POLIANDRI ‘Dibolehkan’ ?

Riwayat ‘pancawala’ menjadi titik sejarah dan juga menjadi embrio munculnya istilah Poliandri, dalam sejarah hindustan. Dimana Bima berhasil memenangkan sayembara yang diselenggarakan kerajaan Drupada, dengan hadiahnya adalah putri kedaton, demi membela sang kaka Yudistira, Bima pun turun dalam pertarungan melawan Gandamana, hingga akhirnya pertarungan tersebut dimenangkan oleh Bima. Singkat cerita, Yudistira begitu patuh kepada ibunya, apa yang menjadi petuah sang Ibu ia turuti.

Mencari pasang sepatu aja bingung, apa lagi mencari lebih dari sepasang.

“Ya sukurlah anakku ibu selalu mendoakanmu….hadiah tersebut jangan kau nikmati sendiri, tetapi adik-adikmu juga kau beri sehingga semua ikut merasakan nikmatnya hadiah itu…”

Sampai akhirnya, sejarah ini dijadikan sebagai dogmah ajaran tertentu dan seprti meng’iya’kan dan membenarkan bahwa poliandri itu dibolehkan. Tanpa menelik sedikit kesalahan sejarah. Bahwa sang ibu tidak tahu, hadiah tersebut adalah putri kerajaan. Begitu juga Yudistira yang selalu membenarkan titah sang ibu.

Di sebuah desa terpencil di Himalaya, sejarah poliandri pun tertulis disana, begitu juga di belahan bumi terpencil seperti Tibet, parktek berbagi istri dengan saudara kandung semata-mata demi menjaga harta keluarga, walau pada akhirnya tidak sesuai dengan kenyataannya. Bentuk poliandri persaudaraan sangat sederhana. Yakni dua, tiga, empat, atau lebih saudara bersama-sama memiliki “istri” yang sama. Istri yang dimaksudkan adalah wanita meninggalkan rumahnya untuk datang dan tinggal bersama mereka. Secara tradisional, pernikahan diatur oleh orang tua, untuk anak-anak, terutama perempuan, memiliki sedikit hak atau tidak sama sekali untuk menentukan kepada siapa dia akan menikah.

Apakah Poliandri dibolehkan dalam Islam ?

Trend Poliandri seakan menjadi ‘balasa dendam’ bagi sebagaian atau pernyataan minoritas yang berteriak ketidak adilan Poligami. Mengapa Poligami dibolehkan sedangkan poliandri tidak diperbolehkan? Apa ini disebut keadilan ?!

Jika genetik menjadi permasalahan tersendiri, kaum minoritas wanita modern menganggap sudah ada test DNA yang mudah diperoleh jadi dengan begitu mudah juga untuk menentukan anak siapa nantinya. Lalu mengapa Islam mengharamkan ?

Inilah Ijma’ yang tidak membolehkan wanita Poliandri :

a. Islam Memuliakan Wanita
Apa namanya jika wanita gonta-ganti pasangan?
Peradaban Romawi, perempuan dapat diperjualbelikan. Sedangkan peradaban India menganggap bahwa perempuan adalah makhluk najis karena mereka tidak berhak hidup jika suaminya meninggal dunia.

Pemeliharaan harta anak yatim dan isyarat monogami demi kemaslahatan perempuan (An-Nisa: 2-3), pemberian mahar untuk perempuan (An-Nisa: 4), dan keseimbangan hak waris untuk lelaki juga perempuan (An-Nisa: 7).

b. Hikmah Yang Allah Titipkan Pada Wanita

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, namun wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu lelaki‘, ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat hikmah dari Allah Ta’ala kepada mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap kemaslahatan makhluk-Nya. Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dari kebalikan sifat tesebut. Syariat Islam pun disucikan dari hal-hal yang berlawanan dengan hal itu. Andai wanita dibolehkan menikahi dua orang lelaki atau lebih, maka dunia akan hancur. Nasab pun jadi kacau. Para suami saling bertikai satu dengan yang lain, kehebohan muncul, fitnah mendera, dan bendera peperangan akan dipancangkan” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65)

