‘Emak’ Pipiet Senja, Di Mata Saya

Seksi Sepintas Nama

Sudah lama saya sering melihat nama beliau, terpajang disederet karya tulis, mulai dari ‘majalah anak-anak’ ( Sorry, enggan menyemut merk dagang) sampai novel-novel yang menurut saya beraroma ‘Langit’. Dus, namannya begitu seksi dan manja, Pipiet Senja, entah dari mana beliau mendapat nama secantik itu.

Sampai-sampai tangan ini iseng, nge-add sebuah akun yang itu pun semacam Lucky draw bagi saya, biasanyaaa kalau nama public figure banyak yang dimanfaatkan oleh pelaku online shop atau sejenisnya. Silahkan searching nama beliau, maka akan muncul beraneka rupa wajah-wajah muda nan menawan.

image

Pernah ada foto profil seperti ini, seksi yaah? Waaah, naluri lelaki saya muncul melihat foto sedemikian cantiknya, tanpa pikir panjang saya add.
Sudah cantik, pinter pula…” Dalam Hati
Bergegas saya add.

First chat beliau,”Hasan AlBanna sastrawan sumatra?” Betul, karena memang saya ada darah Sumatra, ternyata memang ada 2 penulis yang sama dan berdarah sumatra dengan nama yang sama juga, serta profesi yang sama pula.

Hingga pada satu waktu, saya dan Bunda Pipiet Senja bersepakat untuk KOPDAR di HB.Jassin, Taman Ismail Marjuki. Daag…dig…dug..nyess…gilaaa seorang AlBana pertemu muka dengan seorang penulis yang dari sejak saya kenal aksara di bangku SD. Suatu kehormatan bagi saya….

Alhasil, dengan segala keterbatasan kami pun bertemu dengan agenda pengelolaan naskah-naskah milik Andy Wasis, mendiang meninggalkan karya-karya hebatnya, sempat saya diwariskan sebuah naskah sebelum beliau wafat, pertama tentang RASULULLAH, kisah Muhammad SAW dan satu naskah beliau yang Hebat, ‘Peta Sejarah Islam.’ Dalam bentuk layout yang begitu menarik. Sampai detik ini saya tidak ambil naskah warisan beliau.Yang saya diberikan amanah untuk diselesaikan…( Maaf, eyang…saya sempat cari alamat tetapi lupa.)

Waktu yang dinanti akhirnya tiba, saya bertemu dengan Bunda Pipiet senja…”Ajeegileee…ketemu penulis hebat euuuy….” Jujur, setelah Pipiet Senja saya berharap bisa bertemu juga Djenar Maesa Ayu. Si penulis ‘nakal’ bagi saya. Sebab memang karya ‘gadis’ itu cukup kress…renyah.

Balik lagi ke pertemuan saya dengan Si pemilik nama yang seksi. Ternyata untuk kesekian kali saya merasa tertipu dengan akun sosmed. Orang yang tempo hari chat dengan saya itu sudah memasuki pintu senja, hahaha…maaf…bercanda tetapi bukan kekecewaan itu yang berkesan, justru karena saya bangga bisa bertemu dengan wanita hebat, saya kenal beliau dan tidak mau tahu apa yang sudah beliau capai hari ini. Justru, kelok perjalanan yang terjal membuat ia menjadi seorang sastrawan hebat.

Saya Pun Tersipu Malu.

Dengan keadaan beliau yang tengah sakit seumur hidup ini dan  terus cuci darah rutin tetapi karya-karyanya begitu Dahsyat,hebat.

Saya benar-benar malu hanya punya beberapa buku saja, padahal saya masih muda dan sehat. Sedangkan beliau begitu sibuk dengan aktifitas sosial dan menulisnya sampai beliau bisa terbang ke seluruh bumi nusantara, bahkan sampai tembus belahan dunia. Sedangkan saya?? Jauh banget dari beliau. Waktu yang masih banyak, badan yang masih sehat tetapi minim karya.

image

Rencana tinggal rencana, lagi-lagi Penulis memang belum ada ruang di negeri ini. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, menulis bukanlah pilihan memperkaya diri. Atau sekedar melengkapi kebutuhan sehari-hari. Alhasil, saya memilih profesi menjadi tim kreatif untuk promosi dan event.

Mengandalkan royalty tidaklah cukup, dan itu pun harus menungunggu 2 bulan atau 3 bulan mendatang. Itu pun kalau penerbitnya tidak lupa. Tidak ada ruang bagi penulis di negeri ini. Syukurlah, bagi saya pribadi banyak belajar tentang lika-liku dunia penulis dan kesedihan nya dari seorang ‘emak’ Pipiet Senja. Bahkan lebih naas, dari pengalaman yang saya rasakan. Tetapi keistiqomahan atau ketekunan itulah yang sekarang beliau dapatkan, air mata menjadi mutiara.

