JAKARTA PERNAH DIPIMPIN GUBERNUR KATOLIK ROMA.

Jauh sebelum isu SARA dihebuskan dalam peta perpolitikan DKI, Atmosfer itu kian memanas dan seakan Ibu Kota Tak menginginkan dipimpin oleh seorang pemimpin Non Mayoritas, walau pada kenyataanya Jakarta butuh pemimpin yang benar-benar mengaplikasian bukti kerja nyata.

Bukan sekedar pemimpin yang hanya menghabiskan uang negara untuk sebuah program kerja yang tidak pernah tersentuh bagi masyarakat atau rakyat jelata sekalipun.

Toh, pada kenyataanya jika ada yang terbaik bagi kesejahteraan untuk bersama, siapa pun itu dan dari latar belakang apa pun mereka, yang ibu kota inginkan Program dan agenda kerja yang PRO RAKYAT.

Dan jauh sebelum AHOK tersemati dengan isu SARA, Jakarta pernah dipimpin oleh seorang Gubernur yang berbeda latar belakang sosial, agama dan warna kulit.

Gubernur yang mendedikasikan Tugu Selamat datang dan kini menjadi icon Ibu Kota Jakarta rupanya memiliki latar belakang keturunan dari etnis tertentu.

Panggil saja dia, Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau yang lebih dikenal dengan nama Henk Ngantung adalah seorang pelukis Indonesia dan Gubernur Jakarta untuk periode 1964-1965. 

Henk merupakan seorang pelukis dan budayawan dari organisasi Lekra yang pada saat itu berafiliasi ke PKI. Sebagai pengurus Lekra ia juga memprakarsai berdirinya Sanggar Gotong Royong.


Sebelum menjadi Gubernur Jakarta, Henk dikenal sebagai pelukis. Bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani, ia ikut mendirikan “Gelanggang”. Henk juga pernah menjadi pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok 1955-1958. Henk di angkat sebagai Gubernur Jakarta pada tahun 1964, ia dianggap memiliki bakat artistik sehingga diharapkan mampu untuk menjadikan Jakarta sebagai kota budaya.

Setelah tidak menjabat, Henk mengalami krisis finansial yang cukup parah sehingga ia harus menjual rumahnya di pusat kota dan kemudian pindah ke perkampungan. Meski demikian, kesetiaan Henk melukis terus berlanjut meski dia digerogoti penyakit jantung dan glaukoma yang membuat mata kanan buta dan mata kiri hanya berfungsi 30 persen.

 

Pada akhir 1980-an, dia melukis dengan wajah nyaris melekat di kanvas dan harus dibantu kaca pembesar. Sebulan sebelum wafat, saat ia dalam keadaan sakit-sakitan, pengusaha Ciputra memberanikan diri mensponsori pameran pertama dan terakhir Henk.

Karya-karya pria pemeluk agama KATOLIK ROMA ini  masih bisa dinikmati khalayak seperti Dia juga pembuat sketsa Tugu Tani sebelum bangunan monumen di Jalan Ridwan Rais itu berdiri. Karya terakhir Henk adalah sebuah lukisan berjudul Ibu dan Anak.

 Oleh: Feronika

KARIR

  • Wakil Sekjen Lekra,
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta (1960-1964),
  • Gubernur DKI Jakarta (1964-1965)
  • Pelukis

PENGHARGAAN

  • Lukisannya yang bejudul ‘Digiring Ke Kandang, mendapat Hadiah karya lukisan terbaik dari Keimin Bunka Sidosho (1942)



    Baca Artikel Lainnya :

    AHOK WAJAH MUSUH ISLAM?

    ADOLF HITLER : ISLAM dan Al QUR’AN

    SUBHANALLAH, BOCAH INI MEMBUAT HARU METSOS.

    KARENA SUAMI PUN INGIN DIMENGERTI!

    GILA!!! MUNCUL RUMAH ANTI KIAMAT!

    Baca Artikel Lainnya :

    Karyawan Magang Gaji 89 Jt Hanya Di Sini!

    WOW!!!Dalam Waktu Satu Hari Penghasilan Wanita ini 663 Miliar

    Dahsyatnya!!Penghasilan Anak Supir Truk Triliunan Rupiah

    Terbongkar, Keaslian Injil

    Israel Panik Muhammad Lahir di Tanah Yahudi

    POLIANDRI DIBOLEHKAN

    SISI LAIN SEORANG IBU, DIA ROBOT….

    ADOLF HITLER, ISLAM dan ALQUR’AN

    FAKTA KERJAAN DAN PANGERAN ARAB

    Baca Artikel Lainnya :

    AHOK WAJAH MUSUH ISLAM?

    ADOLF HITLER : ISLAM dan Al QUR’AN

    SUBHANALLAH, BOCAH INI MEMBUAT HARU METSOS.

    KARENA SUAMI PUN INGIN DIMENGERTI!

    GILA!!! MUNCUL RUMAH ANTI KIAMAT!