Perempuan ( Yang ) Kalah Dengan Lemper

“Tau lemper?!!Itu Loh, kalo seharian belum makan namanya ‘lemper’-kan?!”
“Laper itu maaaaaah!!!” Tegas Nisa
“Laper bukannya nama penyakit yang disebabkan organ hati yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya?!”
“Ituuuuuuuuuu liveeeeeer!!!!”Nisa kembali membenarkan pernyataan saya yang salah.
“Liver bukanya nama lain penjaga gawang?!!”
“Itu kipeeer. Mas, masih pengen hidup-kan?!”
“Masih-laaaah!!!”
“Yaudah kalo masih pengen hidup jangan ngeselin.”
“Loh? kok?!!”
“Bahasan kita tentang lemper, kenapa jadi jadi ngebahas liver sama kiper?!!Lama-lama kita barantem!!!” Disini Nisa sudah terlihat geram sambil memegang gagang sapu.

“Hehehee…Piiiiis! Sabar yah Nisa, jangan biarkan cantik mu hilang lantaran emosi.”
“Gombal!”
“ Baiklah berhubung kamu sudah esmosi, kita lanjutkan pembahasan beda lemper, kiper dan liver. “

Nisa,…
Dalam wikipedia dijelaskan apa itu lemper, Lemper adalah sebangsa penganan yang terbuat dari ketan dan biasanya berisi abon atau suwiran daging ayam, dan terbungkus oleh daun pisang. Penganan ini terkenal di seluruh Indonesia sebagai pengganjal perut sebelum memasuki tahap makan besar. Pembuatan lemper mencakup persiapan daging ayam dan mengetim ketan (bisa dengan santan). Selanjutnya, daging ayam yang sudah disuwir dibungkus dengan ketan, lalu ketan ini dibungkus lagi dengan daun pisang, selanjutnya dikukus. Terdapat variasi dari lemper, yang menggunakan pembungkus bukan daun pisang tetapi krep (crepe) yang dikenal sebagai semar mendem. Orang mengenal pula arem-arem yang menggunakan nasi alih-alih ketan.

Rasanya kamu lebih tahu tentang lemper, tetapi tak perlu jauh-jauh membahasnya dan jujur apa lagi saya ditanya bagaimana cara membuat-nya, karena saya bukan Rudy Chaerudin yang mempunyai seribu jurus cara memasak dan menyiapkan menu handalan.

“Sebenar-nya ini buku menu masakan atau buku apa siih?!!”Nisa sudah tak sabar.

“Ok, kita mulai bahasan kita. Sebelumnya saya mau cerita, don’t go any way!!”
Minggu pagi, disaat sebagaian orang menikmati weekend¬-nya dengan menambah jam tidur, justru kali ini saya coba untuk membuktikan kata-kata bijak yang pernah saya temukan di footnote di salah satu buku tulis, Men Sana in Corpore Sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Saya pun membaur dengan ratusan bahkan ribuan manusia yang sadar arti-nya hidup sehat, walau sebagian ada yang hanya mencari tempat sarapan, atau numpang mejeng.
Kali ini tempat yang saya tuju di kawasan Gelora Bung Karno, walau jarak rumah begitu jauh dibutuhkan waktu satu jam perjalanan, jika menggunakan kendaraan roda dua. Lumayan tiga kali putaran keliling komplek GBK cukup membuat perut lapar, kalau ditambah empat kali putaran mungkin mirip sa’i mengelilingi Ka’bah. Daripada terserang penyakit liver ( maksa kan?!!) saya mencari makanan pembuka yang kebetulan tempat dimana saya rehat itu menjual kue basah, saya pilih lemper dan sebotol air mineral.

Bukan pemandangan yang aneh melihat pakaian minimalis saat lari pagi, entah mencari kenyamanan atau berniat memperlihatkan bentuk tubuh, hanya hati mereka yang mampu menjawab jujur. Selang beberapa menit muncul di depan saya seorang wanita mengenakan pakaian dengan model style ‘krisis tekstil.” Lelaki mana yang tidak berdecak melihat tubuh yang diumbar bebas tanpa dipungut biaya, mungkin yang tua jompo pun mendadak melotot jika disuguhkan pemandangan seperti itu. Benar – benar cara berpakaian yang tak lazim bagi kebanyakan wanita di negeri ini, yang serat dengan budaya timur. Cukup sekali memandang dan basahi bibir ini dengan istighfar.

Di samping saya ada sekelompok remaja belia, hampir semuanya berkomentar miring tentang wanita yang baru saja melintas di depannya.

“Wew!!” Itu yang terdengar jelas ditelinga saya dan ada yang nekat bersiul di depannya.
Ada yang berdecak, “ Ckckckck…” Dan ada pula yang berucap seronok.
Rasanya tak perlu berlama-lama, sambil membayar lemper, saya pun berhak bertanya harganya.
“Berapa harga lempernya Mba?”
“Mas makan dua, jadi dua belas ribu sama air-nya.”
“Lumayan mahal harga lempernya,” Gumam saya dalam hati dan kembali mengingat wanita yang sempat saya lihat.

Terlintas di kepala satu ayat yang membuat saya sedikit berjaga-jaga.

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat ” (QS. An-Nur ( 24 ) :30)

Nisa,…
Sebagai hikmah dari lari pagi dan obrolan kita tentang lemper, begitu santunya Allah mengingatkan wanita.

“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” ( QS. An-Nur ( 24 ) : 31 )

( Catatan dalam buku “Wahnan ‘ala Wahnin’ ( Wanita Karyawan Tuhan) SEGERAA!!!)