Beliaulah tempat saya belajar tentang keikhlasan dalam berkarya. Beliau guru motivasi bagi saya untuk eksis di dunia tulis. Kalau boleh saya mengutip kata dari Ahmad Rifa’i Rifan, Hidup Sekali Berarti Lalu Mati.’

Yang terpenting adalah karya….

Mutiara itu Bernama, KETEKUNAN…

Sudah sering saya menemukan berbagai penulis dengan ragam gaya dan karakter yang berbeda-beda. Baik yang senior maupun junior, mulai dari specialist autobiography sampai penulis artikel, seperti saya…hehe..

Ada beragam karakter yang saya temukan, contoh saya kenal seorang penulis skenario sinetron atau pun film, namun cara penyambutannya berbeda ketika saya ingin mendalami dunia tulis, dan ada juga mafia skenario yang pura-pura ada tawaran buat skenario anak-lah dan ini serta skenario itu lah. Ujung-ujungnya bilang,”Skenario tidak diterima.” Tak lama dan entah waktu tidak ditentukan skenario itu akan muncul, entah muncul dinegeri mana dan siapa yang memasukannya.

Saya belajar dari seorang Pipiet Senja, tentang :

1. Ketekunan

    Air matanya mungkin sudah habis untuk mengeluh, peluhnya pun saya rasa sudah Baal, kebal dengan keperihannya dalam menulis. Beragam penerbit dan cara bayarnya pun sudah ia rasakan, sampai-sampai Emak pernah meminta uang dari hasil nulisnya untuk membiayai hidup dan berobatnya.

Tetapi beliau begitu eksis dan istiqomah, tekun dengan karyanya. Masih banyak cerita lain yang saya pun belum mendengar sepenuhnya.

image

                 40 Tahun Berkarya

2. Dia ‘Teroris’ Bagi Para Penulis Muda..

Kalau anda seorang penulis pemula, silahkan sekali waktu diskusi dengannya, pasti diberondong dan ditagih karya-karyanya, dan beliau sering mengumpulkan dan menyemangati penulis muda.  Beliau begitu mengayomi, seakan-akan tempat kita mengeluh masalah penerbit dan biasanya beliau merefrensikan orang untuk kita dekati.

Karena beliau begitu familiar dengan para penerbit. Silahkan mencoba….

3. The Mother Of Author

Dia-lah Ibu bagi penulis, beliau begitu bersahajanya dengan siapa pun, baik yang baru ia kenal ataupun seprofesinya.

Supple dan mudah akrab dengan siapa pun, yang pasti begitu terlihat rumpi dan ramai.

image

Pengalaman beliau menembus jazirah dunia sastra. Amatlah cukup untuk beliau menyematkan gelar prof.  Walau terdengar berebihan, tetapi jika anda mengenal sosok dan jalan hidupnya, mungkin akan berkata sama dengan saya.

Yah, hanya itu yang dapat saya narasikan tentang sosok Pipiet Senja. Dan cukup inspiratif.

Pesan Mak Nini.

Jangan pernah menyerah dg karyamu, sering saya sampaikan demikian kepada para penulis pemula. Tidak perlu harus instant, semua butuh proses.

Pengalaman saya sejak 1974, menulis menulis dan terus saja menulis tanpa terpikirkan akan dapat honor, popularitas atau apalah apalah. Saya teror media lokal, koran di daerah. Setelah tiga tahun baru ada penerbit yg menemukan karya saya, minta naskah novel untuk diterbitkan.

Biru yang Biru, itulah novel perdana karya Pipiet Senja diterbitkan oleh Karya Nusantara di Bandung. Menyusul memoar Sepotong Hati di Sudut Kamar dua tahun kemudian.

Ketika teman seangkatan sudah berkibar spt KJ, Mira W dan Eddy D Iskandar dg karya mereka di majalah Ibu kota, saya masih tersaruk saruk sendirian di Cimahi. Maklum saya bukan mahasiswa bukan pelajar, hanya seorang pasien kelainan darah bawaan yg harus berjuang bertahan dg kondisi tidak stabil. Harus tetap semangat sambil berobat terus menulis cerpen sampai ribuan, saya sebarkan ke berbagai koran di pelosok Tanah Air. Sehingga dicemooh para senior, disebut karya Pipiet Senja sampah, kacang goreng dlsb nya.

Tak peduli dg segala ejekan, penolakan saya terus menulis menulis dan menulis. Hingga detak jantung berhenti, sampai kini tetap masih bernesra dg laptop, generasi si Denok versi era globalisasi.

Alhamdulillah sudah ribuan cerpen yg telah saya tulis, ratusan artikel dan ini sekarang sdg garap sebuah novel inspirasi berdasarkan kisah nyata seorang produser dan Raja Grosir di Pasar Tanah Abang finishing!

Alhamdulillah semua sama sekali tidak instan, wahai anakku! Pipiet Senja, penulis 186 buku kacang goreng, bukan sastra, apalah apalah, tetap patut disyukuri.

Ruang Tanya