Selamat Tinggal Cinta Semu

Seorang teman, sekaligus adik bagi saya tiba-tiba chat dan menceritakan keluh dan kesahnya, begitu lamanya dia mencintai dan mengasihi seorang gadis yang boleh dikatakan ‘ruh atau energi’ dia dalam menitih karir dan ikhtiarnya. Hati ini merasakan betapa berat hari-hari yang ia akan alami, disaat orang yang ia cintai melepas komitmen yang sudah dipupuk jauh hari. Rencana tuk mengikat janji dalam ijab-qabul hancur begitu saja, lantaran 1001 alasan yang pasangannya berikan hanya sebuah angin syurga, 1002 dalil dikeluarkan sebagai bentuk alasan bagaimana caranya untuk melepas sebuah janji, berlahan-lahan melepaskan komitmen tersebut. Innalillahi…

1

Sebagaimana dalam buku saya, No More Broken Heart ( Jatuh Cinta Berjuta Pahalanya ), ada ulasan yang saya buat, Keletihan hati menahan semua rasa cemburu, curiga, rindu yang menyesakan dada, mau rasanya menangis sejadi-jadinya, teriak sekeras-kerasnya, meluapkan semua emosi. Tubuh tak mampu lagi menopang badan, kepala tak kuasa menanggung beban pikiran, dia,dia dan dia lagi. Setiap detik jarum jam berdetak, bayangan dan sejuta kesal merasuk di setiap syaraf otak di kepala. Batin begitu tersiksa, sesak memburu jantung.

“Tuhaaaaaannn, aku tak kuasa menahan sesak ini semua….”

Menggerutu dalam hati, umpatan tertahan di bibir karena cinta yang kita miliki tak kuasa untuk menyudutkannya, menuntut hak kita kepada orang yang kita cintai,” coba sedikit kau rasakan apa yang kini aku rasakan, berikanlah aku waktu tuk aku sandarkan kerapuhan hatiku…mendekatlah sayang, dengarlah suara hatiku yang menjerit memintamu tuk bisa mencintai seperti aku mencintai kamu, seperti aku yang tersudut di sunyinya malam menahan sesak karena aku merindukanmu. ADAKAH KAU RASAKAN,APA YANG AKU RASA?!!”

Tak cukupkah air mataku, sebagai isyarat Aku Cinta Kamu, Tapi tak kau rasakan itu?!
Kelopak mataku tak mampu lagi bercerita tentang tetasan dan guratan sembab, tak henti nanarnya memandang bayang-bayang semu tentang dirimu, sosok yang aku sandarakan segala keluh, sahabat yang aku harapakan mampu menemani disaat aku lunglai nanti, yang kelak aku patrikan keikhlasan mendampingimu sampai nanti rambut kita memutih, sampai nafas kita tersengkal tak mampu mengucapkan kata-kata indah, seperti sediakala saat aku butuh kamu manja. Tetapi mata ini, akan mengatakan itu semua, bahwa ku mencintaimu.

Tak perlu kau paksakan andai tak mampu memberikan itu semua.

Walau aku hanyalah pasir yang terhapus hujan….

Hadirku tak pernah kau anggap, candaku yang tidak menenangkanmu, perhatianku yang kau anggap menyita waktumu, izinkan dan berikan aku kesempatan tuk berbisik di telingamu,”Saaayaaang, satu hari nanti, malam akan merindukan kehadiran bintang…walau bintangku tak terang…satu hari nanti gemuruh hujan akan menanti senyum pelangi yang membias hitamnya gemawan…seperti kau saat ini, disela-sela kesedihanmu, pasti kamu membutuhkan sosok yang mampu memelukmu hangat. Dalam kesibukanmu, pasti kau akan merindukan suara-suara yang semula kamu anggap menyita waktumu. Saat itulah kau akan merasakan, orang yang kamu sudah sia-siakan, kini tak ada lagi di sisimu.”

Apa pengaharapan itu sampai disini?!