Hal Miring Tentang Poliandri

1. Jika yang menjadi kekhawatiran adalah percampuran nasab, bukankah sekarang sudah ada tes DNA?

Syaikh Abdullah Al Faqih hafizhahullah menjawab pertanyaan ini: ”Poliandri dapat menjadi sebab terjangkitnya berbagai penyakit berbahaya seperti AIDS atau yang lainnya. Selain itu, tidak adanya keteraturan dalam rumah tangga karena tidak adanya patokan nasab dan anak-anak pun menjadi kacau. Adapun pemeriksaan medis yang sebutkan itu (cek DNA), tidak bisa dipastikan 100%. Sehingga tidak bisa menjadi sandaran secara syar’i dalam penetapan nasab atau dalam mengingkarinya”. (Fatawa IslamWeb no.112109, http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=112109)

2. Kalau lelaki punya keinginan kepada banyak wanita karena alasan syahwat, bukankah wanita juga punya syahwat?

Ibnul Qayyim berkata, “Jika ada yang berkata ‘Mengapa hanya memperhatikan dan mengangkat sisi kaum lelaki saja, serta hanya memenuhi kebutuhan syahwat lelaki saja sehingga mereka bisa berganti dari istri yang satu kepada istri yang lain sesuai kebutuhan syahwatnya? Padahal wanita juga memiliki panggilan syahwat‘. Kita jawab, wanita itu sebagaimana kebiasaan mereka wajahnya terlindungi oleh cadar dan berada di rumah-rumah mereka, gejolak mereka pun lebih dingin dibanding laki-laki, pergerakan lahir dan batin mereka lebih sedikit dibanding laki-laki, oleh karena itulah lelaki yang diberi kekuatan dan gejolak panas yang merupakan kunci penguasaan syahwat. Itu diberikan kepada laki-laki dalam jumlah yang lebih besar. Bahkan kaum laki-laki pun mendapat cobaan karena hal itu, sedangkan wanita tidak. Sehingga dimutlakkan bagi laki-laki berupa banyaknya jumlah pernikahan yang bolehkan (dalam satu waktu) sedangkan wanita tidak. Ini adalah hal yang dikhususkan dan dilebihkan oleh Allah untuk kaum laki-laki. Sebagaimana juga Allah utamakan mereka dalam hal pengembanan risalah, kenabian, khilafah, kerajaan, kepemimpinan hukum, jihad dan hal lainnya.

Allah juga menjadikan lelaki pemimpin bagi wanita, yang berkewajiban menjaga maslahah istrinya dan menjalani berbagai resiko dalam mencari penghidupan istrinya. Mereka menunggang kuda, menjelajah gurun, menghadapi berbagai bencana dan ujian demi kemaslahatan sang istri. Allah Ta’ala itu Syakuur (Sebaik-baik Pemberi Ganjaran) dan Haliim (Maha Pemurah). Sehingga Allah memberi balasan kepada kaum lelaki berupa kebolehan berpoligami, dan mengganti segala kesusahan mereka itu dengan membolehkan hal-hal yang tidak dibolehkan bagi wanita. Dan anda yang berkata, jika anda membandingkan antara cobaan bagi lelaki berupa lelah-letih, kerja keras, kesusahan yang dialami kaum lelaki demi masalahat istrinya dengan cobaan yang dialami kaum wanita yang berupa kecemburuan, anda akan dapatkan bahwa apa yang dialami kaum lelaki itu jauh lebih besar kadarnya. Inilah salah satu bentuk sempurnanya keadilan, kebijaksanaa dan kasih sayang Allah Ta’ala. Segala puji bagi Allah sebab memang Dialah yang memiliki segala pujian” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65-66)

