Aku Bagaimana kamu ( Husnudzon )

“Untuk melakukan satu kejahatan, ada jalan untuk sampai ke sana…Mengapa anda tidak yakin dengan segala kebaikan yang anda lakukan, dan apakah adil jika Tuhan tidak menjawab dan meluruskan jalan kebaikan yang anda tuju?!”

Kalau bicara tentang berprasangka baik dengan Tuhan, sama hal nya dengan ‘seberapa yakin-nya kita bercaya bahwa Tuhan itu memang ada!” Dan ini lebih mendekati kepada nilai ketauhidan pribadi masing-masing seorang hamba. Dan pada umumnya, pembahasan tentang hal ini sering kita temukan dalam berbagai pertanyaan-pertanyaan di tengah umat yang tak lain menyangkut prihal mengenai ‘mengapa sampai detik ini do’a kita tak pernah terjawab?!” Perhatikan hadits berikut ini, dan coba cermati, ada ketentuan yang menjadi acuan bagaimana agar do’a terjawab.

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479, hasan)

Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai

Ini menjadi clue bahwa ada hati yang lalai ketika berdoa, dalam disiplin ilmu agama ini masuk dalam bab pembahasan ghaflat (lalai). Al-ghafla al-sahwu ‘an al-syai ada yang terselip dalam pikiran kita tentang apa-apa yang yang semula kita ingat, terungkap lagi ketika kita berdo’a, dalam artian sesuatu pemikiran yang mencemari keyakinan kita bahwa Allah akan menjawab apa-apa yang kita pinta.

Kalau ditelaah lebih jauh lagi, disiplin ketauhidan-lah yang menjadi kunci bukan saja disaat kita berdoa melainkan dalam setiap tindak dan tanduk kebaikan yang kita lakukan dengan penuh keyakinan yang mantap pasti Allah akan menjawab dalam kurun waktu tertentu, dan ingat rangakian do’a yang kita mohon kan pada Tuhan, sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan apa yang menjadi keinginan, sebab keinginan itu lebih cendrung kepada hasrat hawa – nafsu dan keegoisan yang kita miliki dan menjadi karakter dasar ketamakan dari manusia.

“Sekiranya manusia memiliki satu bukit berupa emas, maka ia menginginkan untuk memiliki dua bukit (emas). Dan tidak akan ada yang dapat memenuhi keinginan manusia kecuali tanah (setelah manusia dikubur). Dan Allah akan mengampuni siapa saja yang bertaubat kepadanya. (HR. Bukhari).

Dan dalam menyikapi serta adab berdo’a perlu ada keterkaitannya dengan seberapa besar rasa syukur kita dengan apa yang sudah Allah berikan. Apa pantas ketika kita sudah diberikan Allah rezeki untuk memiliki sebuah kendaraan roda doa, tetapi kita tak puas dengan apa yang sudah Allah berikan saat ini. Jika motor itu dirawat dengan baik, diberikan apa yang menjadi hak bagi si motor kita penuhi kewajiban tersebut, apakah Allah tidak akan menambahkan dan penuhi apa yang menjadi kebutuhan kita?! Pastilah, jika kita sudah bersyukur dengan apa yang sudah diberikan, maka Allah berjanji akan menambahkan lebih dan lebih lagi karunia nikmat tersebut. Jika kita tidak menysukuri dengan apa yang sudah Allah berikan, Ia pun mengancam dengan adzab yang teramat pedih.

Logika sifat Allah ada pada Ibu Kita

Diusia kelahiran bayi sampai dengan usia empat bulan, sebelum menginjak usia tersebut maka asupan nutrisi pada baalita hanya berupa cairan, Bayi mengenal makanan padat pertama pada umur 4 bulan, sebelum 4 bulan hanya boleh mengkonsumsi cairan. Makanan padat pada umur 4 bulan adalah : bubur tim, bubur susu, bubur yang sudah diblender. Artinya pada umur 4 bulan makanan padat pertama bayi masih harus benar-benar lembek belum boleh yang keras karena pencernaan bayi masih sangat halus.

Umur 8 bulan, bayi sudah boleh mengkonsumsi bubur tanpa disaring atau diblender, sudah boleh makan bubur biasa. Umur 12 bulan atau 1 tahun bayi baru boleh makan nasi. Karena pada umur itu pencernaan bayi sudah siap, jika dipaksakan sebelum usianya akan merusak pencernaan bayi.

Seperti itu-lah sifat Allah, ia akan memberikan apa yang menjadi kebutuhan hamba-nya, jika dipaksakan ada kemungkinan bahwa si hamba akan lalai dari ibadah dan mengingat Allah. Atau bisa saja akan timbul rasa ujub dan takabur yang tinggi. Atau bisa jadi, ada kemudharatan yang akan menimpah hamba-nya dan itu bukan sifat Allah, yang menginginkan kemudharatan pada hamba-Nya.

Jika do’a belum juga dijawab...
Percayalah Allah rindu suara kita yang tetap basah dengan mengagungkan Asma-Nya….Dengan begitu bertambahlah tingkat keimanan kita.

Jika doa belum terjawab….
Ada sesuatu yang lebih indah kelak kita dapatkan….Jangan memaksakan kehendak dari apa yang sudah Allah gariskan untuk kita, maka akan terjadi hal-hal yang mudharat menimpah kita, bahkan lebih dahsyat dari ketidak mampuan diri ini.

Jika doa belum terjawab juga….
Allah mengajarkan kita untuk evaluasi, seberapa ikhlasnya kita dalam ibadah? Seberapa yakinkah kita dengan ketentuan yang menjadi Qadr nya Tuhan?!

Jika doa belum terjawab juga….
Belajarlah dan interpoksi diri, adakah penyakit hati dalam diri kita? Adakah sesuatu keyakinan yang menggoyahkan hati akan keimanan yang kita miliki dan perlu dijaga.

Jika doa belum jua terjawab…
.
Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Mathlubi. Tuhan Hanya Engkaulah Yang Ku Maksud Dan Redha Mu Yang Kuharap.
‘Atini Mahabbataka Wa Ma’rifatka’ Ajari aku untuk mencintai Mu dan Menganal Mu

Jika doa sampai detik ini belum terjawab…
* ALLAAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MIN QOLBIL LAA YAKHSYAA.
Ya ALLAH jauhkan aku dari pada hati yang tidak pernah khusyu.
* WAMIN NAFSIL LAA TASYBA’U
Ya ALLAH jauhkan aku dari pada nafsu yang tidak pernah merasa puas.
* WAMIN ‘ILMIL LAA YANFA’U.
Ya ALLAH jauhkan aku dari pada ilmu yang tidak bermanfa’at.
* WAMIN DU’AAIL LAA YUSMA’U.
Ya ALLAH jauhkan aku dari pada do’a yang tidak di dengar.