Pengharapan itu tidak sampai disini saja, ketahuailah apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk bagi Tuhan, dan apa yang menurut kita baik belum pasti Tuhan merestui kebaikan tersebut. Bisa jadi, kita dipertemukan dengan orang yang salah untuk kita belajar bagaimana menghargai waktu, bayangkan berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya memikirkan Cinta yang bersifat nisbi, yang seharusnya waktu tersebut mampu menjadikan kita manusia produktif harus terkuras habis pikirannya hanya untuk menjaga sebuah komitmen palsu. Sadarilah, Allah sendiri bersumpah demi waktu, berarti ada makna yang tersirat dari pesan yang Tuhan ingin tunjukan betapa berartinya waktu, yang mampu menggores dan melukai kita.

Wake up, dan mulai-lah cinta itu ‘melek mata’ dan lupakan alibi fitrah cinta yang berdiri di atas kesemuan belaka, nisbi dan hanya sementara. Rekontruksikan kembali puing-puing cinta yang sudah hancur berkeping-keping, gapai kembali kemampuan-kemampuan yang Tuhan anugrahi untuk kita, asah kembali skill tersebut dan jadikan waktu lebih berharga, ketahuilah lelaki hebat hanya diperuntukan bagi wanita-wanita hebat pula?

Jangan psimisi dengan komitmen yang sudah diingkari, anggaplah pasangan kita itu bukan pasangan yang hebat dan buktikan bahwa kita mampu mendapatkan yang lebih baik darinya, ketika kita sudah temukan yang lebih baik, inget! Belajar pada kejadian yang telah lalu, ikatlah dia dengan ikatan cinta yang sejati,dalam Ijab dan Qabul.

Mulailah menabung, menyisihkan penghasilan yang kita dapatkan, seiring dengan kita memperbaiki waktu yang sudah terbuang sia-sia, seiring itu pula belajar untuk perbaiki diri, yakinlah bahwa pasangan yang Tuhan ingin berikan untuk kita, ia tengah memperbaiki dirinya sendiri. Percayalah, Allah akan adil dan maha menghitung kesakitan yang telah kita dapatkan, stop untuk balas dendam dan membencinya. Serahkan semua itu kepada-Nya, dialah sang Maha Pecinta, yakin dan pasti apa yang anda rasakan hari ini, akan ia rasakan dikemudian hari.

Mulailah menata hidup baru, hapus kesedihan dengan bermunajat pada Allah, hapus air mata dengan sholat taubat. Ssssssst…..mulai detik ini jangan lagi lisan-mu basah dengan menyebut dan memanggil namanya, gantikan dia dalam dzikir dan mengucap Asma-asma Allah yang mulia dan biasakan untuk membaca Al-Qur’an, bukan one day-one juzz, cukup satu ‘ain satu hari jika itu lebih ringan dan mampu kamu lakukan serta ikhlas menjalankan. Satu hal, jangan pernah kau ingat lagi masa-masa indah yang berujung pada cerita duka, tataplah hari esok nan bahagia, sebab kekasih yang Tuhan berikan itu ada di pelaminan, bukan di restauran mewah, bukan juga di studio cinema, bukan pula di pinggir jalan dan tempat yang gelap untuk memadu kasih. Hakikatnya cinta sejati itu, ada diantara sujud-mu dan munajat do’a yang kau panjatkan.

Dengan begitu, maksiat pun berkurang, hati terlepas dari hasat, su’dzon atau berburuk sangka baik dengan si mantan, maupun dengan Tuhan.

Cukup dan cukuplah sudah menganggap Ini Tidak Adil, justru seperti inilah cara Tuhan memanggil untuk kita kembali ke pelukanNya. Allah pun rindu, lisan mu yang selalu basah menyebut dan memanggil-manggil namaNya, dengan begitu hati akan tenang dan pikiran pun jernih menata serta merenda hari esok yang lebih baik dan lisan mu akan berucap, “ Selamaaat Datang Cinta Sejatiku, Selamat Tinggal Cinta Semu….Ya Allah, terimakasih atas anugrah-Mu telah mempercayai diri ini untuk memangku amanah-Mu, jadikanlah ia pasangan yang menyejukan hati, penguat langkahku untuk senantiasa mendekati ketaqwaan, maafkan atas kelalain hamba untuk mencintai orang yang salah dan justru menjauhkanku untuk mendekati-Mu, Yaa Raaaab…..”

Lihat juga Video ini :http://www.youtube.com/watch?v=WqEv3_Z79SE

dan juga ini : http://www.youtube.com/watch?v=omEpDlo6URI