendamping hidupnya kelak.

360 derajat, dibanding dengan apa yang dialami Manda ( Bukan nama aslinya ) dia terperosok ke dalam lembah hitam, sebagai ‘penjajah selimut malam’ semula memang saya tidak tahu bahwa ia adalah seorang penjajah jasa kehangatan, hanya lantaran kita ketemu di sebuah warung pinggir jalan di pusat kota Bandung. Ada percakapan yang menurut saya logis dan cukup ‘menyentil’.

#Seteleh saya tahu dia seorang pramunikmat#

Saya : ( Melanjutkan pembicaraan yang sudah setengah jalan ) “Kenapa memilih profesi ini?”
Manda : “Saya begini karena ulah suami maaas….”
Saya : “Kok suami disalahin? Kurang menafkahi?!”
Manda : “Ninggalin saya dan anak begitu ajaaaa. Dia pikir kita ini sampah?!”
Saya : “Sabar….”
Manda : “Kalaau dibilang sabaar, sayaa orang orang ke tujuh versi on the spot perempuan tersabar maaas….”
Saya : ( Waaah, bisa ngelawak juga nih cewek ) “Tapi apa iyaa nggak takut dosa? situ masih mudah looh!! Masih kuat tuk mencari nafkah di luar profesi sekarang ini.

Manda : ( Sambil menghisap roko mild dalam-dalam ) Dosa…dalam kamus hidup saya seakan sudah menjadi sahabat. Apa kabarnya mereka-meraka yang mencampakan istri dan anaknya begitu saja?! Lahirnya disakiti, apa lagi batinnya! Terus apa lelaki hidup belang memikirkan anak-istirnya juga?! Apa orang seperti saya masuk dalam kriteria pendosa dan dipandang hina?! Toh pada kenyataanya saya mencari nafkah untuk anak saya. Tidak mengemis dan meminta-minta belas kasihan, tidak merepotkan orang tua saya dan lelaki biadap satu itu ( mantan suaminya yang ia maksud), yang saya lacurkan badan saya, tidak dengan agama saya dan tidak dengan ayat-ayat Tuhan saya. Dimana dosa-dosanya orang seperti kami? Mencari pelanggan pun tidak kami paksa, maaau yaah kita ngamar, tidak maau yaah tidak saya paksa.

Saya : ( Mulai tertarik dengan pembahasannya, saya yakin Manda lulusan jenjang pendidikan yang cukup tinggi ) Dulu kuliah?
Manda : “Yaaah saya kuliah.”
Saya : “Apa tidak rugi dengan apa yang kamu sudah miliki dan apa yang sudah kamu punya sekarang serta profesi yang kamu pilih dalam hidup?!”

Manda :”Kalaaaau dibilang rugi….Rugi pasti ada Mas. Lebih rugi mana ? Anak yang perawan yang dihabisi keperawanannya oleh pacarnya yang hanya dijanjikan komintmen palsu dan angin syurga, setelah dipakai dan dibuang begitu saja, dan kebiasaan lelaki kalau sudah puas dengan yang satu dia akan mencari mangsa baru. Cuma modal tiket bioskop, hang out sana-sini dan dibelikan sepotong baju, cek in. Nggak ada harganya bukan? Dibandingkan saya, yang kasarnya jual diri untuk anak dan orang tua saya. Sedangkan gadis-gadis yang ditidurin pacarnya, apa yang mereka cari? Kesetiaaan? Bulshit, komitmen untuk menikahi? Hanya angin syurga. Wanita bagi pria seperti itu tak ada bedanya dengan sampah. Atau permen karet, manisnya hilang tinggal buang, enaaak yaah jadi cowok?!”

Saya : ( Kehabisan kata-kata sepertinya sudah terlalu akut kebencian Manda dengan lelaki ) “Tidak semua yang kamu pikirkan itu sama Manda, banyak juga suami-suami yang dicampakan oleh istrinya, tetapi mereka tidak memukul rata, bahwa semua wanita sama saja. Tidak sedikit juga, istri-istri yang selingkuh. Kembali ke diri kita masing-masing lagi, dan dasar agama yang kita miliki. “

Manda : “ Cukup ok pemahaman agama mas, atau jangan-jangan mas juga termasuk orang yang menjual ayat-ayat Tuhan? Demi keuntungan?!! Hahahaha….”

Saya : ( Ikut tertawa ) “Insyallah nggak laaah,…dan saya pun jauh dari kata sempurna dan masih jauh dengan istilah orang alim. Hahahahaa…”

Pembicaraan kami terhenti, mengingat malam kian larut dan rasanya cukup menjadi bahan ide yang saya mau tulis, perkenalan dengan sosok seorang Manda, meninggalkan jejak hikmah yang perlu dan layak untuk dijadikan pelajaran.
 Tidak semua orang yang terlihat dan didiskriminasikan oleh lingkungan serta dipandang hina, tidak memiliki sisi kebaikan yang orang lain tidak ketahui.
 Setiap manusia mempunyai cara lain untuk menuju Tuhan-nya.
 Betapa ruginya, pasangan-pasangan yang menjalani hubungan tanpa ada arah dan tujuan yang pasti, dan terikat dalam komitmen semu. Bualan-bualan dan janji-janji palsu dari mereka yang hanya meng-ingin-kan enak-nya saja tanpa berani mempertanggung jawabkan atas perbuatan yang berdampak kepada psikologis pasangan hidupnya.
 Tidak akan pernah tercampur, yang baik dengan yang buruk, dan yang halal dengan yang haram.
 Satu kutiban dari Syaikh Islam, Ibn Taimiyah pernah membahas tentang
pertentangan antara kebaikan dan keburukan sebagai berikut:

“Kalau kebaikan itu betul-betul mendatangkan manfaat
sekaligus wajib dikerjakan, dan jika ia ditinggalkan
akan mengandung bahaya, tetapi pada saat yang sama
dalam keburukan juga terhadap bahaya, sedangkan dalam
perkara yang makruh ada sebagian kebaikan, maka
pertentangan itu dapat terjadi antara dua kebaikan
yang tidak mungkin digabungkan antara keduanya.
Sehingga kebaikan yang dianggap lebih baik harus
didahulukan atas kebaikan yang kurang baik. Atau,
pertentangan itu juga bisa terjadi antara dua
keburukan yang tidak mungkin dihindarkan keduanya,
sehingga harus dipilih keburukan yang lebih ringan
bahayanya. Selain itu, pertentangan juga dapat
terjadi antara kebaikan dan keburukan yang keduanya
tidak dapat dipisahkan karena kebaikan itu, jika
dilakukan akan mendatangkan keburukan, atau jika
keburukan itu ditinggalkan akan mengakibatkan
ditinggalkannya kebaikan. Sehingga untuk kasus
seperti ini harus dipilih yang lebih baik di antara
manfaat kebaikan dan bahaya keburukan.”

Wallahu’alam…
( Hasan Al Bana A Lubis )