Tuhan Pun Tak Mau Dimadu ( Selingkuh )

Dalam Perjalanan, Jakarta-Bandung duduk di sisi kanan saya seorang remaja belia. Seperti biasa, sengaja kursi paling belakang menjadi tempat favorit yang saya pilih, bukan tanpa alasan sebab di sisi kiri-lah saya bisa menikmati pemandangan, sebagai cara melepas kejenuhan. Dan menjadi kebiasaan saya, selalu kepo dengan siapa pun yang duduk di samping, pembuka pembicaraan tak lain saya selalu bertanya darimana? Dan mau kemana?!

selingkuh

Singkat cerita, ia merelakan waktu, tenaga dan materi hanya untuk menemui kekasihnya yang tinggal di Jakarta. Setiap Minggu, ia luangkan waktunya berkunjung ke rumah kekasihnya tersebut. Pembicaraan ini berlanjut, sampai akhirnya saya mendalami karakter si kekasihnya itu. Dasar ABG, apa yang menjadi perkiraan saya disampaikan kepada kekasihnya ( VIA SMS ) sampai kepada dugaan, bahwa sang pacar ternyata mempunyai ‘kekasih lain’ ( Back Sound ‘Manusia Bodoh-nya’ Ada Band ). Mungkin apa yang ia alami, pernah dialami pasangan muda lainnya.

Manusiawi rasanya jika manusia memiliki sifat tidak pernah puas, tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya sekarang. Sampai kiamat pun, bentuk pria – wanita itu yaah sama saja. Hanya berbeda pada paras dan rupa, itu pun bersifat nisbi. Jika orientasi mencintai seseorang berdasarkan bentuk fisik semata, sampai kapan pun tidak akan menemui titik kepuasan bukan? Dan sifatnya tidak abadi.

Perselingkuhan yang terjadi atau dialami siapa pun itu, menurut kacamata ketauhidan dianggap sebagai kemusyirkan cinta, sebab Tuhan sendiri tidak mau dimadu, sama hal-nya manusia yang didalam dirinya memancarkan sifat-sifat ketuhanan, salah satu-nya tidak ingin diduakan, maka dari itu dari kacamata ketauhidan sendiri, bahwa menduakan Tuhan itu sama-hal-nya musyrik. Begitu juga, manusia sendiri tidak suka diduakan bukan? Lalu bagaimana dengan play girls dan Playboy?! Pantaskah kita sematkan gelar musyrik juga?!

Sebagai penutup artikel singkat ini, mari sama-sama merenungkan Surat Al-Ikhlas Ayat 1

“Katakanlah tuhan itu satu…………..”

Rasanya pantaskah kita menduakan pasangan?! Lain hal nya dengan kema’sum-an seorang Muhammad dengan istri-istrinya ( Saran ; Silahkan membaca Poligami Halal )-Wallahu-‘alam-