Sebelum Memutuskan Untuk Menikah

Mungkin sudah segambreng artikel mengenai pernikahan, dan sudah banyak pendapat-pendapat ulama, para mustahid, serta ustadz-ustadz yang membahas itu semua.

image

Namun, sebagian besar dari kita masih kurang memahami arti, hukum dan management dalam pernikahan, sehingga membawa dampak kepada pernikahan premature dan rentan dengan perceraian.

Ini dikarnakan kurang memahami arti pernikahan itu sendiri, persiapan-persiapan sebelum menikah, tidak cukup rasanya hanya bermodalkan kedewasaan,dan nyali yang besar untuk melangsungkan pernikahan.

Jika diibaratkan, rumah tangga itu seperti pohon, agar tidak mudah goyah diterpa angin nanti, maka diperlukan akar yang kuat, karna dasarnya itu adalah akar. Untuk mendapatkan akar yang kuat perlu diketahui beberapa hal :
a. Karakter
    Ini adalah bagian pertama dari ujung akar yang harus dipahami. Kita harus membuat peta refrensi dan informasi, siapa calon kita, bagaimana karakteristiknya, bagaimana lingkungan keluarganya, lingkaran pertemanannya, sampai akhirnya kita tahu seburuk apa perangai si calon kita nanti, saudara-saudara terdekat, watak satu persatu kekuarganya, terlebih kedua orang tuanya yang kelak akan menjadi mertua kita nantinya.

Hati-hati dengan hama yang nantinya merusak perkembangan akar. Berikan akar tersebut nutrisi yang kaya akan mineral, mulailah antisipasi siapa-siapa saja yang kelak akan mengganjal prosesi pernikahan kita, dengan begitu anda bisa meminimalisir masalah atau setidaknya sudah mendapat gambaran dan cara kita menghadapinya nanti.

b. Materi

Mulailah mengumpulkan materi yang diperlukan untuk persiapan pernikahan, apa yang kita berikan menjadi simbol kehormatan si keluarga calon mempelai wanita nantinya. Jangan mengabaikan hal ini, karena ini pun menjadi dasar dari rumah tangga yang kelak akan kita bangun.

Berusahalah terbuka dengan apa yang kita miliki dan apa yang akan kita upayakan untuk memenuhui kebutuhan walimah. Jangan memaksakan diri mencari hutangan sana dan sini, selepas pernikahan kita dipusingkan untuk melunasinya.

Mulailah berpikir, setelah pernikahan anda tinggal dimana bersamanya. Persiapan inilah yang juga menentukan kekuatan akar pohon kita nantinya. Usahakan untuk mandiri sekalipun kita tinggal dikontrakan satu petak. Yang penting kita jujur dari awal dan waspadai janji-janji yang kita ucapkan, sehingga tidak menjadi bomerang nantinya.

Jangan janjikan hal-hal yang beraroma kemapanan, atau angin surga yang kita berikan kepadanya.

c. Pengetahuan

“Malu bertanya sesat di jalan”
Pepatah ini menjadi pedoman untuk kita, bahwa pengetahuan itu penting. Orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sama seperti berjalan di tengah kegelapan, apa pun yang ia temukan  ia akan pegang, sekalipun itu kotoran. Tersandung, tetapi tidak tahu cara mengatasinya.

Persiapan diri ini dengan bekal pengetahuan yang cukup, baik dari sudut pandang agama, sikologis, atau apa pun itu.

Laksana orang yang mau berpergian, ia harus mengetahui jalan mana yang ditujuh, persiapan yang matang, akomodasi yang memadai, dan kesehatan fisik yang dinilai perlu.

Dalam ajaran Islam sendiri, hukum pernikahan terbagi menjadi tiga, antara lain :

Pertama, wajib. jika seorang itu tak bisa menahan nafsu atau digolongkan dengan orang yang mempunyai nafsu yang benar-benar kuat hingga ada kemungkinan bakal terlilit maksiat (Zina serta beberapa hal yang mendekatkan dia kepadanya)

Kedua, sunah. Mereka yang telah cukup dapat/mapan dari sisi materil serta kematangan jiwa untuk menikah tetapi terus dapat menahan hawa nafsu yang dapat menjeratnya ke arah kemaksiatan,pezinahan. maka hukum sunnah berlaku padanya.

Ketiga, makruh. Jika seorang yang dapat untuk menafkahi calon istrinya lahir serta batin (materil serta moril) tetapi ditakutkan bila dia menikah cuma bakal membawa kemudaratan pada istrinya nantinya atau bisa diistilahkan dengan bahwasanya dia cuma bakal membawa penderitaan pada istrinya nantinya. Hal semacam ini juga berlaku pada mereka yang dapat menafkahi istrinya dengan cara lahiriah ( dapat dengan cara materi) tetapi tak dapat dengan cara batiniah (tak dapat melayani istri dengan baik).

Ke empat, haram. Jika sesorang tidak yakin untuk mampu membahagikan pasangan baik secara lahir maupun batin. Dan dinilai memiliki potensi ke-mudharatan atau keruskan. Misal, ia tahu bahwa dirinya mengidap satu penyakit yang mematikan dan mampu menular kepada istri dan anaknya kelak.

d. Management Rumah Tangga

Nah, ini yang menjadi perselisihan serta sumber penyebab retaknya rumah tangga. Hancurnya hubungan rumah tangga dikarenakan faktor ekonomi, kita tidak memahami peranan masing-masing dalam rumah tangga. Istri yang sering dan banyak menuntut, mendominasi dalam suatu keputusan. Dan lupa akan hak serta kewajiban masing-masing.

Suami yang tidak memiliki sumber pendapatan yang pasti, sedangkan istri harus menjalankan apa yang menjadi kebutuhan rumah tangga ( RT ). Intinya, dalam menghadapi masalah ekonomi dibutuhkan kesabaran dan toleransi dengan keadaan. Serta memahami satu sama lain, menutupi kekurangan masing-masing

Demikianlah beberapa permasalahan yang sering kali dihadapi dalam rumah tangga. Dan perlu menjadi catatan, bahwa seni serta tantangan dalam pernikahan itu, bukan saja sebelum berlangsungnya pernikahan tetapi masalah terhebat itu akan muncul setelah terucap ikrar ijab dan qabul.

Bagi yang belum menemukan tambatan hatinya, terus dan teruslah berbuat kebajikan, perluaslah silaturahmi dan buka-lah peluang bagi siapa pun yang memang ingin kita pinang dan meminang. Jangan salah menentukan pilihan, “kalau salah memilih calon presiden mungkin menyesal 5 tahun. Tetapi tidak untuk urusan pernikahan, sesal kemudian seumur hidup.”

Akhirul kalam, wallahu’alam….
Follow @akualbana