Bersyukur Dalam Kemiskinan

#Bersyukur Dalam Kemiskinan#

“Ada nggak yah orang yang bersyukur dalam kemiskinan?! Maaf ane hanya bercanda.” Guyon seorang aktifis UIN Syarif Hidayatullah ( Jkt )

Seharusnya ada orang yang bersyukur dengan kemiskinan. “Loh kok?!!”

Satu kebiasaan yang sering saya lakukan ketika Ghiro ikhtiar ini sedang menurun yaitu jalan di perumahan mewah dan melihat-lihat bentuknya yang super megah. Dari situ timbul semangat kerja akan tumbuh lagi. “Saya harus bisa dapatkan itu semua.” Yah, karena diri ini terlahir dari keluarga yang jauh dari konsep keluarga memiliki masa depan. Tidak juga terlahir di tengah keluarga akademisi. Semua itu tidak menyudutkan diri untuk pasarah dengan keadaan. Dan pura-pura bersahabat dengan takdir.

Kemiskinan bukan hal yang membuat kita berkecil hati. Justru terlahirnya diri ini di lingkungan yany hanya sekedar cukup makan hari ini, itu suatu anugrah yang tidak semua orang mau memangku jabatan sosial sebagai ‘si miskin’.

Dari kemiskinan itulah kita dipacu untuk kreatif bertahan hidup, kreatif untuk berpikir bagaimana diri ini bisa lulus sekolah yang pantas. Dan dari kemiskinan, jiwa itu dewasa, dewasa dari masalah hidup, dewasa dari himpitan kesulitan.

Kemiskinan mengajarkan bagaimana kita harus mandiri, kemiskinan mendidik kita bagaimana harus berpikir bertahan hidup, minimal dari kemiskinan jiwa ini kaya, kaya akan pengalaman, kaya dengan kepahitan hidup, kaya dengan keimanan, sebab kemiskinan mengantarkan kita untuk berusaha semaksimal mungkin mendekat kepada yang MAHA KAYA.

Namun bukan berarti kemiskinan melarang kita untuk bergaul dengan si kaya, dari si kaya kita bisa belajar APA YANG DISEBUT KEBAHAGIAAN menurut kacamata si kaya. Apa dengan kelimpahan harta mereka bahagia?? Apa dengan lengkapnya fasilitas dalam dan luar rumah mampu membuat si kaya bahagia? Jawabnya, tidak semua si kaya merasakan kebahagiaan seperti si miskin rasakan.

Boleh mereka kaya harta, boleh dikatakan DIGIT dalam buku tabungannya lebih dari enam, tujuh, delapan atau sembilan angka, tapi apa layak dijadikan barometer kebahagiaan??Tidak, banyak dari mereka yang hidup dalam tekanan, ketakutan dan tingkat STRES yang lebih tinggi dibandingkan si Miskin.

Mereka gelisah harus menjaga hartanya..
Mereka khawatir apabila hartanya berkurang…
Mereka ketakutan jika kehilangan harta yang bertahun-tahun dicari…
Mereka tidak nyenyak dengan tidurnya…

Kasarnya Kemiskinan dan kekayaan hanya sebatas ‘STATUS SOSIAL’ BUKAN STATUS Kebahagiaan, bukan?

Naaaah, adanya si kaya berkat adanya mereka yang hidup dalam kemiskinan SOSIAL bukan miskin kebahagiaan. Si miskin harus bersyukur lahir dalam kemiskinan dan tak perlu menghujat takdir, si kaya pun jangan merasa bangga dan menganggap HIDUP KITA BAHAGIA, justru belajarlah pada si miskin bagaimana mereka hidup dengan pemikiran-pemikiran yang sederhana….”Masih adakah sesuap nasi yang masih bisa untuk di makan?”

View on Path