3. Syahwat wanita lebih besar dari syahwat lelaki

Karena syahwat wanita lebih besar dari lelaki, maka bagi wanita tidak cukup hanya satu suami. Demikian bunyi salah satu syubhat. Ibnul Qayyim membantah pernyataan ini: “Adapun perkataan seseorang bahwa syahwat wanita lebih besar dari syahwat lelaki, ini tidak benar. Syahwat itu sumbernya dari hawa panas. Hawa lelaki lebih panas dari wanita. Namun wanita, jika ia sendiri, kesepian, dan ia tidak bisa menahan diri dari hal-hal yang berhubungan dengan syahwat dan memuaskan dirinya, maka ia pun dapat ditenggelamkan oleh syahwat sehingga syahwat menguasai dirinya. Ketika tidak ada hal yang dapat menjadi pelampiasan, bahkan disertai perasaan kesepian, maka bisa terjadi apa yang terjadi. Sehingga ketika itu disangkalah bahwa syahwat wanita lebih besar dari laki-laki. Ini tidak benar. Telah dibuktikan bahwa lelaki bisa mencampuri istrinya lalu mencampuri istrinya yang lain dalam satu waktu.

كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي اللَّيْلَةِ الْوَاحِدَةِ
‘Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam biasa menggilir istri-istrinya dalam satu malam‘

Bahkan Nabi Yusuf Sulaiman menggilir 90 orang istrinya dalam satu malam. Dan sudah kita ketahui bersama bahwa wanita biasanya hanya memiliki satu kali klimaks. Jika seorang lelaki telah memuaskan seorang wanita, hingga terpenuhi syahwatnya, dan hilang nafsunya, wanita tersebut tidak akan meminta yang lain ketika itu. Maka, sifat demikian sesuai dengan hikmah dari takdir Allah dan hikmah ketetapan syariat bagi hamba dan ummat” (I’laamul Muwaqqi’in,2 )

Kesimpulan

a. Keakuratan dari DNA fingerprint dapat diragukan mengingat DNA fingerprint tidak selalu unik. Belakangan ini penelitian mengkonfirmasikan bahwa hasil analisis DNA di laboratorium bisa saja berbeda antara satu lab dengan lab yang lain. Di beberapa tempat analisis yang digunakan tidak memenuhi standar testing yang seragam dan kualitas kontrol. Disamping itu bisa saja terjadi kesalahan dalam menginterpretasikan hasil data. Hal ini lebih didasarkan pada human error.

Di Amerika sendiri pihak FBI telah menyusun suatu data base nasional mengenai informasi genetik yang dikenal dengan sistem indeks DNA nasional. Data base dalam sistem ini mengandung DNA yang berasal dari pelaku kriminal dan barang bukti yang ditemukan di TKP.

b. Islam Memuliakan Kedudukan Wanita, yang anehnya jika praktek poliandri itu dianggap sebagai bentuk keadilan atas adanya poligami hukum waris terhadap anak akan menjadi dilema besar dan cukup menguras tenaga serta waktu jika praktik tersebut dilegalkan. Islam begitu menjunjung tinggi derajat wanita, ironis jika yang dijaga kehormatannya, menanggap hal ini bentuk ketidak adilan bagi kaum wanita.

c. Emosi Pria itu lebih Tinggi
Tidak kebayang jika setiap hari rumah tangga hanya meributkan kecemburuan satu dengan yang lainnya. Kalau wanita itu mudah menahan emosinya, tidak dengan pria, apa jadinya jika dua atau lebih kekuatan pria menjadi satu untuk menyerang satu dan yang lainnya? Bisa jadi dalam waktu seminggu hanya satu hari damai, dan enam harinya gencatan senjata terus. Belum lagi secara sikologis dan biologis bagi wanita sendiri. Apa jadinya, jika satu hari itu kedua atau ketiga atau keempat pria meminta untuk berlaku adil dalam berhubungan intim. Nah, bisa dibayangkan sendiri yaah?! Belum lagi masalah anak dan mengurus rumah tangga, karena sudah disibukan dengan urusan biiii…oooo..loooo…gis saja.

Jadi, jauh sebelum wanita meneriakan tentang keadilan. Islam sudah menyusun SOP yang begitu rapih baik di Al-Qur’an dan Hadits serta ijma’ pada ulama. Semata-mata demi kemaslahatan umat. ( Wallahu’alam )