Cerita Mengharukan Untuk Para Istri ( Mawar Putih )

Hanya selang beberapa menit menjelang tewasnya seorang pria, ia sempat menulis pesan singkat,”Aku masih di jalan.” Pesan singkat itu ia tujukan untuk sang istri.

image

Rupanya lelaki yang kesehari-hariannya hanya berprofesi sebagai tuka ojek ini, tengah mencari setoran lebih untuk sang istri yang hari ini tepat jam 12 malam nanti akan memperingati hari ulang tahunnya.

Ia berusaha mencari penghasilan lebih dalam satu hari tersebut, dikarenakan kondisi hujan lebat, ia merasa uang yang dihasilkannya belum cukup untuk membelikan kue ulang tahun serta kado, walau hanya satu pasang pakaian yang diinginkan seorang istri.

Karena ia tahu bahwa esok adalah hari ulang tahun sang istri, sengaja sebelum suara adzan subuh berkumandang, panggil saja namanya UMAR, secepat mungkin ia beranjak dari tempat tidur. Dalam keadaan belum sarapan, secangkit teh hangat pun tak ia temukan.

Takut membangunkan sang istri yang begitu nyenyaknya tidur, berlahan-lahan ia keluar rumah kontrakan dengan mengendap-endap, agar suara gaduh tak terdengar sang istri, sengaja ia mendorong motor bututnya dan menyalakannya sejauh mungkin, agar sang istri tak terganggu tidurnya.

Dari jam 6 pagi, tak satu pun penumpang atau sewa yang ia dapatkan. Di saku-nya hanya terselip selembar 2.000 rupiah, yang ia belikan satu gelas air mineral dan obat magh. Sepertinya, sudah menjadi kebiasaan Umar untuk mengganjal rasa laparnya.

Menjelang siang, baru-lah tanda-tanda ia akan mendapatkan rezeki terlihat, dengan senang hati ia mengantarkan perempuan rentah ketempat yang ditujuh, jauh dari tempat biasa Umar mangkal. Tak menjadi masalah baginya, semakin jauh maka semakin besar rupiah yang ia dapatkan.

Rupanya, rencana tak seindah kenyataan. Dengan memelas sang ibu rentah itu meminta maaf tidak dapat memberikan uang sewa yang jauh dari kata pantas atau layak. Umar pun menerima uang tersebut dengan suka cita.

Baru dapat satu sewa, hujan pun turun dengan lebatnya, dengan harapan cemas Umar menunggu hujan yang tak kunjung redah. Sewa yang diharapkannya pun otomatis tak ia dapatkan, ia berusaha menghibur diri dan menahan rasa lapar dan kedinginan.

Tepat pukul delapan malam, hujan sedikit redah, ia melanjutkan kembali ke pangkalan tempatnya menunggu sewa. Bensin yang ia cadangkan pun mulai habis, di sakunya hanya ada selembar uang 5000 yang ia terima dari ibu lanjut usia tersebut.

Sebagian ia belikan ‘tolak angin cair’ dan sisa nya ia simpan untuk tambahan membeli kue ulang tahun tuk sang istri. Pengharapannya pun muncul, ketika jam sembilan malam ia mendapatkan sewanya kembali. Sebelum jam 12 malam nanti, ia berharap sudah mengantongi uang seratus lima puluh ribu. Lagi-lagi, harapannya pupus, penumpang terpaksa membayar uang sewa tak setimpal, dikarenakan motor Umar mogok kehabisan bensin dan penumpang pun hanya membayar sewa sepertiganya saja dari tarif yang disepakati.

Istri Umar terus memburunya dengan pesan singkat dan terus menerus memarahinya, karena Umar telat pulang, sampai di penghujung malam. Uang yang ia dapatkan hanya mampu untuk membeli setangkai bunga mawar putih.

Walau hanya berprofesi sebagai tukang ojek tetapi Umar tidak kalah romantis dengan orang-orang berdasi dan mengenyam pendidikan tinggi. Ia membawa setangkai mawar putih yang ia beli di pasar pagi.

Lagi-lagi istri Umar memburunya dengan pesan singkat, kali ini sang istri sudah naik pitam dan tidak toleransi lagi, ia dapatkan pesan singkat. “Aku sudah nggak tahan hadapi keadaan seperti ini dan kesulitan hidup selama menjadi istri kamu. Maaf, aku pulang ke rumah orang tua aku.”

Kontan, Umar pun tak konsentrasi membawa kendaraannya, hingga di persimpangan jalan, sebuah kendaraan angkutan menabrak Umar. Hingga akhirnya Umar pun tewas di tempat dengan mengapit Handphone dan setangkai mawar putih.

“SELAMAT JALAN UMAR dan Mimpi yang terkubur menjelang hari Ulang Tahun sang Istri.”